BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

Menjadi Cerdas untuk Kota Cerdas

setahun waktu berlalu, sejumlah program yang dijanjikan pun masih belum bisa berlangsung secara sempurna

Menjadi Cerdas untuk Kota Cerdas
BPost Cetak
Ilustrasi 

SETAHUN lalu, atau beberapa hari setelah dilantik menjadi Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, menggaungkan konsep smart city. Penandanya, saat itu sejumlah program berbasis teknologi informasi bakal segera diterapkan di kota seribu sungai ini.

Setahun waktu berlalu, sejumlah program yang dijanjikan pun masih belum bisa berlangsung secara sempurna (untuk tidak mengatakan: Tidak bisa diselenggarakan).

Secara teknis, kabarnya terkendala banyak faktor. Bahkan, bisa jadi semua faktor belum lah siap sehingga smart city ala Banjarmasin benar-benar bisa terselenggara secara baik atau paling tidak sekadar terlaksana. Tentu saja, bila kendala-kendala (bentuk ketidaksiapan) itu dirinci secara detail, bisa jadi akan muncul belasan atau puluhan daftar.

Sebut saja program digitalisasi layanan publik. Baik faktor orang (petugas dan warga) belum lah (belum semua) merasa nyaman bila tidak menyentuh kertas dan pulpen. Ketidaksiapan itu masih ditambah dengan masalah infrastruktur (jaringan internet, misalnya) yang masih terbilang lambat jika dibanding dengan wilayah lain (tentu saja wilayah di luar Kalsel, utamanya di Jawa).

Karena itu, bila pemerintah Kota Banjarmasin masih ingin melanjutkan program ini, ada dua hal utama yang seharusnya dilakukan secara serius. Pertama, memastikan model smart city yang diterapkan; Dan kedua, fokus pada tahapan-tahapan pelaksanaan program yang telah disusun.

Soal konsep, kota ini seharusnya punya model smart city yang diharapkan. Pilihannya, tentu saja harus sesuai dengan visi kota dan kebutuhan warganya. Bukan atas dasar kegenitan teknologi informasi, atau sekadar meniru (copy paste) satu atau sebagian program dari kota lain.

Sebagai contoh, Seoul (Korea Selatan) yang tidak terlalu ambisius membuat program smart city pada semua hal. Kota itu hanya membatasi program kota cerdasnya hanya pada tiga komponen: (1) ICT Infrastructure; (2) Integrated city-management framework; (3) Smart users (warga dan pegawai).

Sedangkan Lyon, di Perancis mencerdaskan kotanya dalam bidang: (1) Lingkungan; (2) Jaringan (pemerintah-masyarakat-pebisnis); (3) Partisipasi warga dan melayani warga dalam bidang desain produk; (4) Pemanfaatan teknologi (informasi dan komunikasi, robotika, sistem transportasi dan sebagainya).

Selanjutnya, bila pemko telah menentukan konsep kota cerdas yang diinginkan sekaligus diperlukan, berikutnya perlu konsentrasi penuh alias fokus para penyelenggara kota.

Bila memang pemko ingin mendigitalisasi adminsitrasi layanan publik, seharusnya fokus menyediakan semua faktor sehingga semua prasyarat smart city bisa terselenggara. Tidak cukup hanya menyediakan seperangkat program (software dan menyiapkan hardware), tapi juga perlu melakukan kampanye (bila perlu paksaan) secara terus-menerus.

Dengan demikian, pada titik (bila tidak cukup dalam rentang setahun, ya lima tahun) yang ditargetkan, semua pegawainya nyaman menggunakan teknologi informasi untuk layanan publik. Pun demikian warga kota, merasa lebih terlayani jika memanfaatkan perangkat teknologi yang disediakan.

Mari menjadi cerdas untuk kota cerdas. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help