BanjarmasinPost/

Serambi Ummah

Kisah Pria Setengah Abad, Berbekal 'Bismillah' Jadi Santri Tertua di Ponpes Darussalam Martapura

Dari sekian banyak santri di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, HM Ali Ispandiar memang menjadi perhatian, karena ia salah satu dari beberapa sant

Kisah Pria Setengah Abad, Berbekal 'Bismillah' Jadi Santri Tertua di Ponpes Darussalam Martapura
banjarmasinpost.co.id/salmah
HM Ali Ispandiar 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dari sekian banyak santri di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, HM Ali Ispandiar memang menjadi perhatian, karena ia salah satu dari beberapa santri tua di sana.

Meski santri, namun para guru di pondok tetap menghormati Ali yang kini usianya 58 tahun.
Makanya Ali kerap dipanggil abah haji. Dan Ali yang ikhlas memposisikan diri sebagai murid, juga sebaliknya menghargai guru-guru di sana.

Ada kejadian unik tatkala Ali baru pertama mondok. Saat itu ia baru setengah bulan menjadi santri dan ada wartawan sebuah stasiun TV Malaysia yang meliput pondok dan kehidupan santri.

"Wartawan TV Malaysia itu kemudian mewawancarai saya. Dengan bahasa Melayu ia menanyakan apakah saya tidak malu menjadi santri di usia tua? Saya jawab tidak. Kenapa harus malu belajar agama?" ujar Ali yang pensiunan Dinas Koperasi Kalsel.

Namun rupanya wartawan itu tetap penasaran. Pertanyaan itu kerap diulang karena mungkin masih meragukan ketetapan hati Ali.

"Akhirnya dia menyatakan, akan datang lagi ke pondok dua tahun mendatang. Saya jawab, silakan. Mungkin dia ingin memastikan apakah saya masih sebagai santri di sini," seloroh Ali.

HM Ali Ispandiar, meski usianya sudah 58 tahun namun ia tidak serta merta malu untuk belajar. Sebaliknya ia mondok sebagai santri di Pesantren Darussalam Martapura, Kabupaten Banjar.

Ali sadar ilmu agamanya masih kurang. Sebab itu ia pun memanfaatkan kesempatan yang masih diberikan oleh Allah SWT untuk belajar agama Islam.

"Kita tidak tahu kapan usia kita berakhir. Jadi manfaatkan usia ini untuk belajar agama serta mengamalkan ilmu yang didapat dalam keseharian. Apalagi saya sadar, semasa keci kurang belajar agama. Saya juga ingin menginspirasi bagi yang purna tugas (pensiunan) agar mengisi waktu dengan membersihkan hati, seperti halnya saya yang saat dinas mungkin ada sifat uzub dan riya. Dari belajar agama, kita bisa tahu bagaimana seharusnya kita bersikap dan bertingkahlaku. Mari sepenuhnya kita menyerahkan diri kepada Allah SWT," alasannya.

Ali berprinsip, menuntut ilmu tidak ada batasan usia. Sehingga saat pertama mondok ia tidak malu. Bersikap biasa saja. Saat belajar, teman-temannya adalah para remaja usia 14-16 tahun.

"Malah saya tambah semangat menuntut ilmu. Ya, karena mereka yang muda saja bisa, kenapa saya tidak? Ketika santri muda pandai menulis dengan hurup Arab Melayu, saya pun yang selama ini halnya bisa mengikuti dengan huruf latin, bertekad untuk bisa seperti santri muda," ujarnya,

Sebagai santri, ada amalan harian yang ia lakukan. Gurunya menganjurkan untuk bangun tengah malam dan beribadah kemudian baca surah Yasin.

"Selain itu, setiap hari selesai shalat fardhu saya sempatkan menulis kalimat Bismillahirrahmanirrahim dalam bahasa Arab di buku tulis. Sejak 13 September 2015 sampai sekarang sudah terkumpul sembilan buku yang tertulis 19 ribu lebih kalimat tersebut dan ini terus berlanjut," jelasnya.

Lanjutnya, ribuan kali menulis kalimat yang mengandung doa itu memberikan kenikmatan hati yang tiada nilainya. Apalagi ketika bangun tengah malam, beribadah kemudian melanjutkan tulisan. Dalam suasana tenang dan nyaman, begitu damai hati ini. (*)

Penulis: Salmah
Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help