Pelaksanaan Proyek KTP-El Amburadul

"Kalau di Amerika itu kan social identitynumber. Bisa untuk kartu mahasiswa. Jadi kartu mahasiswa cukup NIK. Ini baik tapi pelaksanaannya amburadul"

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly mengatakan program KTP elektronik (KTP-El itu baik, namun pelaksanaannya menurutnya buruk. "Mengenai kebijakan, sebetulnya program itu baik ya. Mungkin pelaksanaannya enggak benar," ujarnya, Jumat (3/2).

Yasonna mengatakan bahwa pemberlakuan single identity number atau penggunaan berbagai fasilitas dengan menggunakan satu kartu ini cukup baik dan merupakan terobosan baru dalam pelayanan publik.

"Karena dulu disepakati jadi single identity number bisa dipakai pajak. Semua lah. Kalau di Amerika itu kan social identitynumber. Bisa untuk kartu mahasiswa. Jadi kartu mahasiswa cukup NIK. Ini baik tapi dalam pelaksanaan amburadul," kata Yasonna.

Soal kasus yang kini tengah diperiksa, Yasonna mengatakan dirinya sudah minta agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penjadwalan ulang untuk mendengarkan keterangannya. "Saya kan baru kemarin. Saya belum datang. Karena kemarin undangannya. Sore ada rapat tadi dengan ristek. Saya minta reschedule lah," katanya.

Komisi Pemberantasan Korupsi memanggil sejumlah anggota DPR dan mantan anggota DPR terkait kasus dugaan korupsi dalam pengadaan kartu tanda penduduk berbasis elektronik (KTP El). Beberapa orang yang dipanggil yakni politisi Partai Golkar Ade Komarudin dan Yasonna H Laoly yang kini menjabat Menteri Hukum dan HAM.

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka S (Sugiharto)," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah.
Yasonna akan diperiksa dalam kapasitasnya sebagai mantan anggota Komisi II DPR RI. Selain Yasonna dan Ade Komarudin, penyidik KPK juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tamsil Linrung. Kemudian, mantan pimpinan Komisi II DPR, Chairuman Harahap.

Selengkapnya baca Banjarmasin Post edisi cetak, Sabtu (4/2/2017)

Editor: Mahmud M Siregar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help