NEWS VIDEO

Soal Kabar Pungutan pada Siswa, Ini Kata Kepala SMKN 1

Dia juga mengakui ada sejumlah orangtua yang mau menarik kembali dana yang sudah disumbangkan tersebut.

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Dugaan adanya pungutan liar di SMKN 1 Banjarmasin dibantah oleh kepala sekolahnya, Arsyad Junaedi.

"Tidak benar ada pungli. Yang ada adalah sumbangan yang bersifat sukarela dan tidak mengikat. Wali murid memberikan sumbangan itu sukarela. Artinya berdasar kemampuan. Karena sukarela maka ada bayar yang gak bayar," terangnya, Sabtu (25/3/2017).

Dia juga mengakui ada sejumlah orangtua yang mau menarik kembali dana yang sudah disumbangkan tersebut. "Ya lucu saja. Bagaimana itu kan uangnya sudah disumbangkan kenapa mau ditarik lagi. Kan aneh ada apa. Sementara sekolah sudah membayarkannya kepada guru honor," kata Arsyad.

Arsyad juga kemudian menunjukkan dokumen lainnya ke BPost Online. "Ini mas. Malah ketika dalam rapat komite pleno terakhir September 2016, disepakati Rp 250.000. Orangtua siswa per siswa dari tiga kelas membayar iuran. Besaran itu, waktu itu malah sempat disetujui oleh peserta rapat komite sekolah dan tidak ada sanggahan. Dan malah disahkan oleh kadisdik kota waktu itu, Murlan," kata dia.

Namun, ditegaskan Arsyad, kebijakan ini berlaku untuk keluarga yang mampu. "Bagi yang tidak mampu, SMKN 1 tetap menggratiskan. Ada yang 50 persen bayar, ada 30 persen, totalnya 308 siswa yang meminta keringanan. Tergantung dari kemampuan keluarga itupun banyak yang menunggak," papar dia.

Sekolah, dalam hal ini melakukan transparansi mekanisme anggaran sumbangan yang dikumpulkan. Setiap tahunnya dalam rapat pleno dilaporkan sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga komite sekolah. "Kami juga laporkan tenaga honorer, sebanyak 63 pengawai. Mulai tenaga pengajar hingga TU pesuruh dan penjaga malam, dan dana itu ya kami uraikan," kata Arsyad.

Dia juga menepis adanya dugaan pemaksaan pembayaran atau pembelian dari siswa di bisnis center di SMKN 1. "Terkait bisnis center, ada namanya mata pelajaran ke wirausahaan. Salah satunya materi adalah praktik menjual. Anak diwajibkan praktik menjual, bukan belanja barang senilai Rp 50 ribu tapi siswa diberikan barang untuk menjual kepada kepada konsumen Rp 50.000. Jadi Senilai Rp 50 ribu itu berbentuk barang untuk dijual. Keuntungannya malah untuk anak itu sendiri. "Intinya diberi pelajaran wirausaha", terangnya.

Penulis: Nurholis Huda
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help