BanjarmasinPost/

Serambi Ummah

Memajang Patung di Rumah, Ini Hukumnya dalam Islam

Memajang patung atau ukiran tiga dimensi baik bentuk manusia maupun hewan di dalam rumah kerap dilakukan sejumlah orang.

Memajang Patung di Rumah, Ini Hukumnya dalam Islam
Ilustrasi - Patung kucing bangsa Mesir kuno 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Memajang patung atau ukiran tiga dimensi baik bentuk manusia maupun hewan di dalam rumah kerap dilakukan sejumlah orang. Patung atau ukiran tersebut dipajang tidak untuk sesembahan.

Tujuannya sekadar seni untuk hiasan, memperindah bagian interior rumah. Tidak hanya dilakukan oleh para kolektor patung, tapi juga masyarakat umum atas nama seni.

Gusti Makmur Lc menjelaskan, dalam hadist Nabi dapat ditemukan dalil yang tegas mengharamkan gambar, yang dimaksud adalah gambar hidup.

"Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari kiamat, yaitu orang-orang yang menggambar gambar-gambar ini. Dalam satu riwayat dikatakan, Orang-orang yang menandingi ciptaan Allah." (HR Bukhari dan Muslim)

Dan Rasulullah Saw memberitahukan juga dengan sabdanya, "Barangsiapa membuat gambar nanti di hari kiamat dia akan dipaksa untuk meniupkan roh padanya; padahal dia selamanya tidak akan bisa meniupkan roh itu." (HR Bukhari).

Latar belakang pengharaman hadis diatas adalah untuk membela kemurnian tauhid dan agar tidak menyerupai kaum musyrik yang menyembah berhala-berhala yang dibuatnya oleh tangan-tangan mereka sendiri, kemudian mereka agungkan dan mereka berdiri di hadapannya dengan penuh khusyu.

Dibalik dari rahasia diharamkannya gambar, ada hal-hal yang tetap membolehkan diwujudkannya model dari makhluk hidup, seperti untuk pengajaran, penelitian, permainan anak-anak dan keperluan lainnya.

"Yang penting adalah bahwa patung atau benda itu tidak dimaksudkan untuk diagung-agungkan dan tidak berlebih-lebihan," tegasnya.

Dia juga menjelaskan, ada juga dalil dan nash yang membolehkan bentuk tiruan makhluk hidup yang telah dibuat cacat bentuknya, sehingga tidak lagi menjadi tiruan yang sempurna.

Dalam hadis disebutkan, bahwa Jibril As tidak mau masuk rumah Rasulullah SAW, karena di pintu rumahnya ada sebuah patung. Hari berikutnya pun tidak mau masuk, sehingga ia mengatakan kepada Nabi Muhammad, "Perintahkanlah supaya memotong kepala patung itu. Maka dipotonglah dia sehingga menjadi seperti keadaan pohon." (Riwayat Abu Daud, Nasai, Tarmizi dan Ibnu Hibban)

Halaman
12
Penulis: Hasby
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help