Jendela Dunia

Koalisi Serang Perahu Imigran, 30 Orang Afrika Tewas Termasuk Perempuan

Satu perahu yang membawa lebih dari 30 imigran Afrika, termasuk perempuan, dari Somalia menjadi sasaran pemboman oleh beberapa helikopter

Koalisi Serang Perahu Imigran, 30 Orang Afrika Tewas Termasuk Perempuan
Reuters
Sejumlah jenazah pengungsi Somalia yang tewas dalam serangan udara helikopter di lepas pantai pelabuhan Laut Merah Hodeidah, Yaman, pada Jumat (17/3/2017). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sebanyak 30 imigran Afrika, termasuk perempuan, tewas dalam serangan udara yang dilancarkan oleh helikopter yang diduga milik koalisi militer pimpinan Arab Saudi terhadap perahu mereka di pantai Yaman Barat.

Seorang pejabat keamanan lokal yang berpusat di Kota Pelabuhan Hodyada, yang dikuasai gerilyawan Syiah Al-Houthi, mengatakan bahwa satu perahu yang membawa lebih dari 30 imigran Afrika, termasuk perempuan, dari Somalia menjadi sasaran pemboman oleh beberapa helikopter pada Kamis malam (16/3), dan hampir semua penumpangnya tewas.

Kebanyakan imigran tersebut secara sukarela pulang dari Yaman dan pergi ke arah Sudan, Somalia serta negara lain Afrika, kata sumber keamanan itu kepada Kantor Berita Xinhua, Jumat malam (17/3).

Ia menambahkan banyak orang lagi berhasil menyelamatkan diri dan telah diselamatkan setelah serangan tersebut.

Beberapa sumber lain mengatakan bahwa sejumlah nelayan Yaman tewas ketika pesawat yang sama menyerang perahu mereka di dekat Pantai Laut Merah di Yaman.

Selama beberapa pekan belakangan, koalisi militer pimpinan Arab Saudi meningkatkan serangan udara terhadap daerah di sepanjang Pantai Laut Merah di Yaman dalam upaya nyata untuk mendukung pasukan Pemerintah Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi guna mengusir petempur milisi Syiah Al-Houthi dari Kota Pelabuhan Hodyada.

Yaman telah terjerumus ke dalam perang saudara dan campur tangan militer pimpinan Arab Saudi selama sekitar dua tahun. Perang saudara itu meletus setelah petempur Al-Houthi dengan dukungan pasukan yang setia kepada mantan presiden Ali Abdullah Saleh mengusir pemerintah transnasional dukungan PBB dan secara militer menduduki Ibu Kota Yaman, Sanaa, pada September 2014.

Pemerintah yang sah pimpinan Presiden Hadi menguasai beberapa bagian selatan dan timur Yaman, sementara aliansi Al-Houthi-Saleh menguasai bagian lain termasuk Sanaa.

PBB telah beberapa kali menaja pembicaraan perdamaian antara semua faksi yang berperang, tapi semua faksi tersebut gagal mencapai kesepakatan.

Perang saudara, pertempuran darat dan serangan udara sudah menewaskan lebih dari 10.000 orang, separuh dari mereka warga sipil, melukai lebih dari 35.000 orang dan membuat lebih dari dua juta orang meninggalkan tempat tinggal mereka, kata beberapa lembaga kemanusiaan.

Editor: Didik Trio
Sumber: Antara News
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help