BanjarmasinPost/

NEWS VIDEO

Pilihan Kuliner Jepang Makin Beragam Hadir di Banjarmasin

Jika dulu di Banjarmasin restoran Jepang hanya ada di hotel-hotel, maka sekarang yang kelas kaki lima dan kafe mulai menjamur.

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Belakangan ini, tempat makan yang menjual makanan Jepang mulai menjamur di Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin. Harga makanan yang dibanderol murah dan terjangkau oleh kocek anak muda, maka tak heran jika penggemarnya kebanyakan kalangan pelajar dan mahasiswa.

Tempat makan tersebut dari kelas kaki lima, kafe hingga restoran di hotel ada. Jika dulu di Banjarmasin restoran Jepang hanya ada di hotel-hotel, maka sekarang yang kelas kaki lima dan kafe mulai menjamur.

Tak sekadar makan, tempat-tempat ini sering dijadikan wadah nongkrong oleh mereka. Sekadar untuk kopi darat, bergaul dengan teman-teman sebaya mereka, eksis di dunia maya hingga dijadikan tempat belajar bareng untuk menghadapi ujian di kampus.

Sebut saja Ainun dan Tina yang pada Rabu (5/4/2017) malam bersama tiga teman mereka tampak nongkrong di sebuah kafe makanan Jepang murah di Banjarmasin. Mereka tampak menyantap beberapa mangkuk besar ramen atau mi khas Jepang.

Sembari mengobrol dan menyantap makanan, mereka sesekali mengutak-atik HP, browsing internet dan berfoto-foto selfie bahkan groufie. Usai berfoto, mereka melihat hasilnya dan tertawa-tawa bareng melihat ekspresi masing-masing di foto. Tak terasa, ramen di hadapan mereka habis, namun mereka belum juga beranjak pergi. Mereka masih melanjutkan berfoto dan mengobrol, sekadar nongkrong dan bercanda.

Tina mengaku sering berkunjung ke restoran itu. Selain karena dia penyuka makanan Jepang, tempatnya yang nyaman untuk sekadar nongkrong dan berkumpul dengan teman membuatnya senang mengunjungi restoran Jepang yang menjual makanan dengan harga murah tersebut.

Alasan lainnya senang nongkrong di situ karena sinyal internetnya gratis dan kencang. “Tempatnya enak buat nongkrong, tenang, makanan murah cuma Rp 25.000 seporsi dan yang penting bisa internetan gratis dan cepat,” ungkapnya.
Cepat dan gratisnya sinyal internet itu dimanfaatkannya untuk browsing di dunia maya. “Terkadang kami kumpul di sini buat belajar bareng untuk menghadapi ujian di kampus sambil makan-makan. Selain itu, saya suka makanan Jepang karena rasanya beda dengan masakan Indonesia yang rempahnya berasa sekali,” beber mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat ini.

Temannya, Ainun juga menyukai kuliner Jepang. Alasannya karena makanan Jepang unik, ada bahan mentahnya seperti nori (rumput laut) dan salmon. Dia senang nongkrong di kedai atau kafe Jepang kaki lima karena harganya murah, terjangkau oleh kocek mahasiswa dan porsinya mengenyangkan.

“Porsinya, misalnya di tempat yang saya suka ini, bisa setengah porsi namun tetap bisa kenyang. Selain harganya murah, minumannya gratis,” ujar penyuka gorengan Jepang, takoyaki ini.

Menurutnya, kuliner Jepang yang murah belakangan ini disukai anak muda Kalimantan Selatan karena banyak yang menyenangi kebudayaan Negeri Matahari Terbit itu seperti cosplay tokoh-tokoh anime. “Di sini sering ada bazar dan festival budaya Jepang yang menampilkan cosplay, ada bazar makanan Jepangnya, sepertinya karena itu anak-anak muda jadi senang dengan makanan Jepang. Memang sekarang ini nongkrong sambil makan kuliner Jepang yang murah-murah lagi tren banget,” sebutnya.

Penyuka makanan Jepang lainnya, Dita, juga senang memilih menyantapnya di gerai-gerai kaki lima. Selain karena harganya yang murah, suasana nongkrongnya yang nyaman juga menjadi alasannya.

Dia biasanya memilih nongkrong di gerai makanan Jepang di pameran atau bazar. “Saya nggak suka yang di restoran atau kafe gitu karena yang di pameran atau bazar lebih murah, terjangkau banget untuk kocek remaja seperti saya,” ujarnya.

Selain itu, di pameran dia bisa sekaligus nongkrong bareng teman dan keluarganya. “Suasananya lebih seru aja buat nongkrong, lebih asyik,” jelas penyuka nasi goreng Jepang atau yakimeshi ini.

Walau menyukai yakimeshi, dia juga mencoba kuliner Jepang lainnya yang dijual di sebuah gerai makanan Jepang kaki lima, yaitu sobayaki (mi goreng Jepang) dan takoyaki. Awal dia menyukai makanan Jepang karena sering melihatnya di pameran atau bazar lantas dia penasaran dan mencobanya. Ternyata dia menyukai. “Suka makanannya bukan karena saya penyuka kebudayaan Jepang, tetapi suka rasanya saja dan harganya murah cuma Rp 15.000 sudah kenyang,” urai warga Banjarbaru ini.

Penjual kuliner Jepang di Banjarmasin, Tommy Kaganangan biasanya membuka gerainya di pameran-pameran. Mengusung nama Ithomiyaki, dia menjual beberapa jenis kuliner Jepang seperti takoyaki, dorayaki, karage, sobayaki, ramen dan yakimeshi di harga Rp 10.000 hingga Rp 20.000. Dia juga menjual kuliner Korea, yaitu kimbab Rp 20.000 seporsi serta berbagai minuman.

