BPost Edisi cetak

Kalau Tak Mau Bangkrut, Ini Kiat Perajin Amplang Supaya Terus Eksis

Begitulah aktivitas perajin Amplang Chelsea yang berlokasi di Jalan Bandarmasih Kompleks DPR Gang V Banjarmasin

Kalau Tak Mau Bangkrut, Ini Kiat Perajin Amplang Supaya Terus Eksis
Istimewa
BPost edisi Jumat (28/4/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEORANG perempuan parobaya memakai kain penutup rambut, sibuk menggiling sebaskom fillet daging ikan haruan. Sembari duduk lesehan, dia mengambil daging ikan haruan segenggam demi segenggam lalu memasukkan ke dalam mesin penggiling otomatis.

Daging ikan yang telah hancur itu, lalu diserahkan kepada rekannya untuk dicampur bumbu dan tepung tapioka sebelum diadon hingga bertekstur sedikit elastis. Setelah itu adonan dibentuk memanjang kemudian dipotong lalu digoreng menjadi amplang.

Begitulah aktivitas perajin Amplang Chelsea yang berlokasi di Jalan Bandarmasih Kompleks DPR Gang V Banjarmasin, Selasa (25/4) siang. Aktivitas produksi ini berlangsung dari Senin sampai Jumat.

Adalah pasangan Toby Yanto Susilo dan Andriani menjalankan usaha rumahan dibantu tiga pekerja, termasuk anak pertamanya Ledy Deanna Susilo yang bertugas di bagian pemasaran dan promosi.

Dalam sehari mereka rata-rata mampu menghasilkan 30 kilogram amplang, atau sekitar 300-400 bungkus dengan berat masing-masing sekitar 100 gram. Jika permintaan sedang banyak, produksi bisa mencapai 1.000 bungkus. Dan, jika dirata-rata per bulan selama 26 hari kerja, mampu produksi 1,2 ton amplang. Harga per bungkus amplang produk Toby dibanderol kisaran Rp 10.000.

Ikan haruan yang digunakan adalah ikan haruan segar yang dibeli pada penjual ikan langganan di terminal ikan air tawar Bandarmasih. Sekali beli ikan 20 kg, yang langsung dibersihkan dan hanya diambil bagian dagingnya. Sebelum diolah, ikan didinginkan di lemari pendingin semalaman.

“Kami sengaja mencari yang berbeda dari produk amplang lainnya. Kami gunakan haruan karena masih cukup mudah dijumpai. Selain itu, kandungan albumin ikan haruan sangat berkhasiat dan rendah alergi, jadi aman dikonsumsi siapa saja,” kata Andriani di sela-sela kesibukan mengemas amplang yang selesai digoreng.

Amplang yang telah selesai digoreng an ditiriskan harus segera dikemas agar kerenyahannya tetap terjaga. Maklum, amplang ini tidak menggunakan bahan pengawet. Namun dengan pengolahan yang tepat dan kemasan plastik ketebalan 0,10 milimeter, mampu membuat amplang buatannya bertahan hingga 3 bulan.

Produknya dipasarkan di banyak minimarket dan toko oleh-oleh di Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, bahkan Surabaya. Di toko ritel Indomaret pun ada. Toko berjaringan nasional ini bahkan disuplai dua kali dalam sebulan dengan total 3.500 bungkus.

Selengkapnya baca harian Banjarmasin Post hari ini, Jumat (28/4/2017), atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

BPost edisi Jumat (28/4/2017)
BPost edisi Jumat (28/4/2017) (istimewa)
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved