Banjarmasin Post Edisi Cetak

Dosen Fakultas Kehutanan ULM Abdi Fithria: Pohon Sawit Rakus Unsur Hara

Di Kalimantan Selatan beberapa tahun terakhir ini sangat masif mengenai alih fungsi lahan dari hutan menjadi lahan pertambangan dan perkebunan sawit.

Dosen Fakultas Kehutanan ULM Abdi Fithria: Pohon Sawit Rakus Unsur Hara

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Konservasi akan selalu terkait kelestarian ragam hayati terutama flora dan fauna. Di Kalimantan Selatan beberapa tahun terakhir ini sangat masif mengenai alih fungsi lahan dari hutan menjadi lahan pertambangan dan lahan perkebunan sawit.

Secara langsung akan berakibat berkurangnya ragam hayati (flora dan fauna), yang banyak sekali belum kita ketahui manfaatnya jenis perjenis dari spesies flora dan fauna tersebut. Perubahan fungsi lahan juga berakibat terputusnya rantai makanan alami yang ada di alam, dan mengurangi cadangan karbon, sehingga akan mempengaruhi secara signifikan terhadap perubahan iklim.

Terkait banyaknya perusahaan tambang dan perusahaan perkebunan sawit yang seharusnya setiap perusahaan mempunyai lahan HCVF (High Conservation Value Forest) yang berfungsi sebagai lahan yang diperuntukkan untuk ragam hayati dapat hidup.

Pekerjaan rehabilitasi lahan yang sudah tidak berhumus bukanlah suatu hal mudah dan murah, karena akan sangat sulit menumbuhkan pohon di lahan gersang. Perlu kesesuaian lahan, kesabaran, dan pemeliharaan yang intensif.

Kalau kita lihat dari udara sudah banyak sekali lahan lahan yang gersang, dan danau-danau akibat alih fungsi lahan, sehingga perlu secepatnya melakukan rehabilitasi lahan untuk meminimalisir bencana banjir dan tanah longsor.

Selain itu sudah banyak sekali lahan lahan hutan yang menjadi perkebunan sawit (monokultur). Seperti kita ketahui tanaman sawit merupakan tanaman yang rakus akan unsur hara. Sehingga tanah/lahan yang sudah menjadi perkebunan sawit akan menjadi miskin hara.

Bila tanaman sawit sudah tidak produktif lagi maka akan susah sekali untuk memulihkan lahan tersebut, karena sudah tidak ada unsur haranya lagi.

Mengenai pembangunan hutan konservasi di HSU seluas 1000 Ha, saya sangat setuju, karena lokasi itu masih dihuni oleh ragam hayati yang mewakili hutan dipterocarpaceae dataran rendah dan hutan rawa..

Selain itu juga banyak ragam hayati satwa liar yang hidup di sana, termasuk orangutan Borneo, bekantan, beruang madu, macan dahan, ragam burung, mamalia, reptilia, dan lain-lain.

Akan tetapi berdasar informasi masyarakat yang ada di sekitar hutan, ada perusahaan sawit menginginkan hutan tersebut dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit.

Jika informasi dari masyarakat setempat tersebut benar, maka ini akan menjadi petaka besar bagi ragam flora dan fauna yang ada, dan akan dapat mengeringkan sumber air yang ada, sehingga masyarakat akan mengalami kesulitan dalam mencari air yang layak untuk dikonsumsi.

Selain itu, masyarakat sekitar tidak akan dapat mencari ikan, karena rawa yang merupakan habitat dari macam macam ikan sudah rusak akibat perkebunan sawit. (kur)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved