NEWS VIDEO

Uniknya Pedagang Kaki Lima di Kota Makkah, Hotel Jadi Tempat Bersembunyi

Keberadaan PKL di Kota Makkah juga cukup unik. Aksi mereka seperti main kucing-kucingan dengan Baladia (semacam petugas Satpol PP di tanah air).

BANJARMASINPOST.CO.ID - BAGI masyarakat di tanah air, pedagang kaki lima (PKL) bukan hal yang asing. Mereka mudah ditemui di mana-mana, terutama di sekitar pusat-pusat keramaian seperti pasar, tempat wisata, di pinggir-pinggir jalan, di atas tratoar bahkan di gang-gang sempit.

Keberadaan mereka selalu menjadi permasalahan bagi setiap daerah, hingga saat ini. Mereka dianggap ilegal karena menempati ruang publik, merusak keindahan dan kerapihan kota, menimbulkan kemacetan bahkan kecelakaan. Tidak heran kalau PKL sering jadi sasaran penertiban dan penggusuran petugas Satpol PP.

Fenomena PKL muncul juga di Kota Suci Makkah. Bedanya, kalau di tanah air biasanya menggunakan gerobak dorong dan menjual makanan dan minuman, di sini mereka membawa barang dagangan dalam buntalan kain. Mereka datang berkelompok, lalu menyebar di sepanjang jalan hingga di depan hotel di sekitar Masjid Haram. Kedatangan ribuan jemaah umrah dari berbagai negara di dunia merupakan ladang rezeki bagi mereka.

Barang yang mereka tawarkan juga bermacam-macam, terutama untuk keperluan ibadah, seperti kopiah, tasbih, minyak harum, kerudung, fasmina, pakaian muslim wanita dan laki-laki, sajadah, Alquran, perhiasan seperti jam tangan, gelang, cincin dan lain-lain. Harga yang ditawarkan relatif terjangkau mulai 2 real hingga 50 real, tergantung jenis barang.

Para PKL yang kebanyakan kaum perempuan (maaf: berkulit hitam) sudah bermunculan sejak pagi-pagi menyongsong jemaah yang keluar dari Masjidil Haram. Menjelang siang mereka menghilang. Para PKL ini muncul lagi pada sore hari saat Ashar hingga menjelang malam.

Bagi mereka yang sudah pernah berhaji atau menunaikan ibadah umrah, keberadaan ratusan PKL ini sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Berbeda di Kota Madinah, tidak terlihat PKL berkeliaran di jalan-jalan. Lapak pedagang kali lima memang disediakan tempat khusus. Salah satu lokasi pasar murah berada di sebelah kanan Masjid Nabawi dan hanya berjarak satu blok, sekitar 50 meter dari pintu (gate) 8 atau pintu 10. Berada di tepi jalan, lokasi PKL cukup luas sekitar 1 hektare. Pedagang bebas berjualan, tanpa khawatir ditertibkan petugas keamanan.

Lapak padagang menggunakan tenda-tenda, pedagang perempuan kebanyakan memakai burqa. Berbagai barang mulai sendal, jam tangan, kopiah, busana muslim gamis, fasmina, kerudung, hijab, perhiasan, cinderamata (umumnya produk China), buah kurma hingga beragam coklat ada di sini. Harga barangnya juga lebih murah dari pertokoan di Kota Madinah.

Karena tidak ada PKL berkeliaran membuka lapak, jalan-jalan di sekitar Masjid Nabawi pun terlihat lebih rapi.

Keberadaan PKL di Kota Makkah juga cukup unik. Aksi mereka seperti main kucing-kucingan dengan Baladia (semacam petugas Satpol PP di tanah air). Saat membuka lapak di atas aspal, mereka celingak-celinguk memperhatikan kalau-kalau ada petugas.

Begitu melihat ada petugas yang datang, mereka langsung membungkus kembali dagangannya, kemudian berlarian sambil memanggul buntalan barang jualan. Mereka tak memperduliakan apapun, termasuk pembeli yang sedang bertransaki. Mau jualannya terbayar, barang diserahkan atau belum, atau uang pembeli ada di tangan, yang penting selamat.

Sepanjang tidak ada petugas, mereka pun bebas menawarkan barang jualan kepada jemaah yang baru keluar dari Masjid Haram. Sebagian besar pedagang menawarkan barang menggunakan bahasa Indonesia. Mereka juga mau melayani traksaksi menggunakan uang rupiah pecahan Rp 50.000 atau Rp 100.000.

“Murah, cuma 20 real, Ini lima baju 100 real,” ujar seorang pedagang kepada para jemaah dengan ramah menawarkan baju muslimah.

