BanjarmasinPost/

Ketika Intimidasi Membuat Siswa Mati

memilukan, seorang murid meninggal hanya karena ulah oknum guru yang berbuat curang yang tidak terima kecurangannya diungkap.

Ketika Intimidasi Membuat Siswa Mati
istimewa
Muhammad Syamsuri MPd, guru SMAN 2 Kintap, Kabupaten Tanah Laut 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Dunia pendidikan kembali dikejutkan oleh pemberitaan tentang meninggalnya seorang siswi SMK Negeri 3 Padangsidempuan akibat meminum racun rumput karena diintimidasi oleh guru.

Intimidasi terjadi lantaran siswi tersebut mengunggah postingan di media sosial yang mengungkap kecurangan yang dilakukan oleh oknum guru saat Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) di sekolahnya.

Sungguh memilukan, seorang generasi penerus bangsa harus meninggal hanya karena ulah oknum guru yang berbuat curang yang tidak terima kecurangannya diketahui orang lain.

Guru harus ingat, ketika melaksanakan tugas mendidik harus meniadakan tindakan kekerasan terhadap anak. Konsekuensi (hukuman) yang diberikan harus memperhatikan kaidah-kaidah.

UU Guru dan Dosen pasal 14 huruf (f) yang menyebutkan dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berhak memiliki kebebasan memberi penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik.

Namun harus sesuai kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.

Apalagi jika tindakan guru tersebut tidak berkaitan dengan tugas mendidik, hanya untuk menutupi kecurangan yang telah dilakukan.

Merujuk UU 35/2014 pasal 1 tentang Perlindungan Anak, kekerasan adalah tiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran.

Termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.

Pasal 9 ayat 1 secara tegas menyatakan tiap anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dari kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

Pasal 54 kembali menegaskan bahwa anak di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

Itulah penggalan ulasan mengenai ihwal persoalan kekerasan dalam dunia pendidikan yang dipaparkan Muhammad Syamsuri MPd (guru SMAN 2 Kintap, Kabupaten Tanah Laut).

Selengkapnya simak di Banjarmasin Post edisi, Sabtu (22/04/2017).

Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help