BanjarmasinPost/

Dukun Ibrahim Mat Zin Alias Raja Bomoh Diringkus karena Dianggap Permalukan Islam

Perintah penangkapan dilayangkan atas dukun populer asal Malaysia Ibrahim Mat Zin lantaran dianggap telah mempermalukan ajaran Islam.

Dukun Ibrahim Mat Zin Alias Raja Bomoh Diringkus karena Dianggap Permalukan Islam
Star Online/ST PHOTO/SHANNON TEOH
Ibrahim Mat Zin alias Raja Bomoh 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KUALA LUMPUR - Perintah penangkapan dilayangkan atas dukun populer asal Malaysia Ibrahim Mat Zin lantaran dianggap telah mempermalukan ajaran Islam.

Dukun yang populer dengan nama Raja Bomoh itu kembali mencuat namanya di publik Malaysia atas klaimnya dapat melindungi Malaysia dari serangan rudal Korea Utara.

Klaim tersebut disampaikannya melalui sebuah video berdurasi tiga menit, yang memperlihatkan dirinya melakukan ritual klenik di sebuah pantai.

Menurut Ibrahim Mat Zin, ritualnya yang menggunakan dua buah kelapa, lima batang bambu, sebuah karpet, dan semangkuk air laut itu dapat menangkis rudal agar tak sampai ke Malaysia.

"Kita bisa menggunakan metode kuno untuk membentengi udara, tanah, dan air kita, jadi rudal tak akan sampai sini" ucapnya lagi.

Video Ibrahim Mat Zin itu kemudian menjadi viral, setelah sebelumnya ia juga sempat menjadi perhatian atas klaimnya dapat menemukan pesawat hilang MH370.

Ibrahim Mat Zin berulangkali menekankan bahwa apa yang dilakukannya itu semua berdasarkan ajaran Islam.

Namun, klaim Ibrahim Mat Zin itu dikritik oleh banyak ulama dan bahkan membuatnya berurusan dengan Polisi Diraja Malaysia.

"Aksi kleniknya telah mempermalukan negara dan tak sesuai dengan ajaran agama," kata Inspektur Jenderal Kepolisian Malaysia Tan Sri Khalid Abu Bakar.

Khalid Abu Bakar juga mengatakan pihaknya akan menangkap Ibrahim Mat Zin untuk dimintai keterangan terkait sejumlah laporan yang dilayangkan ke polisi atasnya.

Selain dianggap haram, aksi klenik Ibrahim Mat Zin juga tak jarang mengundang dijadikan bahan tertawaan oleh publik Malaysia. (Star Online)

Editor: Ernawati
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help