Elpiji Tak Semanis Cokelat

Harga gas elpiji bersubsidi 3 kilogram di kisaran Rp 20 ribuan. Sementara harga elpiji tak bersubsidi 12 kilogram mencapai Rp 170 ribuan.

Elpiji Tak Semanis Cokelat
BPost Cetak
Ilustrasi 

SEBAGIAN orang memperingati hari Valentine tiap 14 Februari. Kabarnya, sejak 1840-an hari Valentine identik dengan cokelat, sesuatu yang manis. Sejak saat itu, hari Valentine hampir selalu diidentikkan dengan pemberian (kado) cokelat dari kekasih atau dari orang tercinta.

Namun, tepat di hari Valentine, 14 Februari 2017, kado yang diterima sebagian warga Kalsel justru bukan yang manis-manis. Warga Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Baritokuala, Balangan dan Kotabaru mendapat ‘pil pahit’ yakni sulit mendapatkan elpiji 3 kilogram.

Bayangkan saja, harga eceran tertinggi (HET) gas bersubsidi 3 kilogram yang ditetapkan Pertamina untuk di Kalsel di kisaran Rp 17.500 hingga Rp 18 ribu per tabung. Namun, sejak beberapa hari lalu akibat sulit didapat, pengecer mematok sampai Rp 40 ribu per tabung.

Kelangkaan elpiji 3 kilogram ini pengulangan kejadian pada Januari 2017. Saat itu, warga di beberapa daerah di Kalsel juga susah mencari elpiji 3 kilogram. Titik-titik kelangkaan pun di kota atau kabupaten yang sama.

Uniknya, Pertamina beralasan yang sama pula. Baik saat langka pada Januari 2017 maupun Februari 2017, sama-sama karena faktor cuaca. Tanker Pertamina kesulitan sandar di Depo Pertamina Kuin, Banjarmasin akibat gelombang laut yang tinggi. Bila ditarik ke belakang, pada akhir 2016 pun terjadi kelangkaan elpiji 3 kilogram.

Pasti ada hal lain yang jadi penyebab elpiji 3 kilogram dalam rentang waktu tiga bulan alami kelangkaan. Toh, Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Banjarmasin mengatakan, walaupun cuaca buruk, tidak ada larangan berlayar untuk kapal tanker Pertamina yang berbobot besar.

Ada sesuatu yang bikin distribusi itu tersendat. Misalnya, bisa saja ada orang yang memanfaatkan situasi seperti ini dengan menyetok gas 3 kilogram dalam jumlah banyak, lalu dijual lagi dengan harga per tabung berkali lipat.

Tapi, sebenarnya kelangkaan elpiji 3 kilogram pun dapat terjadi lantaran besarnya permintaan akibat disparitas harga. Pada Januari 2017 konsumsi elpiji Kalsel di level 7.118 metrix ton (MT) untuk gas tiga kilogram. Data itu naik 31 persen dari realisasi elpiji 2016 sebesar 5.440 MT.

Harga gas elpiji bersubsidi 3 kilogram di kisaran Rp 20 ribuan. Sementara harga elpiji tak bersubsidi 12 kilogram mencapai Rp 170 ribuan. Bedanya separuh lebih.

Jadi, sasaran pemerintah saat membuat program perpindahan (konversi) dari penggunaan minyak tanah ke gas sejak beberapa tahun lalu sudah mengalami pergeseran. Elpiji 3 kilogram yang sedianya menyasar warga kurang mampu, kini juga digunakan warga mampu, bahkan oleh usaha yang tergolong menengah ke atas, termasuk restoran.

Mekanisme distribusi serta siapa yang berhak menerima harus ditegaskan. Jangan lupa, pengawasannya pun jangan sampai lalai atau sengaja dilalaikan. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved