BPost Edisi cetak

Sehari Transaksi Cuma Rp 200 Ribu, Ternyata Masyarakat Lebih Suka Bayar Tunai

Sejak pencanangan Gerakan Nasional Non-Tunai oleh Bank Indonesia pada 14 Agustus 2014, perbankan semakin gencar mempromosikan

Sehari Transaksi Cuma Rp 200 Ribu, Ternyata Masyarakat Lebih Suka Bayar Tunai
dokumen
BPost edisi Jumat (21/4/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Transaksi pembayaran nontunai sekarang tidak hanya bisa dilakukan di mall atau toko besar yang ada di perkotaan. Pembayaran nontunai sudah bisa dilakukan di toko kelontong kawasan pinggiran kota, yang tentu sudah bekerja sama dengan perbankan dan tersedia mesin Electronic Data Capture (EDC).

Sejak pencanangan Gerakan Nasional Non-Tunai oleh Bank Indonesia pada 14 Agustus 2014, perbankan semakin gencar mempromosikan pembayaran nontunai. Instrumen pembayaran nontunai sekarang ini banyak ditawarkan oleh bank, baik melalui kartu debit, kartu kredit, kartu ATM maupun uang elektronik. Kartu itu cukup digesek melalui mesin EDC guna melakukan pembayaran di sejumlah merchant.

Mesin EDC adalah mesin gesek yang digunakan untuk melakukan transaksi secara elektronik menggunakan kartu kredit, kartu debit dan kartu prepaid yang diletakkan di merchants.

Nasabah tak perlu repot-repot membawa uang tunai untuk melakukan transaksi pembayaran. Cukup membawa kartu debet atau kredit dan gesek.

Sejumlah bank telah menempatkan mesin EDC di sejumlah merchant guna memudahkan transaksi pembayaran, mulai pusat perbelanjaan seperti mal, minimarket, pom bensin, restoran dan rumah makan, toko bahan bangunan dan lainnya.

Beberapa transaksi nontunai yakni transaksi melalui internet banking, SMS banking, mobile banking, automated teller machine (ATM), kartu kredit dan kartu debet serta transaksi melalui mesin EDC.

GNNT merupakan upaya Bank Indonesia mewujudkan less cash society, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai masyarakat yang semakin sedikit memanfaatkan uang tunai dalam transaksi sehari-hari.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan menginisiasi gerakan Less Cash Society ini di Kalsel sejak 2014. Dimulai penggunaan transaksi nontunai di Koperasi Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin yang dulunya masih bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin.

Selanjutnya di 2015 bekerja sama dengan Pemko Banjarmasin untuk melaksanakan elektronifikasi. “Elektronifikasi itu penggunaan transaksi nontunai dalam berbagai keperluan di lingkungan Pemko Banjarmasin seperti pembayaran gaji atau honor karyawan, pajak, retribusi dan lain-lain,” kata Harymurthy Gunawan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalsel.

Hary berujar, Less Cash Society seharusnya dapat mulai diterapkan pada berbagai jenis transaksi mulai dari person to person payment (P to P Payment), person to business payment (P to B Payment), business to business payment (B to B Payment), government to person (G to P Payment), dan person to government payment (P to G Payment).

Selengkapnya baca harian Banjarmasin Post hari ini, Jumat (21/4/2017), atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

BPost edisi Jumat (21/4/2017)
BPost edisi Jumat (21/4/2017) (dokumen)
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved