BanjarmasinPost/

Mengawal Kualitas Pendidikan di Madrasah (Sebuah Solusi Alternatif Membangun Peradaban Islam)

Pendidikan adalah sebuah proses usaha manusia dalam mendewasakan anak. Jika menghendaki pendidikan berjalan sesuai

Mengawal Kualitas Pendidikan di Madrasah (Sebuah Solusi Alternatif Membangun Peradaban Islam)
BPost Cetak
Rahmadi SAG MPDI 

Oleh: RAHMADI SAG MPDI
Tenaga Pendidik MAN Insan Cendekia Tanahlaut

Pendidikan adalah sebuah proses usaha manusia dalam mendewasakan anak. Jika menghendaki pendidikan berjalan sesuai yang diharapkan, tentunya harus memperhatikan tiga komponen pendidikan yaitu pendidik (guru), masyarakat, dan orangtua.

Guru adalah tonggak penting dalam sebuah pendidikan. Baik dan tidaknya sebuah pendidikan akan tergantung kepada gurunya. Karenanya, bisa jadi dikatakan seorang anak yang berhasil dalam pendidikan guru menjadi rujukan masyarakat. Sebaliknya, seorang anak yang gagal dalam pendidikan, guru juga yang menjadi tumpuan.

Guru adalah pendidik profesional. Tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini (pada jalur pendidikan formal), pendidikan dasar, dan menengah. Ini termaktub dalam Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Guru merupakan seseorang yang mempunyai tugas mulia untuk mendorong, membimbing dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi di kelas untuk membantu proses perkembangan siswa.

Penyampaian materi pelajaran hanya lah salah satu dari berbagai kegiatan pada proses belajar. Ini merupakan suatu proses yang dinamis dalam segala fase dan proses perkembangan siswa (Slameto, 2003: 97).

Guru memegang peranan dan tanggung jawab yang penting pada pelaksanaan program pengajaran di sekolah. Guru merupakan pembimbing siswa sehingga keduanya dapat menjalin hubungan emosional yang bermakna selama proses penyerapan nilai-nilai dari lingkungan sekitar. Kondisi ini memudahkan mereka untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan di masyarakat (Depdiknas, 2003: 3).

Karena itu, seorang guru yang baik dan profesional harus memenuhi kompetensi dan skill yang baik juga. Ada beberapa ciri guru yang profesional dalam pengembangan sekolah atau madrasah, antara lain mempunyai kompetensi paedagogik. Lalu, mempunyai kompetensi sosial, mempunyai kompetensi kepribadian, dan mempunyai kompetensi profesional.

Bicara kualitas pendidikan madrasah, tentunya madrasah adalah sebuah lembaga di bawah Kementerian Agama (Kemenag) menyelenggarakan pendidikan umum berciri keagamaan. Dalam penyelenggaraan pendidikan, Kemenag melaksanakan pendidikan mulai tingkat dasar yang disebut madrasah ibtidaiyah (MI), pendidikan tingkat menengah atau madrasah tsanawiyah (MTs), dan pendidikan tingkat menengah atau madrasah aliyah (MA) serta pendidikan tinggi keagamaan yang disebut perguruan tinggi agama (PTA).

Selain itu, dalam pembinaan pendidikan keagamaan, Kemenag juga melaksanakan pendidikan luar sekolah keagamaan atau yang sering disebut pondok pesantren dan madrasah diniyyah takmiliyah. Kemeneg pusat saat ini mengembangkan 4 (empat) macam model madrasah aliyah yaitu madrasah aliyah reguler (MA), madrasah aliyah keagamaan atau sering disebut Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) atau (MANPK), madrasah aliyah keterampilan atau kejuruan dan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC).

Konteks keberadaan guru sebagai ujung tombak dalam mengawal kualitas pendidikan madrasah sangatlah penting. Hal ini tidak lepas dari peran kementerian agama dalam hal ini kasi pendidikan madrasah (kasi penmad) provinsi dan kabupaten/kota untuk senantiasa memberikan pembinaan dan pelayanan secara optimal. Di samping guru itu sendiri yang selalu meningkatkan dan mengembangkan potensinya secara terus menerus dan optimal.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin mengatakan Indonesia memiliki jumlah guru madrasah terbanyak di dunia, dengan perbandingan satu guru mengajar 10 murid (1:10). Ironisnya, jumlah guru yang banyak tersebut tidak berbanding lurus dengan kualitas atau mutu pendidikan yang ada. Seharusnya kualitas pendidikan kita bagus. Tapi, kenyataannya memang tidak berbanding lurus dengan kualitas pendidikan. (Republika, Selasa: 20/10/16).

Kenyataan ini tentunya sangat riskan, karena jumlah madrasah yang ada di Indonesia lebih banyak dari jumlah sekolah umum. Lebih memprihatinkan sekali tidak diiringi dengan peningkatan kualitas guru madrasah tersebut.

Berbagai upaya sesungguhnya sudah dilakukan oleh Kemenag dan Kementerian Pendidikan Nasional serta para guru melalui kelompok-kelompok kerja guru mata pelajaran (MGMP). Tujuannya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah, tapi hal itu tidak sebanding dengan jumlah siswa dan madrasah yang ada.

Bayangkan, dari total 49.337 madrasah (tidak termasuk RA) yang ada di Indonesia, sebagian besar atau sekitar 92,1 persen (45.451) adalah madrasah swasta. Hanya 7,9 persen (3.886) saja yang merupakan madrasah negeri. Jumlah guru madrasah dari segi pemerataan dalam tiap-tiap madrasah dan kebanyakannya adalah guru yang status sebagai guru honor/kontrak.

Dari berbagai analisa tersebut, semua pejabat Kemenag mulai yang ada di pusat sampai kabupaten/kota, kepala madrasah, guru dan tenaga kependidikan lainnya harus terus bersama-sama mengawal kualitas pendidikan madrasah tanpa kenal lelah. Tujuannya guna menghasilkan output dan alumni madrasah yang berkualitas juga dan mampu bersaing sehingga akhirnya mampu mewarnai peradaban Islam yang selama ini kita cita-citakan bersama. Wallahu a’lam bish shawwab. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help