Home »

Kolom

» Tajuk

Dilarang Nongkrong Saat Petang

Kebijakan bupati tersebut turut didasari oleh masukan dari para ulama di Bumi Murakata yang merasa prihatin melihat polah terkini

Dilarang Nongkrong Saat Petang
BPost Cetak
Ilustrasi 

JANGAN heran bila ketika Anda ke Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), tak lagi menemukan remaja kumpul-kumpul di seputaran Lapangan Dwiwarna atau Lapangan Pelajar, saat petang menjelang.

Penyebabnya, para anak muda itu tak mau berurusan dengan satuan polisi pamong praja (satpol PP). Sejak awal Maret ini, petugas penegak peraturan daerah itu melaksanakan instruksi bupati HST. Mereka menyosialisasikan isi surat edaran tentang larangan nongkrong di luar rumah menjelang waktu Salat Magrib hingga selepas Salat Isya.

Selain itu, Anda juga jangan kaget saat mendapati pada jam-jam tadi, tak bisa menonton tayangan melalui televisi kabel. Pihak operator sengaja menyetop program mereka demi mengikuti isi surat edaran bupati tadi. Hal serupa, pengelola kafe dan tempat kongkow lainnya juga menutup sementara tempat yang mereka kelola.

Mungkin tergolong keras bahkan ekstrem, tapi begitulah upaya pemerintah setempat mengarahkan agar generasi penerus tersebut menggunakan waktu untuk beribadah (salat dan mengaji), berkumpul keluarga serta belajar. Hal tersebut jauh lebih baik dan bermanfaat ketimbang nongkrong di luar rumah saat petang hingga malam.

Kebijakan bupati tersebut turut didasari oleh masukan dari para ulama di Bumi Murakata yang merasa prihatin melihat polah terkini para belia dan remaja di Barabai dan sekitarnya. Apalagi, satu ulama mengungkapkan bahwa dia pernah melihat sendiri sejoli yang sedang bermesraan seakan tanpa batasan.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Banjarmasin mengeluarkan kebijakan lebih kurang sama, yakni Magrib Mengaji. Tujuannya juga mirip-mirip saja. Agar saat Magrib para belia dan remaja menunaikan salat, mengaji sambil menunggu waktu Salat Isya. Setelah itu belajar untuk persiapan sekolah esok hari. Namun sejauh ini program tersebut cenderung lebih banyak disosialisasikan melalui baliho.

Terlepas dari cara penerapan yang berbeda, kedua program ini punya tujuan yang mulia. Namun memang, agar efektif dan mengena, perlu benar-benar disiapkan segala sesuatunya. Termasuk antisipasi dan sanksinya.

Sebab, seperti yang terjadi di Barabai, satpol PP merazia di Lapangan Dwiwarna, para remajanya bergerak ke tempat lain. Begitu didatangi lagi, mereka kembali berpindah ke tempat lain. Alhasil seperti kucing-kucingan saja. Belum lagi bila mereka malah ‘eksodus’ ke ibu kota kabupaten tetangga, semisal Kandangan atau bahkan Tanjung, yang belum menerapkan aturan serupa.

Hal lainnya adalah suasana di Lapangan Dwiwarna yang ‘lengang’. Bila biasanya banyak yang mangkal, terutama komunitas dan klub motor, belakangan lebih banyak pedagang yang nongkrong. Sedikit banyak kondisi tersebut memengaruhi penghasilan mereka. Dan kalau pendapatan terus menurun bisa jadi mereka tak berjualan lagi atau mencari keramaian di kabupaten terdekat lainnya.

Padahal, diakui atau tidak, kehadiran para pedagang semisal penjual pentol, gorengan, minuman cokelat dan lainnya tersebut, ikut memberi warna dan meramaikan suasana malam di kota kabupaten berjuluk Parisj van Borneo. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help