BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Waspadai Hujan

Banjir disebabkan curah hujan yang tinggi dan berlangsung agak lama, sehingga arus air tidak bisa terbendung.

Waspadai Hujan
BPost Cetak
Ilustrasi 

MEMBACA Cuaca Hari Ini di Harian Banjarmasin Post edisi Jumat (17/2) bersumber dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Selatan, disebutkan dari 11 kabupaten dan dua kota di Banua Kalsel, semua diguyur hujan, baik sedang maupun ringan.

Kini, curah hujan mulai merata bahkan di sejumlah provinsi di Tanah Air banjir, seperti DKI Jakarta banjir (Cawang dan Kampung Melayu). Demikian pula di Jawa Tengah (Dukuh Gatak, Banyudono, Boyolali) banjir, Kamis (16/2) malam, akibatnya genangan air di mana-mana.

Banjir disebabkan curah hujan yang tinggi dan berlangsung agak lama, sehingga arus air tidak bisa terbendung. Akibat lain kenapa air menggenangi sekitar pemukiman warga, barangkali drainase kurang baik dan lingkungan dipenuhi sampah.

Apa yang terjadi ini, bukan tidak beralasan. Perubahan musim, pancaroba --kemarau ke penghujan-- di pertengahan bulan ini, perlu diwaspadai oleh semua. Pentingnya menjaga lingkungan dan kebersihan, karena bisa berdampak bagi warga sekitar.

Jika sejumlah daerah di pula Jawa banjir di mana-mana, air menggenangi rumah warga berhari-hari, tidak salah jika penduduk di pulau Kalimantan dan Sumatera, mewaspadai curah hujan yang merata di semua kepulauan Nusantara ini.

Secara terprogram dan mestinya dilakukan adalah normalisasi sungai, sehingga air bisa mengalir melalui anak sungai. Selain itu, membersihkan lingkungan yang kotor dan dipenuhi sampah, sehingga tidak menghambat aliran air hujan.

Kalau air sungai meluap, diperparah kerusakan lingkungan dan tumpukan sampah, sehingga memicu genangan air di mana-mana akibat derasnya intensitas hujan. Kalau sudah demikian, banjir pun bisa menjadi pemicu rusaknya bangunan.

Beberapa waktu lalu, di daerah ini memasuki puncak musim penghujan, sejumlah sekolah terendam banjir. Ini lagi-lagi, akibat lingkungan yang kotor dan tumpukan sampah, ditambah aliran sungai terhambat lantaran tingginya curah hujan, menyebabkan naiknya debit air.

Potensi banjir yang bakal melanda kawasan permukiman warga ini, senantiasa mengancam jika tidak diantisipasi. Bukankah, kerusakan lingkungan itu akibat ulah tangan manusia, antara lain pencemaran air dan tanah sebagai dampak adanya kawasan industri.

Selain itu, wabah banjir akibat buruknya drainase atau sistem pembuangan air, juga kesalahan mengelola daerah aliran sungai. Menjaga lingkungan, menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda-tunda.

Setiap orang harus melakukan usaha penyelamatan lingkungan, sesuai kapasitasnya masing-masing. Sekecil apapun usaha yang dilakukan, besar manfaatnya bagi penyelamatan dari wabah banjir yang bisa memporakporandakan rumah maupun fasiltias umum lainnya.

Bersih-bersih pekarangan rumah, drainase, normalisasi sungai atau melingai sungai yang akrab pada masyarakat Banjar, digerakkan kembali sebagaimana masa lalu yang nilai kegotongroyongannya tinggi.

Demikian pula sebagai warga masyarakat dan anak bangsa, kita dituntut untuk menyuarakan kehidupan yang bersih dan nyaman, sehingga jauh dari kerusakan lingkungan dan ekosistem yang bisa mengakibatkan banjir misalnya.

Mungkin bencana, seperti banjir terjadi akibat eksploitasi yang besar-besaran terhadap alam, sehingga tidak peduli terhadap dampak negatif pengerukan sumber daya alam tersebut.

Akibat curah hujan yang tinggi, bisa mengakibatkan genanagn air di mana-mana. Jika drainase tidak berfungsi, tumpukan sampah menghalangi air, tidak mustahil banjir mengancam kehidupan. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help