Berita Kotabaru

Sering Jatuh Sakit, Kepala Dinas di Kotabaru Ini Pilih Jadi Pengusaha Minuman Herbal Jahe

Haji Tomo panggilan akrab Adi Sutomo mengembangkan tanaman jahe merah kurang dari setahun terakhir.

Sering Jatuh Sakit, Kepala Dinas di Kotabaru Ini Pilih Jadi Pengusaha Minuman Herbal Jahe

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) tak menghalangi Adi Sutomo untuk memulai usaha rumahan. Padahal dia juga harus mengemban tugas sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) dan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Satpol PP Kotabaru.

Haji Tomo panggilan akrab Adi Sutomo mengembangkan tanaman jahe merah kurang dari setahun terakhir.

Jumat (28/4) sore, sambil bersila di apar-apar kayu, Tomo memilah tumpukan jahe merah lebih dari satu kuintal atau 100 kilogram yang baru dipanennya. Ada jahe yang dimasukkan ke keranjang khusus bibit, ada pula yang dijadikan bahan untuk minuman herbal.

Setelah berjam-jam duduk dan merasa penat, Tomo beranjak dari apar-apar menuju tumpukan tanah di dekatnya. Tumpukan tanah yang sudah dicampur pupuk itu lalu diaduknya menggunakan sedikit air sampai menyatu. Selanjutnya tanah berpupuk dimasukkannya ke sebuah ember berukuran sedang.

Ember kemudian dibawa ke pekarangan rumah seluas 20x20 meter persegi untuk disebar. Di sana terdapat tanaman jahe merah. Ada yang baru disemai sebelum dipindahkan ke dalam polibek, ada juga yang berusia sekitar empat bulan.

Setelah memupuk jahenya, Tomo memindahkan beberapa bibit jahe dari sebuah kotak kayu ke dalam polibek. Dia kemudian memasukkan pupuk ke dalam polibek berisi jahe.

“Sudah selesai. Setelah ini baru menyiram tanaman supaya segar,” kata Tomo sembari menarik selang yang didesain khusus menyiram tanamannya.

Kepada BPost, Tomo mengungkapkan munculnya ide membudidayakan jahe merah berawal saat dirinya sering sakit. Selain rentan masuk angin, dia kerap susah buang air besar.

“Tapi begitu diberi minum jahe yang dijual di warung minum oleh pedagang yang jualan jahe, badan terasa enak dan buang air besar pun tidak susah lagi,” ujarnya.

Dia pun mencoba menanam jahe di pekarangan. Tak disangka, tanaman tumbuh subur. Hasil bukan saja untuk dikonsumsi sendiri, tetapi bisa dijual. Tomo pun mengolahnya menjadi minuman instan.

Bahkan, kini dia dibantu TP PKK Kabupaten Kotabaru untuk mengembangkan produk tersebut. Produk yang dikemas dalam ukuran 20 gram dan diberi nama Minuman Herbal Haji Tomo itu mulai dipromosikan baik melalui rekan kerja maupun online.

“Sejak dipromosikan hampir setiap hari ada yang datang membeli. Memang belum banyak jumlah yang dibeli antara 20 sampai 30 bungkus,” jelasnya.

Untuk saat ini dia belum bisa memproduksi dalam jumlah banyak. Ini disebabkan kurangnya bahan baku dan minimnya peralatan pengemasan.

“Saat ini ada dua jenis yang diolah dalam kemasan. Sari jahe merah dengan campuran gula aren serta krimer, dan sari jahe merah dengan campuran gula putih dan krimer. “Untuk campuran gula aren per bungkus Rp 6.000, sedang campuran gula putih Rp 3.000,” katanya.

Untuk meningkatkan produksi, Tomo menyiapkan lahan khusus kebun jahe merah serta aren. “Mudah-mudahan dapat memenuhi kebutuhan lokal,” tandasnya. (sah)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved