BanjarmasinPost/

Kebesaran Aceh

Sabang kiranya tidak akan terkenal dan penting andai ia bukan bagian dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD),

Kebesaran Aceh
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

Minggu lalu saya beruntung bisa berkunjung ke Aceh untuk kedua kalinya. Kali ini, saya senang sekali bisa sampai ke Sabang, kota yang terletak di ujung paling Barat Indonesia itu. Kami naik kapal laut dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, menuju Pelabuhan Balohan, Sabang. Kemudian dilanjutkan naik bus lewat jalan pegunungan yang terjal dan berliku hingga sampai ke Kilometer Nol Indonesia.

Ketika masih kanak-kanak, kita tentu sering menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke ciptaan R Suharjo. Sepanjang perjalanan sembari menikmati keindahan laut, pulau, pantai dan gunung, saya seolah menyaksikan di alam nyata apa yang selama ini hanya ada dalam lagu dan impian. “Dari sinilah pulau-pulau Indonesia berjajar hingga ke Merauke. Indonesia memang amat luas dan besar!” batinku.

Namun, Sabang kiranya tidak akan terkenal dan penting andai ia bukan bagian dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), satu daerah dengan sejarah panjang yang sangat dinamis. Siapapun yang berbicara tentang sejarah Islam di Nusantara, tak akan mungkin mengabaikan Aceh. Kesultanan Aceh di masa lampau adalah kesultanan yang amat berpengaruh dan menjalin kerja sama internasional hingga ke Kesultanan Turki Usmani.

Saat jamuan makan malam di Balaikota minggu lalu itu, seorang pejabat mengatakan, Kota Banda Aceh sudah berusia 812 tahun. Kota setua itu tentu menyimpan banyak kenangan. Malam itu, kami dihibur dengan satu tarian. Para penarinya adalah lelaki muda, memukul terbang serempak sambil berselawat dan berzikir. Suara dan gerakan mereka sangat cepat dan keras, dan berhenti secara tiba-tiba.

Entakan keras dan tiba-tiba itu seolah menggambarkan kenangan yang tersimpan dalam sejarah Aceh yang penuh dinamika. Sejak awal abad ke-17, Islam di Kesultanan Aceh bukan hanya ritual massal, tetapi juga perdebatan intelektual yang hebat. Di sinilah muncul ulama-ulama besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani (w.1630 M), Nuruddin ar-Raniri (w.1658 M) dan Abdur Rauf Singkil (w. 1693 M).

Debat keislaman di abad ke-17 itu menyangkut doktrin metafisika tasawuf yang canggih dan rumit, yang sempat berujung pada pembakaran sejumlah kitab tasawuf yang dianggap sesat di halaman Masjid Baiturrahman, bahkan pembunuhan terhadap para pengikut ajaran tasawuf itu. Namun pada masa berikutnya, ada upaya penafsiran ulang dan pembelaan terhadap ajaran yang dianggap sesat itu.

Gerakan Perlawanan
Pada abad ke-19, kolonialisme Belanda tidak mudah menguasai Aceh. Mitos dijajah Belanda selama 350 tahun dibantah oleh sejarah Aceh. Perang Aceh adalah perang terdahsyat, berlangsung dari 1872 dan berakhir pada 1904 setelah Panglima Polem dan Cut Nyak Dhien tertangkap. Hingga kini, kita dapat menyaksikan bangunan dan kuburan peninggalan Belanda di Banda Aceh, Sabang dan kota lainnya.

Perang Aceh, sebagaimana perang daerah lainnya seperti Perang Padri (1803-1838) di Sumatera Barat, Perang Diponegoro (1825-1830) di Jawa, dan Perang Banjar (1859-1906) di Kalimantan Selatan, adalah gerakan perlawanan berbasis solidaritas Islam. Karena itu, jika nasionalisme diartikan sebagai anti-kolonialisme, maka Islam adalah kekuatan penggeraknya yang amat kuat sejak abad ke-19 itu.

Pada era kemerdekaan, Aceh terus bergolak. Karena kecewa dengan pemerintah pusat, pada 1953, pemimpin Aceh, Daud Beureueh, beraliansi dengan gerakan Negara Islam Indonesia Kartosoewirjo. Namun pada 1962, Daud Beureueh menyerah. Kelak, pada 1976, Hasan di Tiro memimpin gerakan kemerdekaan Aceh. Pada 1990-1998, Aceh resmi dijadikan Jakarta sebagai Daerah Operasi Militer (DOM).

Pergolakan bersenjata di atas tentu sangat banyak memakan korban. Namun seolah seperti irama musik tarian Aceh yang mengentak dan mengejutkan, pada 26 Desember 2004, Aceh ditimpa gempa tsunami. Ribuan orang meninggal dan banyak sekali harta benda yang sirna. Tetapi musibah ini juga mendorong solidaritas kemanusiaan sedunia. Tsunami akhirnya membuka hati orang Aceh untuk perdamaian.

Sejarah Aceh adalah bukti kebenaran pernyataan Bung Hatta bahwa persatuan bukanlah persatean, yakni tidak bisa dipaksakan. Sejarah Aceh adalah sejarah kebesaran yang lahir dari dinamika dan gejolak. Indonesia besar karena Aceh, dan Aceh besar karena menjadi bagian dari Indonesia. Itulah kiranya harapan kita semua! (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help