Krisis SDA yang Terbatas

Krisis air bersih membuat sebagian besar penduduk Indonesia terpaksa mengonsumsi air yang tidak layak minum.

Krisis SDA yang Terbatas
BPost Cetak
Rahmad Ba'agil 

(Refleksi Menyambut Hari Air Sedunia)

Air tawar sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan manusia. Tanggal 22 Maret setiap tahun diperingati sebagai Hari Air Sedunia (World Water Day).

Banyak yang lupa bahwa air bersih adalah sumber daya alam (SDA) yang terbatas (scarcity). Perubahan lingkungan, rusaknya daerah aliran sungai (DAS), pencemaran air dan limbah serta ketiadaan akses ke sumber air bersih menjadi problem yang akan semakin mengemuka di masa yang akan datang.

Menurut data, 70 persen permukaan bumi kita adalah air. Akan tetapi dari semua air itu 97 persen adalah air asin dan sisanya tiga persen adalah air tawar. Persentase air tawar tadi masih dibagi dengan es, air tanah, air permukaan dan uap air. Selain itu, tidak semua air tawar layak untuk diminum. Itu juga belum termasuk air yang tercemar oleh manusia. Serta tidak semua daerah di dunia ini mendapatkan porsi air yang cukup.

Krisis air bersih membuat sebagian besar penduduk Indonesia terpaksa mengonsumsi air yang tidak layak minum. United States Agency for International Development (USAID) dalam laporannya (2007), menyebutkan, di berbagai kota di Indonesia menunjukkan hampir 100 persen sumber air minum kita tercemar oleh bakteri E coli (sering ditemukan di usus besar manusia/kotoran) dan coliform (indikator air telah terkontaminasi patogen/mikroorganisme parasit).

Bisa kita katakan bahwa air yang dikonsumsi pada lokasi penelitian USAID tersebut semua dapat dikatakan tercemar. Badan Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin menyatakan air sungai yang membelah Kota Banjarmasin berkualitas buruk karena tingginya tingkat pencemaran. Tingkat kualitas air berada di level minus 155 alias tercemar berat (dikutip dari pernyataan Hamdi selaku Kepala BLH Banjarmasin (Tempo.co, 21/4/2016). Hal ini senada dengan tajuk Banjarmasin Post (Selasa, 14/3/2017) Tinggalkan Budaya Jamban bahwa seluruh sungai di Kota Banjarmasin telah tercemar Escherichia coli (E coli).

Permasalahan air di dunia tentu akan berakibat langsung kepada manusia yang sangat memerlukan air dalam setiap sendi kehidupannya. Acara forum air sedunia (World Water Forum) di Den Haag pada Maret 2000, menyebutkan bahwa negara kita yang kelihatan sangat kaya air diprediksi apabila tidak mampu mengelola air dengan baik akan termasuk negara yang mengalami krisis air pada 2025. Hal yang harus menjadi perhatian kita bersama menyikapinya.

Bertambahnya kebutuhan air dan potensi ketersediaannya sangat tidak seimbang sehingga menekan kemampuan alam dalam menyediakan air. Kerusakan hutan dan alih fungsi hutan, pencemaran yang terjadi di hulu serta sistem pendistribusian dan air permukaan yang terbuang percuma (run off) menjadi beberapa sebab pemanfaatan air menjadi belum efektif dan efisien. Sebagai gambaran pada musim hujan banyak daerah yang mengalami banjir dan ketika musim kemarau malah kekeringan. Melimpahnya air ternyata tidak dapat diserap alam kita karena berubahnya fungsi hutan.

Sanitasi dan Perilaku

Pada ringkasan kajian UNICEF di Indonesia pada Oktober 2012 disebutkan sanitasi dan perilaku kebersihan yang buruk serta air minum yang tidak aman, berkontribusi terhadap 88 persen kematian anak akibat diare di seluruh dunia. Bagi anak-anak yang bertahan hidup, seringnya menderita diare berkontribusi terhadap masalah gizi, sehingga menghalangi anak-anak untuk dapat mencapai potensi maksimal mereka. Kondisi ini selanjutnya menimbulkan implikasi serius terhadap kualitas SDM dan kemampuan produktif suatu bangsa di masa yang akan datang.

Halaman
12
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help