Smart City Impian Kita

Mendapat predikat smart city atau kota cerdas pasti menjadi impian semua kota di seluruh penjuru dunia. Apalagi melihat zaman

Smart City Impian Kita
BPost Cetak
Muh Fajaruddin Atsnan 

Oleh: MF ATSNAN MPD
Dosen STKIP PGRI Banjarmasin

Mendapat predikat smart city atau kota cerdas pasti menjadi impian semua kota di seluruh penjuru dunia. Apalagi melihat zaman sekarang dengan modernisasinya, dimana tenaga manusia banyak diganti mesin, ditambah teknologi informasi (TI) dan komunikasi pun secara cepat masuk ke setiap lini segmen masyarakat. Perubahan zaman tersebut, berdampak pada peradaban manusia modern yang semakin berkembang dengan cepat di berbagai bidang khusunya di bidang pembangunan kota.

Smart city sejatinya merupakan suatu konsep yang mampu menjawab perubahan zaman dan perkembangan peradaban manusia, yang kemudian dirancang untuk meringankan kegiatan masyarakat dalam mengelola sumber daya serta memudahkan masyarakat mengakses informasi dari berbagai bidang dengan teknologi yang serbamodern. Namun demikian, perlu indikator ataupun parameter yang baku (standar) khususnya pada tataran Indonesia, untuk menentukan suatu kota layak disebut smart city atau sebatas baru menuju smart city.

Akibat dunia industri yang terus berevolusi, sehingga kota pun menjadi salah satu tempat pertumbuhan ekonomi, menjadi pemicu banyak negara yang berbondong-bondong menerapkan konsep smart city di kota-kota mereka. Dilansir dari laman Forbes, ada beberapa identifikasi mengenai komponen dari smart city, berupa komponen yang harus dimiliki suatu kota mencakup teknologi, gedung, keperluan, transportasi, serta smart city itu sendiri.

Mengenai peringkat smart city, menurut The IESE Business School, sebuah sekolah penelitian di Spanyol, melalui penilaian indeks yang disebut Cities in Motion Index (CIMI), dengan cara mengutus peneliti ke 135 kota di 55 negara dan mengukurnya dengan 50 indikator menasbihkan Kota Tokyo, Jepang sebagai smart city terbaik di dunia.

Konsep Kota Cerdas
Perencanaan smart city merupakan agenda global sebagai respons konseptual dan praktis terhadap berbagai krisis perkotaan di dunia. Sasaran utamanya untuk mengembalikan hubungan antara manusia, ruang binaan dan ruang alami yang lebih harmonis, tidak saling menyakiti.

Di Indonesia, perlu indikasi awal atau prasyarat, suatu kota layak mendapat predikat smart city, tentu dilihat dari sudut pandang kinerjanya. Suatu kota layak dilabeli smart city manakala semua sistem yang bekerja di dalamnya berjalan dengan baik. Misalnya ukuran sistem bekerja dengan baik adalah ketika berpandangan ke dalam ekonomi, penduduk, pemerintahan, mobilitas, lingkungan hidup didukung dengan sistem kota yang terkontrol dengan mengintegrasi semua infrastruktur termasuk jalan, jembatan, perpustakaan, waduk, terowongan, rel, kereta bawah tanah, bandara, pelabuhan, komunikasi, air, listrik, dan pengelolaan gedung.

Smart city juga dapat menghubungkan infrastruktur fisik, infrastruktur TI, infrastruktur sosial, dan bisnis infrastruktur untuk meningkatkan kecerdasan kota. Misalnya, suatu smart city akan menggunakan smart computing dan fasilitasnya meliputi pendidikan, kesehatan, keselamatan umum, transportasi yang lebih cerdas, saling berhubungan dan lebih efisien tentunya.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) selaku wakil dari pemerintah tengah mengembangkan delapan atribut yang akan diterapkan dalam konsep smart city di kota dan kabupaten Indonesia. Delapan atribut tersebut nantinya dapat menjadi indikator untuk melihat suksesnya implementasi smart city yang dicanangkan. Delapan indikator dalam konsep smart city tersebut, antara lain smart development planning, smart green open space, smart transportation, smart waste management, smart water management, smart building, dan smart energy.

Pilihan mengenai acuan dimensi smart city yang lebih detail merujuk pada hasil Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Jawa Timur yang dipublikasikan Bank Indonesia yang menyebutkan ada enam dimensi smart city. (1) Smart Goverment (pemerintahan cerdas); diimplementasikan dengan sistem pengelolaan keuangan daerah secara digital, layanan pemerintah berbasis elektronik, sistem informasi keuangan daerah secara online, melalui penyelenggaraan pemerintahan yang good governance. (2) Smart Economy (ekonomi cerdas); khususnya perihal perbandingan linear (lurus) antara inovasi dan peluang usaha, penerapannya melalui pemberdayaan berbagai komunitas usaha terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM); (3) Smart Mobility (mobilitas cerdas); pengelolaan infrastruktur kota yang dikembangkan di masa depan merupakan sebuah sistem pengelolaan terpadu untuk menjamin keberpihakan pada kepentingan publik, seperti intelligent transportation system; (4) Smart People (orang/masyarakat cerdas); pembangunan senantiasa membutuhkan modal, baik modal ekonomi, modal manusia maupun modal sosial; (5) Smart Living (hidup cerdas); misalnya pelayanan kesehatan miskin secara terpadu online, ambulans desa, pengembangan potensi wisata, serta program pelayanan pendidikan terpadu; (6) Smart Environment (lingkungan cerdas); misalnya dirintis melalui pembangunan infrastruktur hijau, ruang terbuka hijau, pembangkit listrik bertenaga.

Kerja Keras di Banua
Di Banua, Kota Banjarmasin sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai potensi besar untuk menuju predikat sebagai salah satu smart city di Indonesia. Diperlukan prasyarat awal yang mengacu pada salah satu definisi smart city sebagai kota yang bisa mengelola sumber dayanya termasuk sumber daya alam (SDA) dan manusia, sehingga warganya bisa hidup aman, nyaman dan berkelanjutan.

Namun faktanya, berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Banjarmasin menyebutkan untuk jumlah penduduk miskin di Kota Banjarmasin (saja) justru makin meningkat yaitu 28.537 jiwa pada 2014 dan 29.950 jiwa pada tahun 2015. Artinya, untuk menuju label Banjarmasin smart city perlu kerja keras untuk melunasi prasyarat awal yang realistis dengan menjamin warga Banjarmasin hidup dalam yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Ketiganya dapat diraih manakala arah kebijakan pemerintah daerah melalui regulasi kota, kabupaten, desa, provinsi cerdas yang jelas dan terukur didukung partisipasi para pemangku kepentingan (stakeholder) untuk mewujudkan mimpi Banjarmasin sebagai smart city. Wallahu a’lam bishawab. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved