Ekonomi Bisnis

[VIDEO] Kreatif Pengrajin Amplang Haruan Chelsea Jalan Bandarmasih, Sebulan Produksi 1,2 Ton

Seorang perempuan parobaya dengan rambut diikat kuda, tampak sibuk menggiling sebaskom fillet daging ikan haruan.

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Seorang perempuan parobaya dengan rambut ditutup kain, tampak sibuk menggiling sebaskom fillet daging ikan haruan. Sembari duduk lesehan, dia mengambil daging ikan haruan segenggam demi segenggam lalu memasukkan ke dalam mesin penggiling otomatis.

Daging ikan yang telah hancur itu, lalu diserahkan kepada rekannya untuk dicampur bumbu dan tepung tapioka sebelum diadon hingga bertekstur sedikit elastis. Setelah itu adonan dibentuk memanjang kemudian dipotong lalu digoreng menjadi amplang.

Begitulah aktivitas pengerajin Amplang Chelsea yang berlokasi di Jalan Bandarmasih Kompleks DPR Gang V Kota Banjarmasin, Selasa (25/4/2017) siang. Aktivitas produksi ini berlangsung dari Senin sampai Jumat.

Pasangan Toby Yanto Susilo dan Andriani menjalankan usaha rumahan itu dibantu tiga orang pekerja, termasuk anak pertamanya Ledy Deanna Susilo yang bertugas di bagian pemasaran dan promosi.

Dalam sehari mereka rata-rata mampu menghasilkan sekitar 30 kilogram amplang, atau sekitar 300-400 bungkus dengan berat masing-masing sekitar 100 gram. Jika permintaan sedang banyak, produksi bahkan bisa mencapai 1.000 bungkus. Dan jika dirata-rata per bulan selama 26 hari kerja, mampu produksi 1,2 ton amplang. Harga per bungkusnya dibanderol kisaran Rp 10.000.

Ikan haruan yang digunakan adalah ikan haruan segar yang dibeli di penjual ikan langganan mereka di terminal ikan air tawar Bandarmasih. Sekali beli ikan 20 kg, yang langsung dibersihkan dan hanya diambil bagian dagingnya. Sebelum diolah, ikan didinginkan di lemari pendingin semalaman.

“Kami sengaja mencari yang berbeda dari produk amplang lainnya. Kami gunakan haruan karena masih cukup mudah dijumpai. Selain itu, kandungan albumin pada haruan sangat berkhasiat dan rendah alergi, jadi aman dikonsumsi siapa saja,” kata Andriani di sela-sela kesibukan mengemas amplang yang selesai digoreng.

Meski tanpa bahan pengawt, amplang buatannya bisa bertahan hingga 3 bulan. Tentu dengan syarat kemasan tetap utuh dan tidak cacat.

Produknya ini dipasarkan di banyak minimarket dan toko oleh-oleh di Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, bahkan Surabaya. Di toko ritel Indomaret pun ada. Toko berjaringan nasional ini bahkan disuplai dua kali dalam sebulan dengan total 3.500 bungkus. Untuk promosi, selain dari mulut ke mulut juga dilakukan melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram yang dikelola anaknya, Ledy Deanna.

Andriani berharap bantuan pemerintah selama ini sudah ada seperti memberikan pembinaan usaha melalui seminar dan pelatihan. Tapi dirinya juga berharap pemerintah atau instansi terkait bisa membantu dalam hal peralatan, bila perlu modal usaha agar lebih berkembang.

Di tengah persaingan usaha produk sejenis yang kian sengit, memang diperlukan inovasi agar tetap bertahan dan mendapat tempat di hati pelanggan. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah terus berkreasi dan menciptakan ciri khas agar tampil beda. (BANJARMASINPOST.CO.ID/TIM)

Editor: Syaiful Akhyar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved