BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Spirit

Melaju dalam Sepi

SEKARANG boleh Anda tanya siapa juara ganda putra bulutangkis All England yang baru saja meraih gelar di Inggris?

Melaju dalam Sepi
dokbpost
H Pramono BS

SEKARANG boleh Anda tanya siapa juara ganda putra bulutangkis All England yang baru saja meraih gelar di Inggris? Hampir pasti orang akan angkat bahu tanda tak tahu. Nama pasangan Indonesia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamulyo tak sempat mampir di benak mereka meski baru Minggu (12/3) dini hari mencetak prestasi terbaik dan satu-satunya dari Indonesia di All England.

Dulu orang akan dengan mudah menjawab siapa juara All England, siapa juara Piala Thomas, siapa juara Asia, siapa juara dunia. Tahun-tahun 1960an sampai 1970an siapapun akan bisa menjawab pertanyaan itu. Nama juara tunggal putra All England Rudy Hartono (7 kali juara berturut-turut) atau Liem Swie King tak asing lagi.

Atau nama juara ganda putra Christian/Ade Chandra, Tjuntjun/Johan Wahyudi, ganda putri Minarni/Retno Kustiyah atau nama-nama setelah generasi itu semua ada di kepala. Bahkan nama pemain luar negeri pun kita hafal, seperti Svend Pri (Denmark) yang pernah mengalahkan Rudy Hartono, Tan Aik Huang (Malaysia), Prakash Padukone (India), Flemming Delfs (Denmark) dll.

Berbagai kejuaraan dunia seperti Piala Thomas, All England, Olimpiade, Asian Games, kejuaraan Asia semua disabet oleh para atlet kita. Kebanggaan yang luar biasa, dunia mengakui keunggulan itu dan bulutangkis menjadi tulang punggung untuk menambang emas.

Rakyat juga mendukung tak alang kepalang. Semasa belum semua orang punya radio, rakyat berkumpul di rumah-rumah tetangga yang ada radio, semasa televisi baru ada satu dua, orang berbondong-bondong ke televisi umum, atau rumah warga yang punya TV.

Nah, di era informasi sekarang bulutangkis pun ikut kena getahnya. Badminton, istilah lain untuk bulutangkis, seperti ditinggalkan oleh rakyat. Mereka sibuk mencari kesukaannya melalui twitter, face book, hoax atau togel. Gadget menyediakan semuanya.

Dari dulu hanya sepak bola yang tak pernah kehilangan penggemar, meski tak pernah berprestasi di arena internional. Jangankan juara Asia, Asia Tenggara pun tidak. Padahal biaya pembinaannya paling besar, penggemarnya paling banyak, tapi keributannya juga pegang rekor, khususnya keributan antarpengurus.

***

Kompetisi bulutangkis sekarang memang beda dengan dulu. Dulu kompetisi daerah dan nasional sangat ditonjolkan untuk mencari bibit baru. Sekarang tak terdengar lagi, yang ada hanya pemusatan latihan dengan pemain dari klub-klub ternama seperti Djarum. Hampir sama dengan sepak bola yang tak ada lagi kompetisi tingkat rayon, antarklub amatir dll. Yang ada langsung comot dari luar negeri.

Sifat pertandingannya pun berbeda, dulu masih amatir termasuk Piala Thomas dan All England. Sekarang sudah profesional, pemain mendapat bayaran. Dulu pemain yang menjadi juara mendapat hadiah rumah, mobil atau lainnya yang dikoordinasikan oleh pengurus daerah bulutangkis. Sekarang segepok uang sudah ada di rekening.

Padatnya pertandingan membuat banyak pemain dunia bangkit dan Indonesia mendapat saingan berat. Bagi Indonesia persaingan ini sangat terasa sejak Tiongkok ikut dalam kejuaraan bulutangkis internasional di era 1980 an. Sebelumnya Tingkok tidak diakui.

Penentuan peringkat dunia pun dilakukan lewat berbagai kejuaraan resmi di bawah organisasi bulutangkis internasional, misalnya pertandingan super series, grand prix, kejuaraan-kejuaraan terbuka di berbagai belahan dunia, kejuaraan dunia dll.

Kegiatan bulutangkis jalan terus tapi kurang gemanya khususnya di Indonesia yang pernah menjadi raja bulutangkis. Pertandingan sekelas All England pun pemberitaannya di media sangat kurang.

Dulu laporan langsung dari tempat pertandingan merupakan informasi yang amat ditunggu. Begitu ramainya media memberitakan, bahkan Radio Republik Indonesia (RRI) begitu riuh rendah melaporkan jalannya pertandingan secara langsung. Pendengarnya bisa terhenyak, kadang ikut sesak napas.

Meski tidak mungkin kembali seperti dulu karena kecanggihan teknologi, Asian Games yang akan digelar tahun depan di Indonesia diharapkan bisa membangkitkan lagi olah raga bulutangkis rakyat. Sekarang ini ibarat bahtera yang berlayar di lautan, menerjang badai membelah ombak, terus melaju dalam sepi. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help