BanjarmasinPost/

Kebahagiaan Indonesia

IPM diukur berdasarkan capaian pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Di Indonesia, kesenjangan antara kaya-miskin, desa-kota masih sangat lebar.

Kebahagiaan Indonesia
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

Apakah rakyat Indonesia bahagia? Menurut Laporan Kebahagiaan Dunia 2017 yang dirilis minggu lalu oleh Jaringan Solusi Pembangunan Berkesinambungan, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Indonesia menempati urutan ke-81 dari 155 negara di dunia (Kompas, 21 Maret 2017: halaman 8). Ini berarti, peringkat Indonesia sedikit di bawah tengah.

Pada minggu lalu pula (Kompas, 23 Maret 2017: halaman 1 dan 15), Program Pembangunan PBB melaporkan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 2016 menurun dari peringkat 110 ke-113 dari 188 negara. Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, Indonesia masih jauh di bawah Malaysia yang berada di peringkat 59, tetapi di atas Vietnam (115) dan Filipina (116).

IPM diukur berdasarkan capaian pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Di Indonesia, kesenjangan antara kaya-miskin, desa-kota masih sangat lebar. Rata-rata pendidikan rakyat baru 4,6 tahun dan hampir lima juta anak tidak bersekolah. Sekitar 140 juta orang berpenghasilan kurang dari Rp 20.000 per hari. Selain itu, 19,4 juta orang menderita gizi buruk, dan angka kematian ibu mencapai 305 per 100.000 kelahiran.

Ketika mengukur kebahagiaan rakyat suatu negara, PBB tampaknya juga menggunakan capaian IPM di atas. Selain itu, unsur lain yang dicermati adalah tingkat korupsi, kebebasan sosial dan modal sosial. Warga negara yang paling bahagia adalah yang menikmati kemakmuran merata, memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi kepada pemerintah dan saling mempercayai dalam pergaulan di masyarakat.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa indeks kebahagiaan dari PBB itu adalah berdasarkan ukuran yang kurang lebih bersifat objektif. Berdasarkan ukuran inilah, pembangunan suatu negara dapat dinilai tingkat keberhasilan dan kegagalannya. Tugas utama pengelola negara adalah mewujudkan kebahagiaan itu dalam kehidupan rakyat, sedangkan rakyat harus mendukung dan berpartisipasi.

Kesejahteraan dan Kemakmuran
Dalam Undang-undang Dasar 1945, kita memang tidak menggunakan istilah ‘kebahagiaan’ rakyat, tetapi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Menurut kamus, sejahtera artinya aman sentosa, dan makmur artinya serba berkecukupan. Dalam artian ini, kesejahteraan dan kemakmuran itu objektif, bisa dinilai berdasarkan kenyataan yang diindra, sehingga pengelola negara bisa dituntut untuk mewujudkannya.

Adapun kebahagiaan, selain objektif (nyata), juga subjektif (rasa). Kesejahteraan dan kemakmuran adalah modal kebahagiaan, tetapi bukan kebahagiaan itu sendiri. Orang yang hidup serba berkecukupan dan aman, belum tentu bahagia, jika dia serakah dan tidak pandai bersyukur. Namun, orang yang miskin-papa juga sulit bahagia kecuali jika dia mampu menjalani hidup dengan ikhlas, sabar dan syukur.

Secara subjektif, orang bisa saja pesimistis. Baginya, kebahagiaan itu laksana fatamorgana, indah dari jauh tetapi setelah didekati malah sirna. Orang yang mencapainya akan kecewa atau biasa-biasa saja, sementara orang yang belum mencapainya justru iri dan dengki. Tetapi orang bisa pula optimistis, penuh keyakinan bahwa jika cita-citanya tercapai maka kebahagiaan benar-benar akan diraihnya.

Harus Diperjuangkan
Orang yang bijak kiranya adalah yang realistis, yang memandang hidup sebagaimana adanya. Suka dan duka adalah kenyataan. Kehidupan dunia ini sementara adalah kenyataan. Kekuasaan, kekayaan dan ketenaran takkan abadi. Kekuatan dan kenikmatan jelas terbatas. Tetapi, semua ini adalah ‘jatah’ yang harus dinikmati, disyukuri sekaligus dipertanggungjawabkan kepada sesama manusia dan Tuhan.

Yang pasti, rendahnya indeks kebahagiaan Indonesia menunjukkan bahwa masih banyak sekali masalah sosial di negeri ini. Negara masih belum mampu memenuhi janji-janjinya.

Di sisi lain, ketabahan dan daya tahan rakyat menunjukkan kecanggihan mereka dalam mengelola kebahagiaan subjektif. Mereka umumnya sabar, tidak putus asa, apalagi bunuh diri. Tetapi banyak pula yang lari ke narkoba dan pil jin!

Itulah realitas yang harus disikapi secara realistis, yakni sebagaimana adanya. Kebahagiaan subjektif dan objektif, kebahagiaan perasaan dan kenyataan, kedua-duanya harus diperjuangkan. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help