Pengakuan Algojo Mantan Anak Buah Duterte Memburu Kriminal Tanpa Pengadilan

Arturo Lascañas adalah seorang polisi senior Filipina dan pembunuh massal yang mengakui tindakannya.

Pengakuan Algojo Mantan Anak Buah Duterte Memburu Kriminal Tanpa Pengadilan
BBC Indonesia via kompas.com
Arturo Lascanas, mantan anggota skuat pembunuh yang mengaku berada di bawah komando Rodrigo Duterte ketika menjabat wali kota Davao, Filipina selatan. 

"Sejak saya berusia 21 tahun sampai pensiun, saya membunuh lebih dari 200 orag. Saya sendiri bertanggung jawab secara tidak langsung atas kematian dua saudara kandung karena kepatuhan buta, loyalitas buta pada aksi ini. Saya melihat diri saya sebagai korban.

"Saya memerintahkan pembunuhan terhadap dua saudara kandung saya. Kolega-kolega saya di kepolisian memberitahu saya bahwa adik saya terlibat narkoba. Saya malu kalau Wali Kota Rudi (Duterte) sampai tahu," katanya.

"Jadi saya bilang ke mereka bahwa mereka bisa beraksi terhadap adik saya. Jika dia melawan, tangkap dan bunuh dia. Dan dia pun dibunuh. Adik saya yang kedua juga sama. Saya bilang ke mereka 'beraksi terhadap adik saya dan jika melawan, bunuh. Dan dia dibunuh."

"Seingat saya, sebagian besar orang tidak melawan. Namun, perintah wali kota adalah melumpuhkan mereka. Kami akan menaruh pistol dan narkoba (pada mereka) sehingga terlihat aksi ini legal dan seperti ada perlawanan."

Sepanjang kariernya bersama skuat maut di Davao, Lascañas mengaku biasa dibayar antara 20.000 hingga 100.000 peso untuk setiap orang yang dibunuh.

Bahkan, menurutnya, dia menerima tunjangan dari kantor Duterte manakala yang bersangkutan masih menjabat wali kota.

Dia juga menuding Duterte memerintahkan pengeboman terhadap masjid dan pembunuhan terhadap seorang wartawan saat menjabat wali kota Davao.

Bukti-bukti yang dia sampaikan kepada Senat mendukung tudingan yang diajukan oleh mantan pembunuh bayaran, Edgar Matobato, pada 2016.

Duterte, melalui juru bicaranya, menepis tudingan itu "tidak berisi selain politik kejam".

"Komisi HAM, Kantor Ombudsman, Komisi Peradilan di Senat telah memastikan presiden tidak terlibat dalam pembunuhan tanpa pengadilan dan tidak terkait dalam skuat maut Davao," sebut sekretaris kepresidenan Filipina bidang komunikasi, Martin Andanar.

Halaman
1234
Editor: Ernawati
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved