Makar: Polri Paranoid?

TETANGGA sebelah rumah, Kakek Dalimun, tertawa terkekeh saat menyaksikan tayangan di layar kaca polisi menangkap sekelompok orang

Makar: Polri Paranoid?
BPost Cetak
Ilustrasi 

TETANGGA sebelah rumah, Kakek Dalimun, tertawa terkekeh saat menyaksikan tayangan di layar kaca polisi menangkap sekelompok orang yang diduga berupaya menggulingkan Presiden Jokowi. Permufakatan jahat atau dalam bahasa yang mudah dipahami, makar. Demikian yang dituduhkan polisi terhadap Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath bersama tiga lainnya, Zainudin Aryad, Irwansyah, Veddrik Nugraha alias Dikho dan Andre.

Al Khaththath ditangkap di sebuah hotel, Jumat pekan tadi bersamaan berlangsungnya aksi demo damai 313 di Jakarta. Sebelumnya di pengujung tahun lalu aparat mengamankan sejumlah tokoh seperti Sri Bintang Pamungkas, Mayjen (Purn) Kivlan Zein, Rachmawati Soekarnoputri, dan beberapa lainnya dengan pasal yang sama 107 dan 110 KUHP tentang permufakatan makar. Mereka pun diamankan bersamaan saat berlangsungnya aksi demo damai 212 lalu.

Dari dua peristiwa di atas, kita melihat menilai aparat kepolisian terkesan begitu paranoid dalam menyikapi apa yang terjadi di masyarakat. Apa benar mereka yang diamankan itu benar-benar mau melakukan makar? Logika sederhana sulit untuk mengatakan mereka berusaha menggulingkan pemerintahan yang sah. Lha, mereka kan tidak punya kekuatan dan tidak diback-up angkatan bersenjata –yang biasa menjadi patron penting dalam setiap penggulingan kekuasaan pemerintah.

Kita bisa menengok Filipina ketika awal 1980-an Jenderal Juan Ponce Enrile dan Jenderal Fidel Ramos bersama angkatan bersenjata menggulingkan Presiden Ferdinand Marcos. Demikian pula dengan Thailand yang tidak pernah sepi dari kudeta dengan aktor utama adalah militer. Artinya, sangat mustahil mereka yang diamankan polisi itu ingin melakukan kudeta pemerintahan Jokowi, apalagi mereka tidak mendapat dukungan angkatan bersenjata alias militer.

Dan, soal aksi demo damai 212 dan 313, dan bisa jadi akan ada lagi aksi berikutnya, tentunya suatu yang tidak diharamkan di negeri ini. Kaum muslimin melakukan itu karena memiliki tujuan yakni bentuk keadilan dari pemerintah atas kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Sejatinya berbagai aksi itu dilakukan karena pemerintah tidak responsif atas apa yang menjadi tuntutan umat Islam.

Dan, yang membuat kita prihatin ada pimpinan ormas Islam terbesar mencibir, demo 313 membawa-bawa Tuhan (Allah). Sebagai orang awam, jujur saja apa yang disampaikan ulama itu jelas tidak pada tempatnya. Bagaimanapun kalimat Allahu Akbar adalah kalimat agung sebagai bentuk rasa cinta dan kepatuhan umat Islam kepada Yang Maha Kuasa. Coba kita tengok bagaimana para pejuang Palestina menjadikan kalimat Allahu Akbar sebagai penyemangat spiritualitas dalam menghadapi zionis Israel.

Jauh lebih baik kalimat itu digunakan untuk kemaslahatan orang banyak, ketimbang kalimat itu hanya menjadi lip service para pejabat saat diambil sumpah. Belakangan mereka justru menodai makna dalam sumpahnya dengan menggarong uang rakyat.

Memang, kita akui sulit untuk tidak mengatakan aksi demo tidak bernuansa politis. Karena memang semua itu juga berawal dari persoalan politik yang tentunya terus berkembang seperti sekarang ini. Dan, asal tahu saja, apa sih yang tidak bisa dipolitisasi di negeri ini. Soal mobil kepresidenan yang mogok pun ramai jadi konsumsi politik. (*)

Tags
Makar
Tajuk
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help