Dilema Transportasi Berbasis Online

Kondisi ini terjadi di semua kota besar, transportasi publik yang dirancang dengan dana sangat besar, tidak bisa berbuat banyak

Dilema Transportasi Berbasis Online
BPost Cetak
Ferry Irawan Kartasasmita 

Oleh: FERRY IRAWAN KARTASASMITA
Dosen Luar Biasa Fakultas Teknik ULM dan UNU Kalsel

Hadirnya transportasi berbasis online (TBO) beberapa tahun terakhir menyajikan warna baru dalam peta transportasi di kota-kota besar Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, berkembang pesatnya TBO merupakan jawaban atas ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan transportasi publik yang layak, murah, dan nyaman bagi masyarakat.

Kondisi ini terjadi di semua kota besar, transportasi publik yang dirancang dengan dana sangat besar, tidak bisa berbuat banyak ketika harus berhadapan dengan TBO yang dihadirkan oleh para orang kreatif yang menawarkan kemudahan dan keterjangkauan harga. Cukup menggunakan smartphone, kebutuhan moda transportasi untuk berpergian maupun mengantarkan barang tiba secara cepat hanya berbilang menit.

Kehadiran TBO merupakan sebuah bentuk creative disruption. Dalam hal ini disruption merupakan perubahan akibat dari trend lama yang terputus atau yang tak terpakai lagi karena dianggap usang. Karenanya, terciptatrend seiring kamajuan teknologi, arus golobalisasi, dan keinginan manusia untuk membuat segala hal menjadi lebih praktis dan efisien.

Akibatnya, segala hal yang bersifat konvensional dan tak mampu mengikuti inovasi, maka tak lama lagi akan ditinggalkan dan berangsur tumbang. Banyak kelebihan yang dimiliki TBO.Pertama, menurunkan biaya pencarian. Semua pasti memahami masalah yang dialami angkutan kota, harus berputar-putar untuk mendapatkan penumpang. Pun penumpang. TBO datang untuk memotong mata rantai permasalahan tersebut.

Brishan Roger (2015) berpendapat layanan Uber menurunkan biaya pencarian (search cost), baik untuk penumpang dan sopir. Penumpang pun dapat kemudahan membuka aplikasi dan menentukan sopir dan sopir pun tidak kesulitan lagi mencari penumpang.

Kedua, tarif yang ditetapkan diawal yang ditawarkan TBO, memberi keuntungan untuk menghindari perilaku buruk sopir. Para pengemudi yang seenaknya menentukan harga tidak ditemui dalam TBO. Ini karena TBO tidak memberi insentif tambahan biaya, ketika tidak melewati rute terdekat yang telah ditentukan aplikasi.

Ketiga, TBO memberikan standar pelayanan yang prima. Penumpang akan diberi helm yang wangi dan masker ketika menggunakan ojek online atau kondisi mobil yang bersih, wangi, pendingin yang terjaga, dan perilaku pengendara yang tidak ugal-ugalan. Hal ini karena terdapat sistem rating/reputasi untuk menilai kinerja pengemudi. Pengemudi dengan reputasi yang buruk maka akan diberhentikan dengan segera oleh pengembang aplikasi.

Walau sistem rating cenderung bersifat subjektif dan tidak sempurna. Kita akan mudah memberi rating yang tinggi hanya karena pengemudinya berwajah ganteng, walaupun pelayanan yang diberikan di bawah standar. Bisa juga karena mood penumpang sedang tidak baik, maka dengan mudah melampiaskan emosi dengan memberikan penilaian yang buruk kepada pengemudi. Tapi, dari ketidaksempurnaan tersebut, sistem reputasi merupakan patokan pengemudi untuk terus memberikan pelayanan terbaik setiap saat.

Keempat, TBO mampu meningkatkan produktivitas terkait tenaga kerja. Layanan online tidak saja menyediakan lapangan pekerjaan baru tetapi juga memberikan peluang seorang pekerja kantoran untuk mendapatkan penghasilan tambahan di waktu luangnya. Jam kerja yang tidak terikat membuat seseorang mau bekerja lebih giat.

Halaman
12
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help