Mereduksi Buta Aksara Kaum Perempuan

Hiruk-pikuk paradigma gender yang kini telah menjadi stereotip bagi kalangan masyarakat awam, khususnya para perempuan

Mereduksi Buta Aksara Kaum Perempuan
BPost cetak
Ali Damsuki 

Oleh: ALI DAMSUKI
Mahasiswa Program Magister
UIN Walisongo Semarang

Hiruk-pikuk paradigma gender yang kini telah menjadi stereotip bagi kalangan masyarakat awam, khususnya para perempuan Indonesia tak kunjung selesai sampai sekarang. Berbagai macam proses dan citra yang melekat pada diri perempuan menjadi ‘senjata’ bagi kaum lelaki melumpuhkan segala bentuk perilaku yang cenderung melampaui garis batas dari lelaki dalam sosial-ekonomi.

Kultur patriarki yang ada sejak zaman nenek moyang, hingga sekarang era digital masih diberlakukan seolah menjadi budaya melekat erat. Hal ini berimplikasi pada generasi ”era ikut” terhadap perempuan.

Propaganda bias gender dalam dinamika kehidupan memang sudah “mengakar” sejak zaman azali. Kedudukan kaum perempuan selalu di bawah supremasi laki-laki, sehingga kaum perempuan selalu mengalami diskriminasi dan cenderung termarjinalkan. Perempuan juga menerima berban berlebih (double burden) dalam pembagian tugas sosial. Dalam konteks inilah para perempuan selalu dijadikan objek pelabelan insan yang lemah.

Selain itu, strata kelas yang terbagi dalam konteks profesi, agama, lingkungan, dan lain sebagainya berimplikasi pada sempitnya ruang lingkup perempuan untuk mengekspresikan segala bentuk kemampuan (skill) ke ruang publik. Gender menurut Hilary M Lips (2010), merupakan konstruksi sosial yang ada dalam dinamika masyarakat. Harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (culture expectation women and man).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 menunjukkan sebagian besar kaum perempuan masih terjangkit buta aksara secara masif, kaum perempuan usia 15-24 tahun sejumlah 346.157 jiwa, usia 25-44 tahun sejumlah 1.003.620 jiwa, dan usia 45-59 tahun sejumlah 1.466.430 jiwa.

Penyakit buta aksara pada diri kaum perempuan akan cenderung berimplikasi pada kondisi psikologi dan sosial. Dalam konteks ini, kaum perempuan akan kehilangan kecerdasan dan lifeskill, hingga berujung pada posisi tindakan diskriminatif. Inilah salah satu yang mengakibatkan kaum perempuan bersifat inferior dalam ranah publik. Segala bentuk ekspresi dan potensi yang dimiliki akan terpenjara secara dominan.

Jerat Perburuhan
Minimnya perempuan cerdas (melek aksara) di Indonesia berakibat pada ranah publik yang kian menantang. Era modernisasi tidak memberikan jaminan secara riil pada kemajuan kaum perempuan, khususnya pada pendidikan aksara. Berbagai macam wilayah di Bumi Pertiwi ini, masih ada jutaan kaum perempuan yang terdiskriminasi dengan buta aksaranya.

Dalam dinamika sosial, era modern tidak menghapus adanya bias gender secara permanen. Munculnya gerakan-gerakan gender yang digalakkan oleh para tokoh gender seperti, Fatimah Mernisi, Husein Muhammad, Amina Wadud, Rifat Hasan, Robiah Adawiya, dan para tokoh feminis lainnya tidak akan pernah efektif, selama kaum perempuan masih dalam jerat kebodohan. Kaum perempuan yang buta aksara juga berimplikasi pada sebuah profesi dalam menjaga rantai makanan keluarga. Kaum perempuan tidak memiliki nilai tawar yang lebih dalam memasuki dunia kerja. Kaum perempuan akan menjadi human trafficking.

Minimnya pendidikan aksara pada kaum perempuan menjadi suatu pilihan bagi kaum perempuan meningkatkan pendapatan dengan bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW). Hal ini menjadi suatu sistem perburuhan bagi kaum pe­rempuan Indonesia yang mi­nim akan pendidikan ak­sara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa ada terjadi peningkatan secara signifikan jumlah TKW yang bekerja di luar negeri. Tahun 1996 terdapat 56 persen perempuan, dan tahun 2007 meningkat menjadi 78 persen dari jumlah tenaga kerja laki-laki.

Tumpuan Bangsa
Perempuan dalam Kamus Bahasa Arab (empu-tuan) yang dapat disimpulakan seseorang yang memiliki keahlian, yang kepakarannya di depan (unggul), yang dihornati dan dimuliakan, serta mengasuh dan menuntut kepakarannya. Sementara perempuan identik dengan Ibu. Sementara dalam Bahasa Arab, ibu (umm) dan bangsa peradaban (ummah) berasal dari akar yang sama (a-m-m) yang bermakna menuju, menumpu, dan meneladani. Kemudian term tersebut diturunkan menjadi kata imam (pemimpin). Jadi, ibu (perempuan) adalah tumpuan, teladan, dan dapat turut serta memimpin (menuntun) ummah (pera­daban) menuju suatu arah.

Kaum perempuan sepuh (tua) adalah guru bagi lelaki, terutama anak dan belia dalam asuhannya. Pujangga Mesir, Hafiz Ibrahim dengan tepat menjuluki perempuan sebagai segenap sekolah (the whole school), sebab perempuan inkubasi bagi anak-anaknya.

Problematika yang begitu kompleks pada kaum perempuan memang menjadi kultur sulit dihilangkan. Oleh sebab itu, usaha preventif pemerintah dalam menangani kondisi tersebut sebuah organisasi pemberantasan buta aksara pada kaum perempuan mulai didirikan. Pemerintah kerja sama dengan UNESCO membentuk program yang dikenal dengan Life Literacy Initiative For Empowerment (LLIFE). Program ini membantu kaum perempuan dalam ‘buta aksara’. Kaum perempuan juga akan diberdayakan kemampuan dan skill-nya.

Kaum perempuan yang sadar terhadap aksara, me­reka memiliki kecen­derungan inovatif, berwawasan luas dan progresif. Pendidikan aksara juga akan meringankan keadaan ekonomi yang sulit, kaum perempuan akan cenderung berwirausaha dan berkarier di dalam negeri sendiri. Dengan pendidikan aksara, mereka akan tahu pentingnya sebuah keterampilan dan mengembangkan potensi yang dimiliki di ranah publik. Inilah salah satu upaya untuk memutus rantai kebodohan bagi kaum perempuan. Sehingga kaum perempuan akan terbebas dari ‘perbudakan’ buruh yang semakin merajalela.

Selain itu, pendidikan aksara bagi kaum perempuan menjadi ‘makanan utama’ dalam mencerdaskan bangsa. Anak-anak bangsa lahir dari para perempuan, sehingga perempuan menjadi ‘sekolah’ pertama bagi generasi penerus bangsa Indonesia ini. Upaya yang harus dilakukan dalam memajukan bangsa, pertama kalinya harus menja­dikan kaum perempuan menjadi insan yang berkualitas dalam pendidikan. Kaum perempuan merupakan kaum pembangun bangsa. Bangunlah Bangsa ini melalui pendidikan kaum perempuan. Wallahu’alam bi as-shawab. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help