BanjarmasinPost/

Serambi Ummah

Mau Anak Dekat Ayah, Ciptakan Mainan dari Bahan Limbah

Menurut Melinda, dengan menciptakan mainan sendiri bersama anak, maka akan merangsang kreativitas anak.

Mau Anak Dekat Ayah, Ciptakan Mainan dari Bahan Limbah
Banjarmasinpost.co.id/Edi Nugroho
Melinda Bahri 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Orangtua perlu memilihkan mainan edukasi bagi anak yang dititipkan PAUD ataupun baby sister. Mainan edukatif itu seperti puzzle, balok-balok ataupun membuat mainan sendiri bersama anak dan orangtua.

"Pilihkan mainan edukatif buat anak yang merangsang perkembangan motorik anak. Kalau perlu bikinlah mainan berbaban dari bahan limbah. Jadi anak-anak dan orangtua bareng-bareng bikin mainan dari bekas botol minuman," kata Melinda Bahri, S.Psi, Psikolog Klinis RSUD Ansyari Saleh Banjarmasin, Kamis (23/3/17).

Menurut Melinda, dengan menciptakan mainan sendiri bersama anak, maka akan merangsang kreativitas anak. Bahkan, akan meningkatkan kelekatan psikologis seorang anak dengan ayah
atau pun mendekatkan anak ke figur seorang ayah.

Dikatakan Melinda, jika anak dititipkan ke PAUD biasanya di PAUD itu sudah lengkap dengan alat peraga untuk merangsang perkembangan anak. Namun begitu orangtua perlu aktif memantau situasi PAUD, yakni seperti apa tempatnya, bagaimana keamanan lingkungan, apakah pengasuh di PAUD itu perhatian terhadap anak-anak atau tidak.

Orangtua, sambung Melinda, juga perlu mengerti apa aktivitas seharian anak di PAUD, bagaimana juga dengan kebersihan lingkungan PAUD. Sebab, orangtua menitipkan anak di PAUD itu cukup lama, yakni mulai sekitar pukul 08:00 Wita sampai pukul 17:00 Wita.

Jika anak sudah pulang ke rumah, sambung Melinda, orangtua perlu berkomunikasi interaktif dengan anak. Ketahui ekspreasi anak seperti apa, apakah bahagia ataukah murung. Jadi orangtua tak hanya menjemput anak, tapi juga melihat gesture anak, apakah cerita anak di PAUD itu menyenangkan ataukah tidak.

Dijelaskan Melinda, meski orangtua sibuk atau menjadi wanita karir, tapi orangtua tidak boleh melewatkan golden age anak yakni usia emas anak sampai usia lima tahun. Pertumbuhan fisik dan psikologis anak pada usia emas itu pesat sekali.

Komunikasi yang yang nyaman, sambung Melinda, salah satunya di malam hari. Meski satu dua jam sama berkomunikasi dengan anak, berkomunikasikah dengan anak dengan cara yang berkualitas.

"Pancing anak, tadi di sekolah bermain apa, seperti apa teman-temanmu. Ungkap lewat komunikasi, apa yang disenangi anak dan apa yang tidak disenangi anak. Dari sini, kita akan bisa mengevaluasi kekurangan dan kelebihannya apa menitipkan anak di PAUD atau pun di babys sister," ujarnya.

Penulis: Edi Nugroho
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help