BanjarmasinPost/

Serambi Ummah

Mukhtar Sarman: Pahami Subtansi Apa Yang Diperjuangkan Menteri Agama

Gagasan Menteri Agama menyusun pedoman bersama ceramah di rumah ibadah untuk menjaga kerukunan antarumat beragama sangat baik.

Mukhtar Sarman: Pahami Subtansi Apa Yang Diperjuangkan Menteri Agama
Serambiummah.com
Serambi Ummah Edisi Jumat (24/3/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - GAGASAN Menteri Agama, H Lukman Hakim Saifuddin menyusun pedoman bersama ceramah di rumah ibadah untuk menjaga kerukunan antarumat beragama sangat baik.

Pedoman yang disusun sebaiknya bersifat umum, normatif bukan menyangkut teknis. Misalnya di tempat ibadah dilarang menghujat atau mendiskreditkan agama lain, yang dapat menimbulkan friksi atau konflik sosial.

Pedoman yang ditetapkan tak menyangkut ibadah atau keyakinan, tetapi lebih bersifat sosial. Tugas pemerintah menjamin ketertiban umum, termasuk ketertiban dalam kehidupan beragama.

Pedoman itu diharapkan dapat diterapkan semua lintas agama, selain itu juga membatasi ruang gerak kelompok yang ekstrim, yang secara psikologis fanatik terhadap keyakinannya, merasa benar sendiri sehingga tak peduli dengan perbedaan.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat (FISIP ULM) Banjarmasin, H Mukhtar Sarman menegaskan, agama itu pada prinsipnya privasi, keyakinan individu yang tak bisa dipaksakan. Makanya kalau ada aturan yang umum-umum saja, dapat diterima semua pihak.

Dalam konteks kebebasan beragama yang rukun dan damai, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu masyarakat beragama secara rukun, tokoh agama rukun dan tidak terjadi faksi-faksi, ketiga pengikut agama tidak fanatik.

Di negeri ini banyak yang menganut agama secara fanatik, sehingga mudah mengkafirkan penganut agama lain. Ketika suatu agama dipeluk oleh mayoritas komunitas, maka cenderung menjelek-jelakan agama lain.

Fanatisme itu dekat dengan kebodohan. Istilah orang Banjar itu ragap papan, apa kata tuan guru ditelan mentah-mentah. Pemerintah menjamin ketertiban sosial dan menjaga kerukunan antarumat beragama. Kalau semuanya rukun akan damai.

Yang jadi masalah itu, kalau memahami agama sepotong-potong atau menurut sudut pandangnya sendiri. Untuk itulah, pihaknya mendukung upaya penyusunan pedoman ceramah di rumah ibadah.

Para tokoh agama sebaiknya memahami substansinya terlebih dahulu, apa yang akan diperjuangkan Menag. Ini belum apa-apa sudah menolak dulu.

Terkait kehidupan beragama di Kalsel, menurut Mukhtar Sarman rukun dan damai, karena yang mayoritas tak menghilangkan yang minoritas. Meski pada faktanya masih sering terdengar ada penceramah yang mengkafirkan agama lain.

Untuk itulah, umat Islam harus kritis mampu menyikapi persoalan yang muncul, tak menerima masukan secara mentah-mentah tapi dikritisi dan disaring. (drt)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help