Banjarmasin Post Edisi Cetak

Sebelum Longsor Tewaskan Lima Warga, Aktivitas Penambang Emas Tradisional di Bajuin Nonstop 24 Jam

Lima penambang emas tradisional di Desa Bajuin Tanahlaut tewas tertimbun longsor yang terjadi Kamis (9/2/2017) malam.

Sebelum Longsor Tewaskan Lima Warga, Aktivitas Penambang Emas Tradisional di Bajuin Nonstop 24 Jam
banjarmasinpost.co.id/apunk
Lokasi tambang emas tradisional di Bajuin, Tanahlaut, yang mengalami longsor dan menewaskan lima orang penambang, Kamis (9/2/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Pada hari RABU (8/2) sekitar pukul 11.00, suasana Jalan Desa Bajuin Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanahlaut tak biasanya ramai. Terlebih jalan yang biasanya lengang, malam itu malah diwarnai riuhnya raungan sirine mobil ambulans.

Sontak, Angga, warga Desa Bajuin, pun heran. Dia sempat menyangka ambulans yang lewat dikarenakan adanya terjadi musibah kebakaran dan korban kecelakaan.

Tidak puas dengan perkiraannya itu, warga Bajuin ini pun menaiki sepeda motornya mengikuti mobil ambulans yang akhirnya berhenti di kawasan perkebunan karet.

“Saat itu saya lihat sedikitnya ada lima mobil ambulans. Ternyata belakangan saya ketahui mobil ambulan itu membawa korban longsor pendulangan emas,” ujarnya.

Proses evakuasi memantik banyak perhatian warga. Sejumlah anggota kepolisian dibantu warga terlihat berusaha mengevakuasi para korban yang tertimbun longsoran tanah di lokasi tambang emas.

“Saat itu saya dengar ada delapan pekerja terkena longsor. Sedangkan tiga di antaranya dinyatakan selamat, sisanya lima meninggal dunia. Tiga di antaranya korban tewas sempat mendapat pertolongan ke rumah sakit, tapi karena kondisinya tak mampu hingga akhirnya meninggal dunia,” terang Angga.

Perstiwa itu merenggut nyawa Nunui, warga Desa Bajuin, pemilik lahan sekaligus mesin pendulangan emas ilegal tersebut.

Diungkapkan oleh Angga yang juga merupakan aparat Desa Bajuin, sebelumnya aktivitas pendulangan emas kerap menelan korban jiwa. Tak terkecuali di kawasan Desa Bajuin, meski sebelumnya tak pernah menelan korban sebanyak itu.

Operasi penindakan oleh aparat kepolisian pun kerap dilakukan terhadap para pendulang. “Tapi mereka secara diam-diam tetap beroperasi. Kalau ditanya sejak kapannya beroperasi, saya sendiri kurang begitu ingat,” ujarnya.

Aktivitas pendulangan tidak hanya dilakukan pada siang hari saja, tapi juga memanfaatkan suasana sepi dan lengang pada malam hari. Para pendulang biasanya bekerja menggunakan penerangan berupa genset atau ‘headlamp’.

“Biasanya ada dua grup, untuk jumlah saya kurang begitu tahu. Kalau malam, biasanya mereka bekerja dari pukul 21.00 hingga subuh,” beber Angga.

Informasi yang diperoleh dari sumber yang tak ingin disebut namanya, insiden nahas Rabu (8/2) itu, para pendulang memang sudah memulai aktivitasnya sejak pagi. Mengakhiri pekerjaan biasanya sekitar pukul 18.00 Wita, Namun karena beberapa pendulang merasa kurang puas dengan hasil emas yang didapat, sehingga aktivitas berlanjut sampai malam hari.

Pantauan BPost di kawasan pendulangan emas Desa Bajuin, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanahlaut, Kamis (9/2) sore, nampak beberapa pekerja terlihat sibuk membantu aparat kepolisian mengevakuasi barang bukti penyebab kematian para pendulang emas.

Kapolsek Pelaihari, Iptu Matnor beserta jajarannya sibuk memantau dan menjaga lokasi pendulangan emas ilegal tersebut. Hanya saja saat hendak diminta dikonfirmasi, dia enggan berkomentar. “Silahkan konfirmasi langsung kapolres saja biar satu pintu. Sebelumnya kapolres sudah meninjau dan memberikan komentar langsung kepada beberapa awak media lainnya tadi pagi,” katanya dengan ramah. (gha)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help