Peran Pendidikan dalam Merawat Kebhinnekaan

Seperti yang dikemukan Karl Popper dalam The Open Society and Its Enemies, bahwa perubahan senantiasa dinilai negatif dan ditabukan serta dipandang

Peran Pendidikan dalam Merawat Kebhinnekaan
BPost Cetak
Rahmad Ba'agil 

Oleh:RAHMAD BA’AGIL
Pengajar di FTK IAIN Antasari Banjarmasin

Indonesia merupakan sebuah negara multikultural. Masyarakatnya dengan tingkat keanekaragaman yang sangat kompleks. Keanekaragaman ini menjadi sebuah kekayaan dan kekhasan bagi Indonesia, keragaman yang diperkuat dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Maknanya, meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan.

Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Beraneka ragamnya budaya ini selain menjadi sebuah kekayaan, juga dapat menjadi sumber konflik, apabila tidak dilihat sebagaimana mestinya dan setiap budaya cenferung menjadi fanatik pada budaya sendiri dan melupakan kesatuan bangsa ini. Sikap fanatisme cenderung terdapat pada masyarakat sosial tertutup, hal ini dikarenakan masyarakat yang cenderung statis atau menerapkan stratifikasi pada masyarakat bersifat tertutup.

Seperti yang dikemukan Karl Popper dalam The Open Society and Its Enemies, bahwa perubahan senantiasa dinilai negatif dan ditabukan serta dipandang sebagai kejahatan. Sebaliknya, stabilitas dianggap sebagai sebuah kebaikan yang harus terus-menerus diperjuangkan. Kebebasan merupakan penghambat stabilitas. Keunikan setiap individu dianggap sebagai ancaman terhadap hidup bersama. Pandangan seperti ini tentu akan sangat “berbahaya” diterapkan di masyarakat majemuk atau masyarakat yang sangat beragam seperti Indonesia. Untuk itulah pendidikan merupakan salah satu solusi dalam mewujudkan integrasi sosial masyarakat di Indonesia.

Integrasi Sosial

Pendidikan mempunyai peran yang strategis untuk mewujudkan integrasi sosial dalam masyarakat. Menurut pendidik aliran konservatif sekolah bukanlah sebuah lembaga perubahan yang tepat, tetapi sebuah pranata belajar. Karena individu yang mengubah masyarakat bukan sebaliknya, cara yang tepat untuk memperbaiki masyarakat adalah dengan memperbaiki individu yang ada di dalamnya.

Dengan pendidikan pula, diharapkan akan tercipta peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Ki Hajar Dewantara menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu pendidikan adalah tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Kemudian dalam UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dalam dirinya untuk memiliki kekuatan kepribadian yang baik, spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, moralitas, dan keterampilan yang dibutuhkan oleh dirinya sendiri dan masyarakat.

Pengertian pendidikan dari dua definisi di atas memperlihatkan bahwa diri individu akan selalu dikaitkan sebagai dirinya sendiri dan sebagai bagian masyarakat. Menurut pendapat saya, pendidikan akan mengajarkan manusia mengenal potensi dirinya tetapi tidak pula melupakan hal-hal yang berlaku di masyarakat dan individu harus beradaptasi dengan lingkungan tanpa meninggalkan norma dan nilai yang berlaku bagi dirinya maupun lingkungannya.

Halaman
12
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help