NEW VIDEO

Sulap Limbah Menjadi Rupiah

Anak-anak jalanan harus mandiri, bebas dari pergaulan negatif dan punya keahlian mencari uang sendiri. Itulah yang ada di benak Muhammad Arifin

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Masa depan suram dari anak-anak putus sekolah, korban perceraian, anak jalanan, hingga anak kurang mampu menjadi pemikiran Muhammad Arifin, pria kelahiran Banjarmasin, 27 Februari 1987 silam.

Anak-anak kurang beruntung tersebut harus mandiri, bebas dari pergaulan negatif, dan punya keahlian untuk mencari uang sendiri. Itulah yang ada di benak Arifin.

Sosok Muhammad Arifin merupakan sosok sederhana dan begitu pula latar belakang keluarganya. Bapaknya adalah pemulung yang mengumpulkan sampah dan botol plastik. Dibantu ibunya sampah itu dipilah dan dijual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Sang ayah pernah berpesan agar Arifin kelak bisa membantu mengentaskan anak-anak kurang beruntung tersebut. Bersama dua temannya, Hermanto dan Siti Nurbaya akhirnya Arifin mendirikan Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar pada 2014 silam di Jl Soetoyo S Banjarmasin.

Arifin yang pernah bekerja sebagai guru SD salah satu menengah kejuruan di Banjarmasin, lulus D-3 Politeknik Banjarmasin dan S-1 Universitas Muhammadiyah Malang itu kini membina sebanyak 85 anak kurang mampu, anak putus sekolah dan anak jalanan.

Jumlah anak binaan untuk tingkatan jenjang SD sebanyak 45 anak, jenjang SMP sebanyak 15 Anak, tingkat SLTA sebanyak 15 orang dan perguruan tinggi sebanyak 5 orang.

Anak binaan diajari berbagai ketrampilan seperti membuat bunga dari kantong plastik, cup lampu, meja, kursi dari ban bekas, bunga dari kawat bekas dan kerajinan lainnya yang bernilai tinggi.

Pemberian ketrampilan ini juga disesuaikan dengan jenjang umur dan pendidikan.

Untuk anak SD seperti membuat bunga dan kupu-kupu dari limbah plastik. Untuk jenjang SMP ke atas sudah bisa diajari membuat vas bunga hingga furniture. Dalam satu hari anak-anak binaan maksimal dua jam dilatih ketrampilan agar tetap bisa bermain.

Salah satu produk Rumah Kreatif yang kini laris di pasaran,yakni handuk bekas yang biasanya dipakai untuk lap atau keset, ternyata bisa disulap menjadi barang bernilai tinggi, yakni vas bunga.

Jika dijual vas bunga dari handuk bekas itu harganya bisa mencapai Rp75 ribu dan jika dilengkapi dari bunga berbahan kantong plastik bisa mencapai Rp 125 ribu.

Handuk disulap menjadi vas bunga setelah dicampur dengan semen, pasir, lem putih dan air dengan tahapan dan perlakuan tertentu. Jika sudah dicat dan dipoles air brush, maka vas bunga dari limbah handuk itu menjadi vas bunga yang cantik dan mewah.

Arifin punya angan-angan ke depan punya rumah kreatif dan pintar di atas tanah dan bangunan milik sendiri yang representatif sehingga bisa lebih profesional dalam membina anak-anak kurang beruntung di Banjarmasin. (BANJARMASINPOST.CO.ID/TIM)

Editor: Syaiful Akhyar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved