Menyoal Nasib Sekolah Swasta

Terlepas dari hal tersebut, kita juga setuju bahwa ada juga sekolah swasta yang tetap hadir memberikan layanan

Menyoal Nasib Sekolah Swasta
Cetak BPost
Moh Yamin 

Keberadaan sekolah swasta pinggiran dan miskin fasilitas justru selama ini banyak membantu penyelenggaraan pendidikan di daerah pinggiran, di daerah dimana banyak anak-anak dari kelas ekonomi tidak mampu bersekolah di sana. Sekolah swasta jauh lebih menjangkau semua kalangan anak-anak dari kelas ekonomi menengah ke bawah agar mereka kemudian dapat mengenyam pendidikan yang sama dengan mereka yang berasal dari ekonomi orang tua kelas menengah ke atas.

Sejarah perjalanan republik ini pun juga membuktikan bahwa sekolah swasta memiliki sumbangan luar biasa bagi pendidikan anak negeri. Jauh sebelum ada sekolah negeri dan sekolah swasta berlabel favorit serta super mahal secara pembiayaan, sekolah swasta dengan label miskin fasilitas sudah mencetak manusia-manusia hebat di masanya (baca: realitas).

Kita sebagai masyarakat yang menyekolahkan anak-anak kita baik ke sekolah swasta favorit dan negeri jangan ahistoris. Mereka yang berada di birokasi pendidikan baik kabupaten/kota, propinsi serta pusat juga jangan memutus dan melupakan sejarah bahwa kehadiran sekolah swasta sudah sangat luar biasa mengawal perubahan kehidupan berbangsa di republik tercinta ini. Kita menjadi bagian dari sejarah perjalanan sekolah swasta dimana kita pernah belajar dan duduk di bangku sekolah swasta tersebut, terutama yang dilahirkan di era tahun 1980-an ke bawah.

Ketika kondisi orang tua kita saat itu hidup dalam keterbatasan secara ekonomi, sekolah pinggiran menolong kita. Tatkala dalam kondisi ekonomi terjepit dan orang tua kita sudah tidak mampu menyekolahkan kita karena faktor ekonomi, sekolah madrasah dan lain sejenisnya yang dikelola secara tradisional dan apa adanya membantu kita untuk tetap sekolah walaupun pembayaran SPP dan lain sejenisnya dapat dicicil atau dihutang. Orang tua kita bisa membayar jika sudah ada uang.

Apabila kini semakin bermunculan sekolah-sekolah swasta berlabel miskin fasilitas dan program mulai gulung tikar, kondisi tersebut jangan sampai terjadi. Pasalnya, yang akan menjadi persoalan ke depannya adalah sekolah berlabel super mahal akan mendominasi dimana saja dan kapan saja.

Tatkala sekolah super mahal menjadi pemain utama dalam sebuah penyelenggaraan pendidikan baik dasar maupun menengah, ke depan kemudian akan terjadi peningkatan angka anak yang putus sekolah secara besar-besaran. Pasalnya, anak-anak dari orang tua kelas ekonomi menengah ke bawah tidak akan mungkin bisa masuk sekolah dengan biaya super mahal sebab untuk kepentingan ekonomi dapur saja, para orang tua sudah bekerja keras agar tetap bisa makan demi bertahan hidup dan mempertahankan hidup secara berkelanjutan.

Selamatkan Sekolah Kita
Tanpa memandang label sekolah apapun, kita semua bertanggung jawab terhadap nasib dan keberadaan sekolah yang hampir mau gulung tikar akibat tiadanya siswa, tiadanya anggaran pendidikan yang memadai untuk biaya operasional sekolah, mungkin juga program dan kurikulum sekolah yang masih belum dirancang secara lebih maju, inovatif, dan kreatif untuk menarik minat orang tua menyekolahkan anak-anaknya dengan tujuan utama menjawab tantangan hidup ke depan. Dengan kata lain, sekolah seyogyanya kemudian tidak mesti harus berbiaya mahal untuk menarik minat banyak calon siswa untuk belajar.

Fasilitas sekolah pun sebetulnya tidak mesti harus super lengkap demi membuat orang tua tertarik menyekolahkan anak-anaknya di tempat tersebut. Yang jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana suasana belajar anak menjadi nyaman dan kerasan dan ini tentu harus dilengkapi dengan kurikulum yang dapat menjawab tantangan hidup ke depan.

Jika kemudian harus dijalin-kelindankan dengan fasilitas dan dana operasional sekolah yang terbatas, di sinilah tanggung jawab negara wajib hadir. Pemerintah daerah dengan dukungan pemerintah pusat harus menyediakan anggaran.

Kehadiran masyarakat terdidik dan cendekiawan pun harus hadir dengan membantu memikirkan jalan keluar untuk pendanaan, sebut saja melalui Corperate Social Responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan tertentu.

Ketika semangat kebersamaan baik secara moral, politik anggaran, dan tanggung jawab sosial dijalankan, tidak ada kata sulit untuk dilakukan demi membangun bangsa yang cerdas dan beradab. Anak-anak dari orang tua kelas menengah ke bawah pun tetap menjalankan pendidikannya demi hari esok yang lebih baik. Akhirnya, tidak ada lagi berita tentang sekolah-sekolah yang harus terpaksa gulung tikar. Semoga. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved