Sendy Terus Bertekad Berjuang Memanusiakan Penderita AIDS

Itu sebabnya Sendy bertekad untuk terus berjuang memanusiakan para penderita penyakit mematikan itu agar bisa hidup wajar di tengah masyarakat.

Sendy Terus Bertekad Berjuang Memanusiakan Penderita AIDS
istimewa
Sendy Salsabila Saifuddin, Duta AIDS Kalsel 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Seorang penyanyi, lalu menjadi duta AIDS (acquired immune deficiency syndrome) Kalimantan Selatan 2013 dan kini menggeluti profesi sebagai perias artis. Itulah tangga karier yang ditapaki Sendy Salsabila Saifuddin.

Namun dari ketiga karier itu, menjadi duta AIDS dirasakan Sendy sebagai hal yang paling berkesan dalam hidupnya hingga kini. Banyak pengalaman manis getir yang ia reguk dan menempa kepribadiannya menjadi pribadi yang lebih tegar dan tangguh.

Selama menjadi duta tersebut, Sendy aktif berkampanye tentang bahaya penyakit kelamin yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya itu. Ia juga harus bergaul dengan para ODHA (orang dengan HIV (human immunodeficiency virus)/AIDS atau penderita HIV/AIDS.

Bagaimana Sendy bisa terpilih menjadi Duta AIDS Kalsel? Perempuan cantik ini menuturkan kala itu dirinya ditawari oleh Duta AIDS tahun 2012, Akhsa (sekarang penyiar senior J-Radio).

"Lalu, saya mencoba mendaftar dengan tujuan untuk menambah wawasan dan pengalaman. Saat itu saya satu tim dengan Vidya yang sekarang menjadi Duta Poltekkes Kalsel 2016," beber perempuan kelahiran Banjarmasin 10 Desember 1996 ini, Sabtu (11/03/2017).

Sendy saat itu mengangkat tema penyebaran informasi mengenai HIV/AIDS secara fun dan enjoy. Bersama Vidya, ide kreatif itu ia paparkan secara komprehensif. Sendy berperan sebagai pembicara utama.

"Mungkin dengan pertimbangan itulah, alhamdulillah tim kami dinobatkan sebagai pemenang brand ambassador HIV/AIDS 2013," tutur Sendy kepada BPost.

Hal itu membuatnya sangat bangga. Soalnya, capaiannya itu tak sekadar membanggakan diri dan keluarga, tapi juga ikut mengangkat nama almamater sekolahnya di SMAN 3 Banjarmasin.

Ia mengaku tertarik terhadap pembahasan HIV/AIDS, karena menjadi isu dunia yang hingga kini masih kerap diperdebatkan secara global. Selain itu, dirinya prihatin melihat diskriminasi terhadap pasien ODHA.

Itu sebabnya ia bertekad untuk terus berjuang memanusiakan para penderita penyakit mematikan itu agar bisa hidup wajar di tengah masyarakat.

"Setelah saya teliti, hal itu ternyata disebabkan kurangnya informasi mengenai HIV. Jadi, saya mencoba membuat sedikit solusi sekaligus meluruskan beberapa pandangan miring publik yang selama ini menjadi beban ODHA," lanjut dia.

Selengkapnya simak beritanya di Banjarmasin Post edisi Minggu (12/03/2017)

(khairil rahim)

Penulis: Khairil Rahim
Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help