Ironisme Anak Jalanan

Anak akan mengalami disorientasi nilai dan gagal melakukan proses imitasi dan identifikasi pada lingkungan keluarga.

Ironisme Anak Jalanan
BPost Cetak
Muhammad Gazali 

Kedua, optimalisasi peran pengawasan masyarakat, sebagai langkah preventif guna menekan angka anak jalanan adalah melalui pengawasan masyarakat yang lebih condong pada sikap kepekaan.

Peranan masyarakat terhadap anak jalanan (pengemis jalanan, anak jalanan, pengamen jalanan, anak-anak yang selalu mangkal dipinggir jalan), seperti mereka ditampung di rumah sosial yang khusus untuk menampung mereka. Lalu, mereka dibina, diberikan pendidikan, diberi pekerjaan, dan wadah penampungan bakat-bakat mereka.

Mengikutsertakan anak jalanan dalam kegiatan sosial. Seperti kerja bakti masyarakat desa dan kota, serta ikut membantu dalam kegiatan santunan di panti asuhan. Perlu usaha konkret melalui komunitas-komunitas kreatif yang ada di Banua pada khususnya, sebagai wadah anak jalanan untuk memperoleh bekal keterampilan dan kreatifitas.

Ini penting agar mereka dapat hidup mandiri dan memiliki kemampuan untuk bertahan hidup. Misalnya dengan membekali kemampuan dalam memasak, membuat karya seperti tas yang terbuat dari kertas bekas, gantungan kunci dari barang bekas, bros dari barang bekas, dan lain sebagainya.

Selain itu, penting untuk menghidupkan kembali jam malam bagi usia tertentu. Tidak dipungkiri anak jalanan rentang dengan perilaku menyimpang seperti pergaulan bebas, seks, narkoba, miras. Sehingga hadirnya jam malam, diharapkan mampu meminimalisir potensi perilaku menyimpang anak terutama saat malam hari.

Dalam konteks ini, komunikasi intensif antara orangtua, masyarakat, dan tentunya aparat penegak hukum diperlukan agar dapat meminimalisir perilaku meresahkan oleh anak jalanan, sehingga tercipta kondisi kenyamanan dan keamanan. Amin. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help