Tetapi ketika diajak berkomunikasi lebih jauh dengan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, mereka menggelangkan kepala dan menyatakan hanya mengerti bahasa Arab. “Arabic, arabic,” ujar satu pedagang yang ditemui di Ajyad Street.

Saat melakukan tawar menawar dengan para jemaah, para pedagang cukup ramah. Tetapi ada juga satu dua pedagang umumnya laki-laki yang kadang bersikap kasar dan marah saat terjadi tawar- menawar. “Uang saya langsung diambil dari tangan, padahal saya cuma menawar sekali barangnya,” ujar Luftiullah, seorang jemaah Umrah Idaman2 Kaltrabu, ketika membeli fasmina untuk istrinya.

Kebanyakan PKL di Kota Makkah membuka lapak sekitar di Ajyad Street, samping Hotel Al Safwah yang hanya berjarak dua menit dari Masjidil Haram. Sejak pagi mereka berjejer duduk lesehan di sepanjang jalan samping hotel dan supermarket Al Safwah menunggu jemaah pulang dari masjid. Nah, Supermarket dan Kompleks Perhotelan menjadi tempat persembunyian saat ada petugas Baladia.

Mereka secepat kilat membungkus dagangan kemudian berlarian menyelamatkan diri masuk ke Kompleks Al Safwah Hotel. Mereka secara bergerombol berputar-putar di lorong-lorong pertokoan Kompleks Al Safwah sambil memanggul barang dagangan.

Beberapa pedagang turun bersembunyi ke lantai bawah hotel, ada juga yang naik eskalator ke foodcourt di lantai tiga yang merupakan lobby Al Safwah hotel. Begitu petugas pergi, mereka kembali ke jalan dan membuka lapak dagangan.

Para pedagang juga terlihat marak di sekitar pintu keluar Masjidil Haram depan pintu gerbang kediaman Raja Arab hingga di sepanjang jalan King Abdul Aziz Street arah ke Ajiziyah yang merupakan kawasan pertokoan dan perhotelan tempat menginap jemaah dari berbagai negara. Di lokasi ini juga sering ditertibkan petugasl.

Ketika petugas Baladia datang, wanita-wanita pedagang tersebut langsung berlarian sambil membawa buntalan dagangan lalu turun ke torowongan dengan meniti dinding jalan. Begitu petugas menjauh mereka kembali menggelar lapak..

Beberapa pedagang yang lengah dan tertangkap petugas. Petugas yang datang langsung menginjak kain lapaknya jualannya, sehingga hanya lari dengan tangan kosong dan terpaksa membiarkan barangnya disita petugas. Barang tersebut kemudian diambil dan dimasukkan ke dalam kendaraan petugas.

Marak 5 Tahun Terakhir

Menurut Ustad Sobirin salah seorang pembimbing jemaah Umrah Idaman 2 Kaltrabu, yang tinggal di Kota Mekkah sejak tahun 1995, keberadaan para PKL tersebut mulai marak seiring meningkatnya kedatangan jemaah umrah sekitar 5 tahun terakhir.

“Dulu mereka marak hanya saat musim haji. Lima tahunan terakhir setelah jemaah umrah semakin meningkat, mereka makin banyak berdatangan dan terus bertambah ramai.

Kata Sobirin, kebanyakan mereka berasal dari suku Takroni di Nigeria, ada juga yang dari Somalia. Mereka kebanyakan merupakan anak buah dari pemilik toko-toko di sekitar Kota Makkah. “Tinggalnya juga di tempat bos mereka. Tapi ada juga yang memang berjualan sendiri,” ujarnya.

PKL anak buah pemilik toko, lanjut Sobirin, biasanya barang yang mereka jual adalah barangnya baru, masih terbungkus rapi dan harganya juga biasanya lebih mahal. Sedangkan yang modal sendiri, biasanya harganya jauh lebih murah, barangnya juga biasanya sudah lama. “Mereka biasanya membeli di tempat-tempat konveksi atau toko-toko yang menjual murah atau barangnya dikasih orang. Lalu mereka jual kembali kepada para jemaah,” ujarnya.

Keberadaan mereka sering dikeluhkan para pemilik toko di sekitar Kota Makkah karena menjual barang lebih murah sehingga toko malah tidak laku. Mereka berjualan di jalan sering mengganggu kelancaran lalu lintas, sehingga ditertibkan petugas.

“Pemilik toko yang merasa tersaingi melapor kepada petugas, agar menertibkan PKL. Ada juga yang tertangkap, tetapi sehari kemudian dilepas kembali, sedangkan barangnya disita,” ujar Ustadz Sobirin.(Banjarmasin Post/Epianur Achmad)

Penulis: Elpianur Achmad
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved