Home »

Kolom

» Tajuk

Harusnya Petambak Senang

sesuatu yang mampu membuat petani atau pun yang sedang memelihara senang dan bahagia.

Harusnya Petambak Senang
BPost Cetak
Ilustrasi 

TIBANYA waktu panen biasanya identik dengan keberuntungan. Sesuatu yang mampu membuat petani atau pun yang sedang memelihara senang dan bahagia. Namun sebaliknya yang dirasakan petambak ikan patin di Kabupaten Banjar. Mereka justru sedih dan tak bersemangat.

Bahkan sebagaimana diwartakan koran BPost edisi Kamis (16/3), para petani ikan tersebut terpaksa memilih berhenti membudidayakan ikan yang selama ini mereka tekuni. Kondisi ini tentu teramat menyedihkan dan miris.

Soalnya, ketika mereka panen tapi justru hal itu bikin mereka sedih lantaran merugi. Hal ini menyusul jebloknya harga di pasaran. Banyak hal getir yang dirasakan para pembudidaya ikan tersebut, seperti persoalan pakan yang terus mengalami kenaikan harga hingga kian menjamurnya pembudidaya ikan.

Lalu, apakah mereka tak boleh memanen padahal telah cukup banyak dana yang dikeluarkan. Apakah satu-satunya jalan harus mengakhiri usaha budidaya ikan tersebut? Ironis sekali hal ini jika ditilik karakteristik warga Banua yang dikenal pandai membudidayakan ikan.

Namun dengan suramnya usaha tersebut, tak bisa disalahkan ketika mereka kini memilih berhenti membudidayakan ikan. Meski aktivitas itu telah jadi keahlian turun temurun yang tidak semua orang bisa melakukannnya.

Pertanyaan yang kini mengemuka, di mana peran pemerintah? Apakah hanya sebatas mengimbau atau memberi masukan tanpa tindakan, membuat sarana dan prasarana namun justru mangkrak. Dana fasilitas pengembangan minapolitan senilai Rp 2,9 miliar pun terbuang percuma. Andai saja dialihkan ke program lain yang lebih tepat, mungkin nasib miris petambak tersebut tak terjadi.

Penetapan kawasan minapolitan sudah ditetapkan pemerintah. Artinya apa? Sudah mendapat ruang untuk mengembangkan budidaya ikan lokal agar bisa menyejahterakan masyarakat. Bisa membuka lapangan kerja. Namun kenyataannya tak seperti yang diharapkan.

Bangunan UPT kawasan minapolitan sejak 2014 silam hingga saat ini telantar tak berguna. Tak hanya kantor, seluruh fasilitas pendukungnya di kawasan itu terkesan dibiarkan begitu saja.

Fasilitas berupa Unit Pengolahan Ikan (UPI) hingga kemarin masih mangkrak.

Melimpahnya panenan yang berdampak pada anjloknya harga ikan mestinya bisa diatasi oleh keberadaan UPT dengan segenap fasilitas yang ada di situ. Nilai jual ikan mestinya bisa berlipat walau panen ikan bersamaan. Tidak ada masalah yang muncul sehingga petambak pun gembira. Hasil panen selalu dibeli layaknya panen beras tersalurkan ke berbagai daerah seluruh Indonesia.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Banjar, Marbawi mempertanyakan perencanaan fasilitas itu. Saat ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan, tapi bagaimana caranya menyelamatkan petambak agar bisa bertahan.

Banyak hal yang bisa dilakukan di situ. Termasuk menjadikan wisata yang memikat orang untuk terus berdatangan ke Kabupaten Banjar. Bukan hanya menjadi sebuah cerita pernah jaya dengan hasil ikan patin dan akhirnya menjadi importir di kemudian hari. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help