BanjarmasinPost/

Menyoal Nasib Sekolah Swasta

Terlepas dari hal tersebut, kita juga setuju bahwa ada juga sekolah swasta yang tetap hadir memberikan layanan

Menyoal Nasib Sekolah Swasta
Cetak BPost
Moh Yamin 

Oleh: MOH YAMIN
*Dosen Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin,
penulis buku-buku pendidikan

Tajuk harian Banjarmasin Post (28/03/2017) berjudul Jangan Sampai Gulung Tikar cukup menggugah perasaan kita. Tentunya bagi yang memiliki kepekaan sosial terhadap dunia sekolah dan persekolahan swasta yang semakin hari kehilangan eksistensi dan maknanya dalam pembangunan sumber daya manusia.

Tajuk tersebut menyebutkan bahwa sudah semakin banyak sekolah swasta, termasuk yang berada di bawah binaan Pendidikan Guru Republik Indonesia (PGRI) kehilangan siswa. Kendala utama yang dihadapi terkait pembiayaan yang harus ditanggung oleh sekolah-sekolah tersebut, mulai dana operasional hingga biaya sarana dan prasarana pendidikan. Adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak banyak membantu dalam penyelenggaraan pendidikan karena jumlah nominalnya terbatas.

Terlepas dari hal tersebut, kita juga setuju bahwa ada juga sekolah swasta yang tetap hadir memberikan layanan dan pelayanan pendidikan namun itu hanya dapat dihitung dengan jari. Umumnya, sekolah-sekolah tersebut berlabel favorit dengan program dan muatan kurikulum yang melebihi sekolah negeri dan sekolah swasta pada umumnya.

Tentu, sekolah-sekolah sedemikian kemudian hanya bisa dinikmati oleh siswa-siswa dengan ekonomi orang tua kelas menengah ke atas. Bagi orang tua dengan pendapatan rendah dan hanya cukup membiayai dapur supaya asap dapur tetap mengepul, anak-anak mereka kemudian hanya bisa gigit jari.

Kondisi disparitas sekolah sedemikian kemudian melahirkan pelayanan pendidikan yang diskriminatif. Bagi orang tua yang mampu membayar uang lebih terhadap sekolah, anak-anak mereka dipastikan mendapatkan fasilitas lebih. Sedangkan yang tidak mampu membayar lebih, jangan harap agar bisa bersekolah di tempat favorit dengan segala keistimewaan di dalamnya. Ini adalah fakta nyata di hadapan kita semua.

Membaca preseden buruk terkait kondisi sekolah-sekolah swasta miskin dan semakin hilangnya identitas mereka dalam sebuah penyelenggaraan pendidikan, maka sampai kapan pun sekolah swasta dengan kelas miskin--baik secara fasilitas maupun secara program--tidak akan mampu berkompetisi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Apabila Paulo Freire dalam bukunya Sekolah Kapitalisme yang Licik menyebut pendidikan sudah berada dalam cengkraman kapitalisme yang sangat luar biasa, maka inilah yang kemudian kita sebut sebagai hancurnya peradaban bangsa. Hanya sekolah-sekolah berlabel mahal secara ekonomi dapat menyelenggarakan pendidikan, sementara sekolah-sekolah pinggiran sudah dijauhi oleh para siswa karena dipandang tidak memberikan tawaran program dan muatan kurikulum yang mencerahkan.

Hal yang lebih ironis, ketika sekolah-sekolah berlabel kapitalis bekerja membangun pendidikan, para siswa di sekolah tersebut kemudian dicekoki oleh nilai-nilai pendidikan yang elitis. Kita setuju bahwa semua sekolah baik negeri maupun swasta menggunakan kurikulum nasional baik yang bernama Kurikulum 2013 maupun KTSP. Tapi, umumnya setiap sekolah juga akan memasukkan kepentingan sekolah masing-masing kepada para anak didiknya. Kita kemudian tidak bisa menutup mata terhadap realitas itu. Secara terselubung, ada perang kepentingan secara ideologis antara sekolah swasta favorit dan sekolah negeri terhadap sekolah-sekolah lain yang berada di bawahnya secara pengelolaan dan kelas sosial di tengah masyarakat kita.

Ujung Tanduk
Tanpa harus membedakan sekolah swasta pinggiran, sekolah swasta favorit, dan sekolah negeri, sekolah dengan status apa pun sama-sama memiliki kontribusi luar biasa bagi pembangunan sumber daya manusia di manapun berada dari Sabang sampai Merauke.

Halaman
12
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help