Selebriti, Narkoba dan Anak Muda

Pada tahun 1998, Bimbim Slank menulis lagu Balikin. Lirik lagu itu berisi tentang penyesalannya menjadi penyalahguna narkoba.

Selebriti, Narkoba dan Anak Muda
Bpost Cetak
Erwinton Simatupang 

Oleh: ERWINTON SIMATUPANG
Alumnus Fisipol UGM

Pada tahun 1998, Bimbim Slank menulis lagu Balikin. Lirik lagu itu berisi tentang penyesalannya menjadi penyalahguna narkoba. Berkat dorongan dan dukungan orang-orang terdekat, drummer Slank itu akhirnya bisa keluar dari jeratan ‘barang haram’ itu.

Dalam dunia hiburan Tanah Air, kisah penyalahgunaan narkoba di kalangan selebriti memang seperti episode tiada akhir. Ada yang berhasil keluar, seperti Bimbim dan Kaka Slank. Ada pula yang tak jera sekali terjerat kasus narkoba, misalnya Roy Marten dan Fariz RM. Bahkan, ada juga yang berujung pada kematian, seperti Ryan Hidayat.

Kisah para pesohor dalam jeratan narkoba kembali terjadi baru-baru ini. Satuan Narkoba Polres Jakarta Barat menangkap pedangdut Ridho Rhoma karena kasus penyalahgunaan narkoba. Dari hasil penyelidikan polisi, anak Rhoma Irama itu telah menggunakan narkoba dalam kurun waktu yang tak sebentar: dua tahun.

Jebakan Keterkenalan
Sorot lampu panggung dunia hiburan memang begitu menggoda. Malahan, tidak sedikit orang yang rela meninggalkan profesinya demi ambil bagian di dalamnya. Katakanlah, Norman Kamaru. Kondisi itu memang mudah dipahami, sebab panggung hiburan menjanjikan hidup glamor melalui keterkenalan. Di sana, ada sorak sorai penggemar, kilatan lampu blitz wartawan, dan limpahan rupiah.

Sudah jamak diketahui, gaya hidup konsumtif para pesohor jauh di atas kehidupan orang-orang pada umumnya. Dalam berbagai liputan dunia hiburan, misalnya, tidak sedikit dari mereka yang memamerkan barang-barang terbaru berlabel internasional, mewah dan mahal. Jadi, uang bukanlah penghalang bagi selebriti untuk membeli barang apa saja, tidak terkecuali narkoba.

Walaupun terlihat indah, panggung hiburan menuntut kesempurnaan. Para pesohor harus selalu tampil aktif, penuh percaya diri, dan bugar di tengah jadwal syuting, konser, atau jumpa fans yang begitu padat. Ketatnya jadwal itu juga telah menciptakan gap antara kehidupan mereka dan orang-orang di sekitarnya (keluarga dan teman). Akibatnya, ketika mereka berhadapan dengan tuntutan kesempurnaan, dukungan dan pengawasan dari orang-orang terdekat kerap tidak ada.

Untuk keluar dari tekanan itu, tidak sedikit selebriti yang mengkonsumsi narkoba. Dalam perjuangannya keluar dari ketergantungan ‘barang haram’ itu, artis dan supermodel Inggris, Naomi Campbell pernah menyampaikan, “Kokain membuat saya merasa tak terkalahkan, seperti saya dapat menaklukkan dunia. Saya benar-benar sangat percaya diri (ketika menggunakannya).”

Ketika narkoba menyediakan jawaban semu terhadap tuntutan kesempurnaan bagi para pesohor, ketergantungan pun tercipta. Relasi itu akan semakin erat karena narkoba merupakan zat adiktif. Oleh karenanya, para selebriti begitu rentan menjadi penyalahguna narkoba. Apalagi kalau sudah bersentuhan, sangat sulit bagi mereka untuk lepas dari jeratan ‘barang haram’ itu.

Cerdas Menilai
Sebagai publik figur, kehidupan selebriti kerap menjadi panutan bagi anak muda. Bahkan, pengaruh para pesohor mampu mengalahkan pengaruh orangtua, guru, dan teman. Perbedaan antara ‘keren’ dan ‘tidak keren’ di pergaulan kawula muda pun sering diukur seberapa jauh mereka dapat meniru perilaku tokoh idolanya.

Fenomena itu semakin kental belakangan ini dengan banjir informasi di dunia maya. Hanya dengan menekan telepon seluler, anak muda begitu mudahnya melihat perkembangan terakhir dari kehidupan sang tokoh idolanya.

Pada satu sisi, para pesohor harus diakui dapat menjadi inspirasi positif bagi anak muda. Malahan, tidak sedikit dari mereka yang mengajak para fansnya untuk terlibat dalam mengatasi berbagai persoalan di tengah masyarakat. Iwan Fals, misalnya, gencar mengajak para penggemarnya untuk menjaga kelestarian alam. Apabila perilaku positif sang idola yang dijadikan panutan, tentu itu bukan menjadi masalah.

Namun, banyak kelakuan selebriti yang tak patut ditiru anak muda. Penyalahgunaan narkoba adalah salah satunya. Kaum muda mau tidak mau harus cerdas dalam menilai perbuatan sang idola. Meskipun mengagumi sosok seseorang, itu tidak menjadi alasan bagi kaum muda untuk mencontoh seluruh tindak tanduknya. Dengan begitu, anak muda tidak seperti bebek yang berbaris mengikuti si penggembala (idola).

Meskipun begitu, narkoba yang menjerat tokoh idola bukanlah menjadi alasan bagi anak muda untuk membencinya. Perlakuan itu hanya membuatnya semakin terkungkung dalam jurang narkoba. Dukungan dan dorongan terhadapnya untuk keluar dari dunia narkoba merupakan solusi terbaik yang bisa anak muda berikan sebagai penggemar.

Saat ini, narkoba sudah menjadi ancaman di negeri ini. Di Hari Antinarkoba Internasional tahun lalu, Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa setidaknya 49-50 generasi muda yang meninggal dunia setiap harinya karena narkoba. Oleh karenanya, peran anak muda sangat diperlukan untuk membebaskan negeri ini dari bahaya narkoba. Tanpa itu, usaha keras pemerintah mengatasi masalah itu akan terasa sia-sia.

Kaum muda dapat berkontribusi dengan tidak meniru perilaku tokoh idola yang menyalahgunakan narkoba. Mencontoh tindakan itu bukanlah sesuatu yang ‘keren’, akan tetapi konyol. Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahaya dari ‘barang haram’ itu. Jangan sampai, penyesalan datang di kemudian hari, seperti sepenggal lirik Bimbim, “Balikin oh oh balikin kehidupanku yang seperti dulu lagi”. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved