BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Belajar dari sang Kiai

Selain pernah menjabat Ketua PBNU, Hasyim Muzadi juga sebagai pendiri pesantren Al Hikam di Malang dan Depok.

Belajar dari sang Kiai
BPost Cetak
Ilustrasi 

INDONESIA kembali berduka. Kamis, 17 Maret 2017 menjadi hari berkabung, tidak hanya bagi umat muslim, warga Nahdlatul Ulama (NU) tapi juga seluruh bangsa Indonesia. KH Ahmad Hasyim Muzadi, ketua PBNU periode 1999-2010 berpulang ke Rahmatullah setelah dirawat di sebuah rumah sakit di Malang, Jawa Timur.

Ada banyak jabatan pernah diemban pria yang kerap diidentikkan dengan kiai sarungan ini. Selain pernah menjabat Ketua PBNU, Hasyim Muzadi juga sebagai pendiri pesantren Al Hikam di Malang dan Depok. Sempat terjun ke dunia politik dengan menjadi calon wakil presiden mendamping Megawati Soekarnoputri pada Pemilu 2004. Namun, takdirnya mungkin lebih digariskan sebagai guru bangsa ketimbang politisi atau birokrat. Jabatan terakhirnya adalah sebagai Watimpres sejak 2015.

Hasyim Muzadi merupakan gambaran tokoh muslim moderat, yang menghargai perbedaan serta bertoleransi pada pemeluk agama lain. Penggambaran pada dirinya serta NU yang bersifat kultural, moderat dan domestik ini pula yang disampaikan KH Hasyim Muzadi di hadapan senator Amerika Serikat saat diundang berpidato di senat negeri adidaya itu.

Wajah Islam yang ramah, santun dan damai ini yang akhir-akhir ini seperti memudar. Gejolak politik yang dicampur aduk dengan kepentingan dan dibumbui oleh perbedaan agama sempat meruncing. Kepentingan politik golongan tertentu yang bersembunyi di balik agama membuat bangsa ini nyaris pecah, bak buih di lautan.

Akibatnya, alih-alih menonjolkan kesejukan, pada praktiknya malah timbul syak wasangka, hingga saling tuduh. Bermunculan informasi hoax yang mudah sekali dipercaya umat yang sudah tersulut emosinya akibat dipanas-panasi oleh para ‘penggosok’. Berbual-bual di media sosial, menyerang secara verbal mereka yang tidak sepaham atau lantas mengelompok (mengeksklusifkan) diri sendiri.

Mana keramahan bangsa ini yang sering dikagumi orang luar? Bangsa Indonesia, yang mayoritas adalah umat Islam yang welas asih, tepo seliro dan santun serta penuh pengertian. Seperti yang diajarkan orangtua-orangtua dulu. Diajarkan oleh para ustadz, guru mengaji dan kiai sejak kecil untuk menghargai orang lain.

Bukankah Islam menghargai perbedaan pendapat. Sosok seperti Kiai Hasyim Muzadi ini lah yang menjadi bingkai keberagaman di dalam Islam di Nusantara menjadi berintegritas. Menunjukkan wajah Islam yang melindungi minoritas tanpa abai pada mayoritas. Menampilkan wajah Islam penuh kasih sayang baik melalui pendekatan dakwah maupun hukum.

Mengenang KH Hasyim Muzadi, seperti membuka lagi sejarah bagaimana dakwah Islam Wali Songo di Nusantara sekitar abad ke-15. Bukan cara garang, muka seram dan angkat pedang yang membuat Islam menjadi agama yang besar di negeri ini. Para wali mencontohkan kesederhanaan, kelembutan dan toleransi, tapi tetap tegas. Persis teladan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Sosok seperti KH Hasyim Muzadi sebagai penyejuk sudah langka di negeri ini, di tengah gempuran radikalisme yang terus merambati umat Islam di Indonesia. Bangsa ini memerlukan penyejuk yang mampu mendinginkan suasana gahar atau panas, baik karena pertikaian politik maupun masuknya ideologi berhaluan keras. Belajar dan meneladani sang kiai. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help