BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Misi Suci Guru

ANGKI Hardanika dan Zainal, tengah gundah gulana. Keduanya mewakili ribuan guru berstatus honorer di daerah ini yang hingga kini masih

Misi Suci Guru
BPost Cetak
Ilustrasi 

ANGKI Hardanika dan Zainal, tengah gundah gulana. Keduanya mewakili ribuan guru berstatus honorer di daerah ini yang hingga kini masih belum jelas masa depannya. Bukan hanya soal statusnya yang menggantung, honor bulanan sebagai guru yang bukan pegawai pemerintah sampai detik ini tidak jelas kapan bisa diterimanya.

Padahal, honor atau tunjangan dari pemerintah bisa menjadi obat pelipur lara bagi Angki dan Zainal serta rekan-rekannya sesama guru honorer mengingat mereka selama ini seolah menjadi ‘anak tiri’ dari sebuah sistem pendidikan di negeri ini.

Dan, Zainal, guru honorer di sebuah SMK di Kota Batulicin, Kabupaten Tanahbumbu (Tanbu), terpaksa harus menyiasati hidup dengan menyambi menjadi penyiar radio dengan bayaran Rp 30 ribu per jam siaran. Demikian pula yang dilakukan Angki Hardanika guru honorer di SMKN 1 Kusanhilir, Tanbu, menepis rasa malu dengan berjualan nasi bungkus.

Bagi Zainal maupun Angki, status honorer yang melekat pada diri keduanya hingga kini menjadi beban moral sendiri. Keduanya memang tidak seberuntung rekan-rekannya yang dulu sama-sama di bangku kuliah tapi kini telah menjadi ‘guru resmi’ pegawai pemerintah. Bagaimana caranya mereka bisa menjadi pegawai negeri, tentu melalui mekanisme yang berlaku di lembaga yang mengurusi masalah itu.

|Apa yang dialami Zainal dan Angki serta ribuan rekan senasib seperti diakui Presiden Jokowi saat memberi sambutan saat kampanye “Gerakan Menghormati Guru”, November 2016 lalu, masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang belum selesai. Dan, pemerintah sendiri mengaku tidak tahu persis berapa sebenarnya jumlah guru honorer di negeri ini. Bahkan, untuk di Kalsel tidak ada data valid jumlah guru honorer yang ada.

Hanya harus kita akui, mereka yang berstatus ‘resmi’ memang jauh lebih baik kehidupannya dibanding mereka yang belum memiliki status ‘resmi’. Namun sejatinya, apapun sebutannya, tidak ada perbedaan antara guru berstatus pegawai pemerintah dengan guru sebutan honorer.

Memang tidak ada yang berlebihan dari kedua status itu. Yang membedakan hanyalah bentuk dari penghargaan yang diberikan terhadap guru dalam mengaplikasikan ilmu kepada anak didik.

Pendek kata, guru, baik itu memiliki status resmi atau belum mereka adalah para hero bagi bangsa ini. Tanpa keheroan mereka, sulit kita membayangkan bagaimana jadinya bangsa ini nanti ke depan.

Artinya, memang sudah saatnya kita melepas sekat-sekat formalitas dalam sistem pendidikan di negeri ini. Jujur harus kita katakan, bukan sebuah ukuran dengan status guru pemerintah kemudian menjadikan mutu pendidikan di sebuah lembaga pendidikan bisa menjadi lebih baik.

Ukuran dari keberhasilan sebuah pendidikan terletak pada kurikulum yang terukur dengan baik, tidak berubah-ubah karena kepentingan politis. Hal itu juga didukung tenaga pendidik yang memahami dan menguasai paedagogik secara paripurna.

Sekali lagi, honorer atau bukan, kembali pada niat suci setiap individu guru dalam mengapresiasikan apa yang dimilikinya untuk kemajuan pendidikan. Penghargaan berupa salary sejatinya hanyalah bagian terkecil dari misi suci dalam kehidupan seorang guru. (*)

Tags
Tajuk
Guru
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help