BanjarmasinPost/

Jujur Itu Bahagia, Yakin?

Saya mendapatkan cerita kejadian di atas dari istri saya yang sempat hadir sebentar di arena lomba tersebut. Kejadian itu sepintas terasa aneh.

Jujur Itu Bahagia, Yakin?
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

“Teman-teman sekalian. Jujur itu hebat, membuat kita bahagia dan selamat dunia akhirat. Betul atau tidak?” teriak peserta lomba ceramah Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) Kota Banjarmasin, Sabtu, 11 Maret 2017 kemarin. Entah main-main, entah sungguh-sungguh, seorang lelaki yang berada di dekat lapangan parkir menjawab, “Tidak!”

Saya mendapatkan cerita kejadian di atas dari istri saya yang sempat hadir sebentar di arena lomba tersebut. Kejadian itu sepintas terasa aneh. Anak-anak yang polos usia sekolah dasar, berpidato dengan penuh semangat tentang kejujuran, sementara ada orang dewasa yang mencemoohnya. Apakah kehidupan anak-anak dan orang dewasa begitu jauh berbeda laksana cahaya dan kegelapan?

Namun, apa mau dikata, kenyataan di lapangan kadangkala memang demikian. Kasus mega korupsi KTP elektronik (KTP El) yang mulai disidangkan minggu lalu membuat mata kita terbelalak. Menurut dakwaan jaksa, korupsi yang merugikan negara Rp 2,3 triliun itu melibatkan hampir semua pihak dari anggota legislatif, eksekutif, BUMN dan pengusaha. Yang terbanyak adalah anggota DPR RI (2009-2014), yang mencapai 60 orang!

Jika dakwaan jaksa kelak terbukti benar, maka inilah salah satu skandal besar yang menunjukkan dengan telanjang pertentangan antara pidato anak kita di atas dan perilaku para pemimpin kita. Korupsi tidak lagi dilakukan sendirian dalam senyap, tetapi bersama-sama, berjemaah, tahu sama tahu. Mungkin cara ini dianggap lebih aman karena semua pihak yang terlibat mendapatkan bagian yang sepadan.

Korupsi Berjemaah
Secara tersirat, korupsi berjemaah menunjukkan bahwa di masyarakat kita, khususnya di kalangan elite tertentu, korupsi dianggap biasa dan normal. Budaya korup ini tidak terbentuk begitu saja. Ada suatu lingkarang kusut yang menggiring orang ke arah itu, dari proses mendapatkan jabatan melalui sogok dan suap, sampai pemberian proyek kepada para penyandang dana yang berjasa saat pemilu.

Keadaan ini membuat banyak orang pesimistis. Pada November 2016 lalu, saya diundang Bawaslu Kalsel untuk berbicara mengenai pencegahan politik uang dalam pilkada. “Menghindari politik uang itu sulit sekali. Bagi banyak warga, jika pergi ke TPS tidak diberi duit, lebih baik pergi kerja saja yang sudah jelas mendatangkan uang. Bagaimana kita menghadapi kenyataan ini?” tanya seorang peserta.

“Jika pemilu berhasil memilih pemimpin yang jujur dan adil serta terbukti berhasil mensejahterakan rakyat, apakah warga mau datang ke TPS tanpa dibayar?” kata saya balik bertanya. “Tentu saja rakyat akan berduyun-duyun datang ke TPS. Jadi, masalahnya adalah, kita sendiri enggan memutus lingkaran setan itu. Kita terbuai dengan keadaan buruk yang seolah tak dapat diubah,” kata saya.

Lebih menyedihkan lagi, budaya curang berjemaah ini sampai menyelinap masuk ke ruang-ruang kelas sekolah kita. Kalau para pejabat korupsi berjemaah, anak-anak di sekolah juga nyontek berjemaah, khususnya ketika Ujian Nasional (UN). Tak jarang hal ini justru direstui bahkan diatur oleh guru dan orangtua mereka. Jika sudah demikian, apa guna anak-anak kita diajari berpidato bahwa jujur itu hebat?

Pada akhirnya, semua terpulang kepada kita, apakah kita sungguh-sungguh ingin berubah atau tidak? Apakah kita akan menjadi manusia-manusia munafik atau orang-orang jujur dan berintegritas, satunya kata dengan perbuatan? Masihkah kita percaya akan kebenaran sabda Nabi SAW, “Kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa ke surga”?

Saya kembali teringat pidato anak di atas. “Jujur itu hebat, membuat kita bahagia dan selamat dunia akhirat. Betul atau tidak?” Kita tidak perlu menjawab pertanyaan ini karena jawabannya adalah perilaku kita sehari-hari! (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help