Travel

Bus Wisata Bakal Dilarang Masuk Kota Yogya, Ini Permintaan Asita DIY

Asosiasi tur dan travel agen Indonesia (ASITA) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Yogyakarta meminta sejumlah pihak untuk melihat lebih cermat wacana pelar

Bus Wisata Bakal Dilarang Masuk Kota Yogya, Ini Permintaan Asita DIY
TRIBUNJOGJA.COM | Hendra K
Pertumbuhan kendaraan di DIY yang begitu cepat mengakibatkan kepadatan kendaraan di ruas-ruas jalan DIY seperti yang tampak di kawasan simpang empat Condong Catur Ring Road Utara, Sabtu (01/10/2016). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, YOGYAKARTA - Asosiasi tur dan travel agen Indonesia (ASITA) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Yogyakarta meminta sejumlah pihak untuk melihat lebih cermat wacana pelarangan bus wisata masuk ke pusat kota.

Dalam hal ini, sarana dan prasarana harus benar-benar siap begitu wacana tersebut direalisasikan untuk mengurangi kemacetan di wilayah ini.

“Kalau saya setuju saja (soal pelarangan bus wisata ke pusat kota). Asalkan, syaratnya fasilitas dan sarananya benar-benar sudah siap. Jangan sampai kebijakan diterapkan, namun tidak ada fasilitasnya,” ujar Ketua DPD ASITA Yogyakarta, Sudiyanto, Rabu (29/3/2017).

Dia menjelaskan, persoalan penting yang harus dipikirkan oleh pemerintah kota (Pemkot) dan DPRD setempat adalah ketersediaan lahan parkir. Hal ini menjadi penting jika penerapan kebijakan ini akan direalisasikan.

Fasilitas berupa lahan parkir ini harus benar-benar mampu menampung jumlah bus pariwisata yang membanjiri Kota Yogya.

Selain itu, dari kantong-kantong parkir, pihaknya juga meminta penyiapan shuttle untuk membawa wisatawan ke pusat kota pun harus benar-benar diperhatikan.

“Shuttle ini harus bisa menampung jumlah wisatawan yang akan menuju pusat kota. Diperhatikan juga kenyamanan, jamnya dan juga ketersediannya,” jelasnya.

Bahkan, dia juga menekankan, agar tidak lagi polusi, shuttle bisa dipilih yang ramah lingkungan, misalnya berbahan bakar gas dan listrik.

Terkait rencana DPRD yang sedang menggodok rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang penataan transportasi lokal dengan pengoptimalan becak tradisional dan andong, Sudiyanto pun meminta agar ada standarisasi.

Menurutnya, pengoptimalan becak dan andong ini akan menjadi bagus jika sumber daya manusia (SDM) dipersiapkan secara matang. (tribunjogja.com)

Editor: Ernawati
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help