Gizi Buruk Terus Terpuruk

KEJADIAN berulang meski terjadi penurunan jumlah penderita gizi buruk dibanding tahun 2015. Data terbaru angkanya 26,2 menjadi 21,8 atau

Gizi Buruk Terus Terpuruk
BPost Cetak
Ilustrasi 

KEJADIAN berulang meski terjadi penurunan jumlah penderita gizi buruk dibanding tahun 2015. Data terbaru angkanya 26,2 menjadi 21,8 atau terjadi penurunan sebanyak 4,4 poin. Meski demikian, permasalahan gizi buruk hingga kini masih menjadi permasalahan berat.

Berdasar prevalensi gizi kurang (underweight) bila lebih dari 10 persen dikatakan menjadi masalah kesehatan masyarakat berdasar versi WHO. Sementara Kalsel masih dalam risiko berat dengan prevalensi 21,8 persen sesuai Pemantauan Status Gizi (PSG) 2016.

Masih jauh dari yang sangat diharapkan pastinya. Lalu kenapa kejadian ini terus berulang setiap tahunnya. Apakah pemenuhan gizi di Bumi Lambung Mangkurat ini sedemikian parah? Jika dilihat kondisi perekonomian urang Banua, ini jadi pertanyaan karena Kalsel kaya sumber daya alam. Banyak petani yang punya lahan luas dan hasilnya cukup memuaskan.

Orang kaya di provinsi ini juga banyak. Lihat saja mobil-mobil mentereng produksi terbaru mudah ditemui. Bahkan ada pengusaha Banua yang mempunyai helikopter dan pesawat pribadi.

Lalu dimana salahnya? Kenapa masih banyak ditemui anak-anak yang kena kasus gizi buruk?

Dalam hal pemenuhan gizi, tak bisa hanya menyalahkan orangtuanya saja. Perhatian orang di lingkungan terdekat juga perlu. Seberapa jauh kepedulian warga sekitar. Tengok saja hbungan kekinian bertetangga. Tak jarang satu sama lain hanya tegur sapa seadanya. Uniknya bahkan tak tahu nama tetangga.

Nah, dalam hal gzi buruk, Dinas kesehatan juga memegang peran yang sangat penting. Institusi ini harus lebih aktif lagi melakukan sosialiasi dan gerakan hidup sehat di tengah masyarakat. Tentuya pula mendeteksi secara dini kemungkinan munculnya gizi buruk.

Jangan hanya menunggu kabar dan baru lah kemudian bertindak. Bahkan mungkin perlu ‘berburu’ kasus gizi buruk dan melakukan upaya untuk mengatasinya. Lebih dari itu harus mengupayakan kasus serupa tak terulang pada tahun berikutnya.

Apalagi anggaran untuk kesehatan oleh pemerintah terus ditambah dan menjadi perhatian lebih. Program pemerintah bidang kesehatan juga banyak. Kabar Kartu Indonesia Sehat (KIS) pun harus disikapi seberapa maksimal sudah dilaksanakan di lapangan.

Bukan hanya saat launching saja yang ramai acaranya. Selanjutnya, KIS hanya terselip di dompet tipis warganya. Memang tak benar juga bila kesalahan ditimpakan ke dinas terkait. Urusan gizi buruk kini bukan lagi perkara kecil. Sudah menasional dan di Kalsel sudah masuk tahap mengkhawatirkan.

Kalsel tak bisa lepas dari gizi buruk. Masih berpredikat sebagai provinsi dengan gizi bermasalah. Salah satu indikasi permasalahan gizi di Kalsel adalah kurangnya minat masyarakat memakan buah dan sayur. Predikat ini bahkan menjadikan Kalsel terendah se-Indonesia.

Sekarang saatnya semua pihak peduli terhadap gizi buruk. Tinggal kemauan dan kebersamaan untuk bergerak guna melakukan pencegahan. Ini lebih baik dibanding mengobati. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help