Mapala Bukan Pembunuh

Kegiatan yang berorientasi pada sosial dan kemasyarakatan dengan semangat untuk bisa mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi serta kepencintaalaman,

Mapala Bukan Pembunuh
BPost cetak
Muhammad Roby 

Oleh: MUHAMMAD ROBBY
Sekum Kelompok Mahasiswa Pencinta Alam dan Seni (Kompas) Borneo ULM

Mahasiswa pencinta alam atau mapala, merupakan organisasi kemahasiswaan yang berkecimpung di dunia kepencintaalaman yang dominan bergerak di alam bebas. Aroma terapi ketika berada di puncak gunung, memandang eksotis negeri serta panorama kars menjadi kecanduan berat dalam dunia kepencintaalaman.

Mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan melakukan pengajaran, penelitian serta pengabdian masyarakat merupakan basis pergerakan nyata mahasiswa pencinta alam.

Kegiatan yang berorientasi pada sosial dan kemasyarakatan dengan semangat untuk bisa mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi serta kepencintaalaman, terus berkembang menjadi basis pergerakan yang kemudian melahirkan ide serta konsep “gila”. Kecanduan aroma terapi ketika berada di puncak gunung maupun suasana eksotis yang dirasakan ketika merayap di tebing alam, ternyata menimbulkan sebuah persepsi miring yang terus kami coba untuk bisa memahaminya karena ketidaktahuan mereka.

Semua itu pada akhirnya bertujuan untuk membentuk suatu kepribadian yang kuat dan berwawasan dalam membangun bangsa dan negara ini.

Jika kemudian ditanyakan mengapa kami melakukan semua itu? Ada kata-kata heroik yang pernah diucapkan oleh seorang anggota senior Mapala UI, yaitu Soe Hok Gie (alm) pada 1969. Dia mengatakan, patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan, seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat jika dia mengenal akan objeknya. Dan mencintai Tanah Air Indonesia hanya dapat tumbuh dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.

Terlepas dari konteks kejayaan pergerakan-pergerakan mahasiswa pencinta alam, maka tidaklah sedikit stigma terhadap organisasi tersebut. Trending topic awal 2017 yang datang dari Mapala Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dengan meninggalnya tiga orang mahasiswa UII Yogyakarta dalam kegiatan Diksar The Great Camping (GC) ke- 37 menjadi cambuk serta pikulan beban berat terhadap dunia pendidikan secara umum, serta organisasi pencinta alam seluruh pelosok negeri di Tanah Air secara khusus.

Monitoring Kegiatan Mahasiswa
Pendidikan dasar (diksar) di dunia kepencintaalaman memang sedikit mainstream terdengar di telinga kalangan mahasiswa. Berbagai pandangan pun mengalir, mulai dari persepsi perploncoan, senioritas, serta tindakan kekerasan.

Sesungguhnya, semua itu hanya sebuah phobia bagi individu yang tidak mengetahui seluk beluk organisasi kepencintaalaman. Sebagian individu hanya melihat dari sisi luar mahasiswa pencinta alam, semisal pakaian yang acak-acakan dan rambut gondrong yang teratur. Tetapi tidak pernah melihat secara langsung dari dalam.

Dalam proses diksar calon anggota diberikan materi keorganisasian dan kepencintaalaman indoor dan outdoor. Pada dasarnya, kegiatan outdoor-lah yang sering banyak memakan tenaga fisik serta mental. Dari sini peran civitas akademika sangat penting untuk memonitoring kegiatan kepecintaalaman.

Halaman
12
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help