Orangtua Jangan Selalu Turuti Anak Beli Mainan Baru, Ini Penjelasan Psikolog

Ajaklah anak untuk berdiskusi tentang bagian mana pada mainan yang rusak. Libatkan anak untuk bersama-sama dalam memperbaiki

Orangtua Jangan Selalu Turuti Anak Beli Mainan Baru, Ini Penjelasan Psikolog
khairil rahim
Psikolog ULM, Sukma Noor Akbar 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Mempunyai banyak mainan tentu membuat anak senang. Namun sering mainan-mainan anak menjadi rusak saat dimainkan, bisa karena kualitasnya rendah, dirusak oleh anak sendiri ataupun orang lain dan sebagainya.

Akibat mainan rusak membuat anak menjadi jengkel, marah bahkan ingin segera membeli yang baru.

‎Psikolog Banua dari ULM, Sukma Noor Akbar mengatakan, anak tentu belum mengetahui proses membeli mainan, sehingga tidak merasa menghargai memiliki mainan tersebut.

Orangtua diharapkan tidak dengan mudah mengikuti kehendak anak untuk membelikan mainan baru.

Ajaklah anak untuk berdiskusi tentang bagian mana pada mainan yang rusak. Libatkan anak untuk bersama-sama dalam memperbaiki jika mainan masih bisa diperbaiki.

"Saat berdiskusi, anak bisa diberikan informasi mengenai pentingnya menjaga dan merawat barang yang dimiliki, bagaimana membeli mainan tersebut dan anak tentunya harus berusaha ketika membeli mainan lagi," ujar ‎Ketua Lembaga Unggulan Konsultasi Pelayanan Psikologi (LUKPP) ini.

Hal ini akan melatih anak menjadi lebih kreatif, lebih sederhana, lebih mampu menahan keinginan untuk membeli mainan baru dan adanya rasa kepemilikan yang tinggi terhadap mainan. Sehingga si kecil menjadi lebih menghargai mainan yang dimilikinya.

Penulis: Khairil Rahim
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help