Rasa yang ditawarkannya sudah menyesuaikan lidah orang Indonesia. “Kuliner Jepang lebih ke asin, sementara orang Indonesia, khususnya Banjar sukanya yang agak manis. Untuk nasi gorengnya saya pakai beras Banjar,” ujarnya, Kamis (7/4/2017) malam.

Bahan-bahannya dibelinya dari penyedia barangnya di Jakarta. Semua bahannya diimpor dari Jepang oleh penyedianya itu. Untuk menjamin kehalalannya dia memilih penyedia barang yang sudah memiliki sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia dan kode BPOM.

Pengunjung gerainya kebanyakan anak muda dari anak kecil hingga dewasa. “Anak kecil biasanya suka beli dorayaki dan karage, sementara yang remaja lebih ke ramen, yakimeshi dan sobayaki sedangkan yang dewasa sukanya yakimeshi,” ujarnya.

Kuliner Jepang banyak disukai anak muda Banua karena memang sedang tren saat ini. Sebabnya karena pengaruh kebudayaan Jepang yang merasuki anak-anak muda sekarang.

“Mereka makan makanan Jepang sambil nongkrong bareng teman, sukanya yang murah-murah, terus foto-foto, diupload ke media sosial, dipamerkan ke teman-temannya. Menurut saya mereka seperti itu supaya dianggap sebagai anak muda gaul, keren dan kekinian,” terangnya.

Penjual makanan Jepang lainnya, Takeichiroh Seike yang membuka restoran Ramen Akashi di Banjarmasin, melalui Manajer restorannya, Rudiyanto Tjandera mengatakan menu yang dijualnya hanya ramen. “Ada beberapa jenis ramen yang dijual di sini. Harga semua jenis makanan kami dijual dari Rp 25.000 hingga Rp 45.000, minuman semuanya gratis,” katanya.

Pengunjungnya kebanyakan kalangan muda usia remaja hingga dewasa. Mereka biasanya tak sekadar makan, namun juga nongkrong, berfoto-foto, internetan dan mengobrol. Pengunjung usia 40 tahun ke atas juga ada, namun biasanya mereka hanya makan bareng keluarga.

Restorannya ini hampir saban hari ramai dikunjungi anak-anak muda, khususnya lagi di akhir pekan. Mereka suka datang kemari karena chefnya, yaitu pemiliknya dan resepnya asli dari Jepang. Apalagi dijamin di sini bahannya tanpa campuran alkohol sehingga aman untuk anak muda Banjarmasin yang muslim dan fasilitas sinyal internetnya gratis dan bagus, membuat kaum millenial yang gandrung eksis di dunia maya makin betah.

Saking larisnya, restoran yang baru dibuka Januari 2017 lalu ini, hingga sekarang sudah memiliki tiga cabang di Banjarmasin yang dua di antaranya adalah usaha franchise. Dua di antara tiga cabangnya ini berupa gerobak di pinggir jalan saja namun sering ramai diserbu kawula muda.

Penjual makanan Jepang lainnya, Hartinah juga mengakui kebanyakan pengunjung kedainya adalah anak-anak muda dari usia pelajar hingga mahasiswa. Kedai Levitako yang dikelolanya bersama anaknya di Banjarbaru sudah beroperasi sejak tujuh tahun lalu. Dia menjual berbagai kuliner Jepang seperti takoyaki, teriyaki, curry chicken katsu, nigiri, nigiri tobiko, ramen, okonomiyaki (telur dadar Jepang) dan beberapa jenis sushi di harga dari Rp 10.000 hingga puluhan ribu rupiah.

“Anak-anak muda seperti pelajar SMA hingga mahasiswa yang sering makan di kedai saya. Mereka suka makanan Jepang mungkin karena sedang tren saja dan sukanya yang murah-murah,” terangnya.

Apalagi sekarang penyedia bahan bakunya sudah ada di Kalimantan Selatan. Bahkan di super market besar di sini juga sudah ada sehingga memudahkan para pelaku usahanya untuk membuat dan menjual kuliner Jepang.

Di Banjarmasin juga ada restoran Jepang di hotel seperti Sakaeru di Rattan Inn, Jalan Ahmad Yani Km 5. Restoran ini sudah hampir sepuluh tahun beroperasi.

Menghadapi persaingan karena maraknya kedai makanan Jepang kaki lima sekarang ini, manajemen hotel ini terus berupaya berbenah dari banyak aspek untuk menarik minat kaum muda. Dari menjaga kualitas makanan, keaslian rasa dan percaya diri dengan menu-menu yang dimiliki, selalu menggelar promosi-promosi menarik hingga memperbarui fasilitas restoran adalah upaya-upaya yang dilakukan.

“Guna menarik minat anak muda, kami selalu menggelar berbagai promosi harga dan memberikan kenyamanan tempat makan,” kata Public Relation Rattan Inn, Aji Kiswandono.

Makanan yang disajikan berupa ramen, sushi, soba, dan sebagainya. Harganya dari Rp 50.000 hingga ratusan ribu rupiah.

Pihaknya juga menjamin kuliner Jepang di hotel ini halal karena tak menggunakan bahan makanan asli Jepang yang diharamkan seperti alkohol karena di sini mayoritas muslim. “Misalnya, untuk bahan makanannya yang biasanya memakai mirin yang haram diganti dengan cuka beras yang halal. Rasanya mirip,” katanya. Mirin adalah bumbu masak Jepang beralkohol berbahan beras ketan, ragi dan arak shochu yang difermentasi.(Banjarmasin Post/Yayu Fathilal)

Penulis: Yayu Fathilal
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help