BanjarmasinPost/

Antara Isu Sara dan Kepentingan Sosial

Mengutip dari Azra, bahwa ini hanya salah satu bagian dari imbas pergerakan massal keagamaan yang ingin mengedepankan keadilan hukum

Antara Isu Sara dan Kepentingan Sosial
BPost Cetak
H Anwar Hafidzi 

Oleh: H ANWAR HAFIDZI LC MA HK
Pemerhati Masyarakat Mahasiswa Program Doktoral
di IAIN Antasari Banjarmasin

Baru-baru ini, media sedang digemparkan dengan adanya spanduk penolakan mensalati jenazah di salah satu masjid di Jakarta jika memilih calon pasangan gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat. Penolakan ini menjadi ramai ketika beredar di beberapa grup chat online, bahkan penolakan itu mengatasnamakan ulama, kiai, sesepuh, ustadz, dan ustadzah se-DKI Jakarta.

Bukan hanya mensalati, bahkan kegiatan rutinitas keagamaan lainnya pun tidak akan mereka hadiri selama lima tahun ke depan jika terbukti ada satu kampung yang mayoritas pilihannya ke pasangan Ahok-Djarot. Pengumuman tersebut juga menyebutkan istilah munafik dan rusak akidahnya jika tetap memilih pemimpin yang nonmuslim, dan disuruh cepat bertaubat sebelum ajal menimpanya.

Mengutip dari Azra, bahwa ini hanya salah satu bagian dari imbas pergerakan massal keagamaan yang ingin mengedepankan keadilan hukum atas kasus yang menimpa pasangan calon gubernur. Anggapan tidak adil dan tidak diadili dengan tepat yang membuat beberapa organisasi masyarakat di Indonesia mengadakan demo besar-besaran. Sejak kasus bergulir sampai sekarang hal tersebut masih menjadi trending topik di berbagai media massa. Apalagi di DKI Jakarta akan dilakukan pemilihan putaran kedua untuk menentukan lima tahun ke depan siapa pemimpinnya.

Politik Partisan
Dalam budaya politik, istilah politik partisan memang tidak asing lagi di mata politikus, dikarenakan sering merasa bebas mendisuksikan masalah politik. Politik yang dibesar-besarkan dalam tingkatan tertentu, dapat memengaruhi pergerakan dukungan pada perpolitikan. Kebebasan ini akan berdampak pada memprotes atau mendukung pemerintah, dengan indikator munculnya aliansi-aliansi yang tidak berpolitik akan tetapi ikut bergabung dalam organisasi politik secara sukarela baik yang bersifat politik ataupun tidak. Pergerakan ini pada akhirnya memberikan stimulus pada masyarakat untuk memilih salah satu calon pasangan dan mendiskreditkan calon lainnya, atau bahkan lebih parah lagi.

Kejadian yang terjadi di DKI Jakarta dengan munculnya spanduk ujaran kebencian terhadap satu pemimpin sepatutnya tidak menjadi bahan cemoohan ataupun sindiran pada agama Islam. Hal yang perlu dikhawatirkan nantinya adalah terprovokasinya masyarakat dan akan memecah belah ke-Bhinneka Tunggal Ika-an Indonesia.

Berdasarkan hasil riset, mengutip Hunting dan Nelson, bahwa gerakan kekerasan dalam lobi politik akan menyebabkan sikap cenderung menyukai dan merendahkan lawan politiknya. Tanpa disadari masyarakat juga ikut terdorong dengan atau korban politik tersebut. Dorongan tersebut pada akhirnya adak menemukan titik balik yang positif pada politik, meski menjadi dampak negatif bagi lawannya. Bagaimana Islam menyikapinya?

Islam dan Budaya Politik
Mungkin semua umat beragama sepakat bahwa di dalam kitab sucinya tidak diperbolehkan berbuat aniaya atau keji terhadap sesama umat manusia. Kecenderungan ini mungkin akan mulai sirna dikala muncul perasaan paling benar dan menganggap yang lain salah, dalam suatu kasus tanpa ada kejelasan yang nyata.

Menilik Alquran sebagai kitab suci umat muslim, surat Al-Hujuraat ayat 6, in jaakum faasiqun bi nabain fa tabayyanu, sangat jelas Islam melarang provokasi antarumat beragama, bahkan orang yang gemar melakukan kabar tidak benar disebutkan sebagai orang fasik. Ayat ini diakhiri dengan kata naadimiin, pada akhirnya muncul suatu penyesalan ketika musibah sudah terjadi. Begitu juga ayat selanjutnya, ayat 11, ijtanibuu katsiran min al-zhon, larangan mencari-cari kesalahan orang lain dan menyebarkannya menjadi sebuah perbuatan dosa, jika benar akan terjatuh ke lembah gibah (membicarakan keburukan orang lain), jika salah akan menjadi fitnah.

Mungkin cara berpolitik yang baik bisa dilihat secara utuh dalam Alquran cerita Nabi Yusuf AS. Di antara pointnya adalah sikap tertutupnya Nabi Yusuf AS, atas cibiran yang dilakukan oleh saudara sebapaknya bahkan orangtua asuhnya, hal ini dilakukannya demi menjaga martabat sang ayah Nabi Ya’qub AS. Bagaiamana sikap kita?

Perpecahan umat bisa menyebabkan kehancuran suatu negara, ketidakadilan penguasa juga akan memecah belah umat. Mungkin istilah ini bisa disematkan pada kejadian saat ini, dimana kita melihat berbagai macam kejadian penting terjadi hanya karena kepentingan politik, golongan, ataupun pribadi.

Mengutip sejarah Ibnu Khaldun (1332-1406 ), dia pernah menggambarkan dalam karyanya Muqaddimah Ibn Khaldun bahwa hancurnya suatu negara tergantung dari sikap masyarakatnya, di mana pada masa itu terjadi sikap saling menjatuhkan antarpenguasa, tujuannya menguasai kekayaan kerajaan. Pada akhirnya negara tersebut jatuh dan menjadi korban adalah masyarakat awam menjadi sengsara, bahkan Andalusia menjadi bukti sejarah dalam Islam.

Kita sebagai masyarakat awam seharusnya sudah mulai bertindak cerdas dengan melihat berbagai kejadian saat ini, harus mampu membedakan mana yang demi kepentingan negara dan mana yang bernuansa politik. Jangan sampai perbedaan organisasi atau politik menyebabkan kita sesama masyarakat saling buruk sangka bahkan saling fitnah demi menjatuhkan lawannya.

Perang pemikiran mungkin terjadi, akan tetapi masih dalam koridor hikmah dan dengan nada yang menyejukkan, bukan provokatif karena yang menjadi korban adalah masyarakat awam. Semua pasti sepakat menginginkan kenyamanan, ketenteraman, dan keindahan dalam beribadat ataupun dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Hukum tetap berjalan, hati tetap tenang. Rasulullah SAW mencontohkan sikap damai beliau dengan mendoakan pada mereka-mereka yang mencacai maki beliau dengan doa dan akhlak yang mulia. Tentu jalan ini ternyata sangat ampuh mengumpulkan kaum Quraisy pada waktu itu, bukan dengan cara apa-apa, melainkan hanya dengan perkataan dan perbuatan yang lembut dan mulia. Bukan menyebabkan kebencian dan kemarahan hanya karena berbeda pandangan politik ataupun keagamaan. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help