Berita Banjarmasin

Bule Ini Tak Malu Jualan Coklat Keliling Naik Skuter, Begini Cerita Suksesnya

Thierry Detournay, demikian nama bule asal Belgia yang memulai usaha rumahan di Yogyakarta, 16 tahun lalu.

Bule Ini Tak Malu Jualan Coklat Keliling Naik Skuter, Begini Cerita Suksesnya
Banjarmasinpost.co.id/Salmah
Thierry Detournay

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bule atau warga asing memiliki usaha di Indonesia itu sudah biasa. Tapi bagaimana jika usahanya itu berupa usaha kecil dan menjajakan dagangan keliling kota naik skuter. Pastilah ini luar biasa.

Thierry Detournay, demikian nama bule asal Belgia yang memulai usaha rumahan di Yogyakarta, 16 tahun lalu. Ia tak malu jualan keliling demi sebuah cita-cita, memiliki usaha yang dapat menghidupi dirinya dan orang lain.

Kisah usaha Thierry disampaikannya di sela Seminar Gizi dan Kewirausahaan Menuju Kalsel Sehat dan Sejahtera, Kamis (23/2/2017) di Hotel Amaris Banjar, Jalan Ahmad Yani Km 7, Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar.

Pada seminar yang digelar Stikes Husada Borneo dan PT Grafika Wangi Kalimantan dan dibuka
Ketua Tim Penggerak PKK Kalimantan Selatan, Fathul Janah itu, hadir sebagai narasumber lainnya yaitu ahli gizi Dinkes Kalsel Rosihan Anwar SGz, Forum Tempe Indonesia Prof DR Ir Made Astawan MS.

Thierry adalah Owner Cokelat Monggo yang terkenal di seputaran Jawa dan Bali. Berawal dari usaha rumahan, kini ia memiliki 150 karyawan dan produknya dipasarkan hingga 600 toko.

"Saya ini orang biasa, belajar sendiri tentang bisnis. Perlu 8 tahun untuk berproses, mulai ide kemudian mengembangkan hingga berdiri perusahaan," papar Thierry yang lancar berbahasa Indonesia.

Usaha ini berawal pada 2001 tatkala ia iseng membuat cokelat di dapur. Kemudian teman yang mencicipi menyatakan bahwa cokelat tersebut enak dan layak dijual.

"Kata teman, enak. Bisa dijual. Sampai akhirnya saya jual dan terus berkembang, hingga pada 2009 mendirikan perusahaan," jelasnya.

Apa yang menjadi daya tarik Cokelat Monggo? Tal lain karena keunikannya, juga kualitas cokelat. Menurut Thierry, produk cokelat yang ada di Indonesia bukan real (murni) cokelat, karena banyak campuran gula dan lemak sawit.

"Kami di Belgia, terbiasa dengan cokelat murni. Diolah dari biji kakao dan lemak kakau yang jauh lebih bagus dari lemak sawit. Coklat asli itu sifatnya lumer di dalam tubuh, tidak lengket dan lebih nikmat," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Salmah
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help