Ingat! Sama Seperti Kita, Binatang Juga Tahu Ketika Mereka Tidak Diperlakukan dengan Adil

Kemampuan untuk menilai keadilan selama ini dianggap hanya dimiliki oleh manusia. Kita juga paham akan makna balas budi atau melindungi keluarga

Ingat! Sama Seperti Kita, Binatang Juga Tahu Ketika Mereka Tidak Diperlakukan dengan Adil
iflscience.com
binatang juga bisa merasakan ketidakadilan 

BANJARMASINPOST.CO.ID – Kemampuan untuk menilai keadilan selama ini dianggap hanya dimiliki oleh manusia. Kita juga paham akan makna balas budi atau melindungi keluarga yang kita sayangi. Hal-hal semacam ini biasanya kita anggap tidak pernah dirasakan oleh binatang.

Faktanya, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa binatang juga bisa merasakan keadilan. Tes ini dilakukan pada monyet cokelat capuchin. Ada dua monyet yang ditaruh dalam kandang bersebelahan. Mereka masing-masing diberi semacam token yang bisa dipakai untuk ‘membeli’ makanan.

Satu monyet diberi timun setiap kali ia memberikan token. Sedangkan monyet di sebelahnya diberi anggur tiap memberikan token. Monyet cokelat capuchin sendiri lebih menyukai anggur ketimbang timun. Ketika melihat bahwa temannya diberi anggur dan dirinya hanya diberi timun, monyet yang hanya diberi timun ini kemudian marah-marah dan melempar timun tersebut pada pemberinya.

Tak hanya begitu, monyet cokelat capuchin juga memahami keadilan yang lebih kompleks. Mereka awalnya disuruh melakukan suatu pekerjaan untuk mendapatkan hadiah. Mereka mau melakukannya demi hadiah itu. Namun, saat mereka melihat ada monyet lain yang diberi hadiah tanpa perlu melakukan apa-apa, monyet yang tadinya mau bekerja ini langsung tidak mau bekerja lagi.

Bukan hanya monyet cokelat capuchin, perilaku semacam ini juga terlihat pada sejumlah primata lain. Selain primata, hewan yang juga memiliki rasa akan keadilan ini adalah anjing dan tikus.

Bagaimana dengan spesies-spesies lain selain mamalia? Apakah mereka juga memiliki kemampuan ini? Studi lain kemudian dilakukan terhadap burung. Para peneliti menggunakan empat jenis gagak biasa dan enam jenis gagak spesies lain.

Burung-burung ini diberi keju sebagai hadiah karena gagak-gagak menyukai keju. Selain itu, ada juga hadiah buah anggur bagi kelompok yang akan diteliti. Dalam satu eksperimen, yang diberikan hanyalah buah anggur. Perbedaannya, satu kelompok harus melakukan semacam pekerjaan demi mendapatkan anggur. Namun, kelompok satunya menerima anggur secara cuma-cuma.

Dalam sekejap saja, gagak yang harus bekerja untuk mendapat anggur sudah tidak mau lagi bekerja. Ia tentu sudah melihat temannya yang tidak melakukan apa-apa tetap mendapatkan anggur.

Pada eksperimen satunya, gagak yang bersebelahan salah satu diberi keju dan satunya diberi anggur. Sama seperti pada kasus mamalia, setelah melihat temannya mendapatkan keju dan ia hanya mendapatkan anggur, gagak yang mendapatkan anggur ini sudah tidak mau berpartisipasi lagi dalam kegiatan tersebut.

Baik dalam mamalia maupun burung, penelitian membuktikan mereka bisa memahami makna keadilan. Hal ini rupanya bukanlah eksklusivitas yang hanya dimiliki oleh manusia atau primata. Menurut para peneliti, kompleksitas dan fleksibilitas yang tinggi dalam berkooperasi mungkin telah mendorong evolusi mereka sehingga binatang-binatang jadi bisa merasakan apa yang adil dan tidak adil. Menurut peneliti, kemampuan untuk merasakan keadilan inilah yang membuat binatang-binatang bisa bersosialisasi dengan sesamanya.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help