Berita Hulu Sungai Tengah

Motif Dayak Meratus Diadopsi ke Sasirangan, Ini yang Dilakukan Masfah ke Ibu Negara

Seperti Kelompok Usaha Anggrek Sasirangan. Mulai merintis usaha pada 2014 lalu, Masfah, Saleh dan Rahimah menangkap peluang usaha sasirangan

Motif Dayak Meratus Diadopsi ke Sasirangan, Ini yang Dilakukan Masfah ke Ibu Negara
Istimewa
BPost edisi Senin (1/5/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - INDUSTRI kain sasirangan, produk hand made khas Kalsel, semakin berkembang. Kini makin banyak instansi pemerintah maupun swasta menggunakan sasirangan, sebagai kostum seragam. Hal itu pula memicu perajin di Hulu Sungai Tengah melakukan inovasi produk, baik dari sisi motif maupun teknik pewarnaan.

Seperti Kelompok Usaha Anggrek Sasirangan. Mulai merintis usaha pada 2014 lalu, Masfah, Saleh dan Rahimah menangkap peluang usaha sasirangan masih terbuka lebar. Berlatar belakang wirausaha hasil mengikuti pelatihan program pemerintah daerah, Masfah Cs memberanikan diri membuka usaha kelompok.

Menyewa tempat di pinggir jalan Mandingin, Barabai, akhirnya masyarakat pencinta sasirangan mempercayai produk hasil olahan Masfah. Pesanan terus berdatangan, hingga kadang Masfah berbagi rezeki dengan kelompok usaha lainnya.

“ Itu, jika pesanan banyak, dan pemesan memberikan deadline waktu sempit menyelesaikan pesanan,” tutur Masfah dan Saleh, ditemui di home industri Anggrek Sasirangan, Sabtu (29/4/) tadi.

Ketatnya persaingan antarperajin dengan daerah lain di Kalsel, membuat Masfah dan kawan-kawan melakukan inovasi produk. Mereka mencoba menciptakan motif baru, khas suku Dayak Meratus ke dalam motif sasirangan dan mengolaborasinya dengan motif sasirangan klasik. “Alhamdulillah uji coba membuat motif baru ini mengantarkan kami menjadi juara III desain motif pada Lomba di tingkat Provinsi Kalsel 2016 lalu,”tutur Masfah.

Adapun motif dayak diadopsi ke sasirangan, adalah motif perisai. Saleh, anggota kelompok usaha, mendesainnya dengan melihat motif-motif di bakul dan butah suku Dayak Meratus di Kecamatan Hantakan dan Batangalai Timur.

Menurut dia, memasukkan unsur etnik Dayak, merupakan pengayaan khasanah budaya Kalsel. Dayak merupakan salah satu dari tiga suku di Kalsel, selain Suku Banjar Kuala dan Banjar Pahuluan.

Meski masih diproduksi dalam jumlah terbatas, sasirangan motif Dayak mulai mencuri perhatian pencinta produk hand made ini. Buktinya, jelas Masfah, banyak yang menjadikan motif khas dayak sebagai oleh-oleh atau cindera mata untuk dibawa ke daerah lain. Seperti di bawa ke pulau Jawa dan Sumatera.

Motif Dayak berbeda dengan sasirangan daerah lain membuat para ibu-ibu TP PKK, membantu mempromosikannya. Dimulai pemakaian produk di kalangan ibu-ibu pejabat di HST, hingga membawanya pada berbagai kesempatan pameran.

Pada 25 April lalu, dalam rangka peringatan Hari Kartini, stand HST mempromosikan sasirangan motif dayak. Saat itu stand HST disinggahi ibu negara Iriana Joko Widodo danHj Mufidah Jusuf Kalla dan rombongan.

“Kami tak ikut saat pameran. Kami hanya menitipkan produk melalui Dekranasda HST dan TP PKK HST,”jelas Masfah.

Masfah berujar, prosfek usaha sasirangan sebenarnya sangat menjanjikan. Kendala yang dihadapi, selain pemasaran masih terbatas pesanan, juga kesulitan membiayai sewa tempat usaha yang kian mahal.

Selengkapnya baca harian Banjarmasin Post hari ini, Senin (1/5/2017), atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

BPost edisi Senin (1/5/2017)
BPost edisi Senin (1/5/2017) (istimewa)
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help